
Erlangga baru saja selesai meeting membahas proyek baru sekaligus penandatanganan kontrak dengan kliennya. Kemarin ia terpaksa harus pulang ke Jakarta karena Dewo menghubunginya dan mengatakan sang klien ingin jadwal rapatnya di majukan.
Baru saja kemarin Erlangga berpisah dengan Elfira, sekarang ia sudah merindukan wanita itu. Erlangga mengambil ponselnya dari saku celana lalu menghubungi Elfira. Ia ingin mendengar suara Elfira untuk melepas rindu.
Panggilannya tersambung, namun Elfira belum menjawabnya hingga panggilannya berakhir. Erlangga mencoba sekali lagi, masih tetap tak di jawab membuat Erlangga jadi gelisah.
"Elfira kemana sih, kenapa panggilanku tak di jawab," gumam Erlangga sambil menatap layar ponselnya. "Aku coba sekali lagi deh." Erlangga kembali menghubungi Elfira.
Nada sambungnya kembali berbunyi namun masih belum di jawab hingga deringan keempat barulah terdengar suara seorang laki-laki yang tak asing di telinga Erlangga.
"Halo!" sapa Reza saat menjawab panggilan di ponsel Elfira yang terus saja berdering. "Halo!" sapa Reza sekali lagi karena Erlangga masih belum membalas sapaannya.
"Dimana Fira?" tanya Erlangga setelah lama ia terdiam.
"Fira lagi di toilet nemenin Anin buang air kecil," jawab Reza. "Ada pesan buat Fira? Nanti biar saya sampaikan."
"Tidak perlu," balas Erlangga ketus. Panggilan pun langsung di putus secara sepihak oleh Erlangga, sementara Reza menatap heran pada layar ponsel Elfira.
Erlangga menggeram kesal setelah memutuskan panggilannya. Maksud hati ingin melepaskan rindu, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Hatinya terbakar api cemburu saat mendengar suara laki-laki yang menjawab telepon Elfira.
...****************...
Pintu ruangan Erlangga tiba-tiba terbuka, Jessica masuk sebelum si pemilik ruangan mengijinkannya. Seharian ini suasana hatinya sedang kacau, dan sekarang semakin bertambah kacau ketika melihat kedatangan Jessica yang tersenyum padanya seolah-olah ia tak pernah melakukan kesalahan pada Erlangga. Padahal dia adalah penyebab hubungannya dengan Elfira berantakan dan membuat wanita yang dicintainya pergi meninggalkan dirinya.
"Hai!" sapa Jessica sambil berjalan mendekati Erlangga, tak dihiraukannya tatapan Erlangga yang begitu tajam.
"Stop! Berhenti di situ!" seru Erlangga menghentikan langkah kaki Jessica. "Masih berani kamu datang ke kantor saya setelah apa yang sudah kamu lakukan," ucap Erlangga sambil menatap tajam pada Jessica.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Jessica bertanya seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa.
"Sepertinya saya terlalu baik sama kamu ya. Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum saya memanggil satpam dan membawa paksa kamu." Erlangga mencoba mengancam Jessica.
Tapi sepertinya ancaman Erlangga tak berarti apa-apa buat Jessica. Buktinya ia tetap diam di tempatnya dan tak menghiraukan ancaman lelaki itu.
"Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu. Aku gak peduli sama sekali Erlangga."
Erlangga menyeringai menatap Jessica yang sepertinya tidak takut sama sekali dengan ancamannya. "Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa? Harusnya kamu cari tahu dulu sebelum mencari masalah denganku."
__ADS_1
"Seperti yang sudah ku katakan tadi, aku tidak takut dengan ancaman kamu. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan hubungan kamu dengan perempuan kampung itu." Jessica berkata sinis membuat Erlangga mengepalkan kedua tangannya.
Dia tidak terima mendengar wanita yang dicintainya dihina seperti itu. "Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku murka," ucap Erlangga penuh penekanan.
"Oke. Aku akan pergi, tapi ingat ya Erlangga. Aku akan terus melakukan segala cara untuk memisahkan kamu dengan perempuan itu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkannya hidup bahagia."
Seelah berkata demikian, Jessica pun pergi lalu menutup pintu ruangan Erlangga dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang kuat.
Erlangga mendesah frustasi, masalahnya dengan Elfira saja belum selesai sekarang ditambah lagi dengan Jessica yang akan terus mengganggu hidupnya.
...****************...
"Makasih ya Za, sudah mau mengajak kami jalan-jalan," ucap Elfira setelah mereka sampai di rumah bukde Mila.
"Sama-sama Fir, kalo gitu aku pulang dulu ya."
"Iya Za, salam buat mama kamu ya."
Reza mengangguk lalu berbalik pergi meninggalkan rumah bukde Mila. Namun, baru satu langkah Reza sudah kembali berbalik menghadap Elfira.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" tanya Elfira.
"Oh ya? Dia bilang apa?"
"Gak ada, langsung dimatiin. Kamu coba hubungi balik, siapa tahu penting."
"Nanti pasti aku telepon balik, sekali lagi makasih ya Za."
"Oke."
Reza kembali membalikkan badannya, kali ini ia benar-benar pergi meninggalkan rumah bukde Mila. Setelah kepergian Reza, Elfira pun segera masuk ke dalam rumah. Sejak tadi bahunya terasa kram karena menggendong Anin yang tertidur saat perjalanan pulang.
Malam hari Elfira duduk di teras rumah bukde Mila sambil memegangi ponselnya. Ia sedang menimbang-nimbang apakah harus menghubungi Erlangga atau tidak. Saat sedang menimbang, tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Erlangga yang tertera di sana.
Tak ingin membuat Erlangga menunggu lama, Elfira segera menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan Erlangga.
"Halo Fir, kamu masih di rumah bukde kamu kan?" tanya Erlangga melalui sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Iya Er, emangnya kenapa?"
"Gak apa-apa, lima menit lagi aku sampai." Erlangga langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberikan kesempatan pada Elfira untuk berbicara.
Sesuai perkataan Erlangga tadi, lelaki itu beneran sampai di rumah bukde Mila dalam waktu lima menit. Tak tanggung-tanggung, ia sampai membawa koper segala.
"Kamu ngapain bawa koper segala, memangnya mau menginap?" tanya Elfira begitu Erlangga berada dihadapannya.
"Hehe. Bolehkan?"
Elfira sampai melongo tak percaya mendengar jawaban Erlangga. Bisa-bisanya dia mengatakannya dengan santai. Bagaimana mungkin Elfira membiarkan lelaki itu menginap di rumah bukde Mila sementara di rumah itu tidak ada laki-laki. Ditambah lagi Elfira dan Erlangga tidak memiliki ikatan apapun.
Bisa-bisa mereka akan di amuk oleh warga sekitar jika ia membiarkan Erlangga menginap di rumah bukde Mila. Elfira berfikir sejenak sebelum memutuskan apakah Erlangga boleh menginap atau tidak.
Di saat Elfira sedang kebingungan, tiba-tiba Reza datang dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Elfira dan Erlangga sama-sama menoleh ke arah Reza, seketika senyuman Elfira terbit di bibir merahnya.
'Pucuk di cinta ulam pun tiba,' batin Elfira.
"Waalaikumsalam," jawab Elfira dan Erlangga bersamaan.
"Pas sekali kamu datang Za," ucap Elfira yang langsung mendapat tatapan bingung dari Reza dan juga Erlangga.
"Kenapa? Kayaknya kamu lagi nunggu kedatangan aku ya." Dengan PD-nya Reza berkata demikian. Erlangga langsung menatap tak suka pada Reza.
"Bukan gitu, aku cuma mau minta tolong sama kamu."
"Mau minta tolong apa?" tanya Reza yang masih penasaran.
Elfira menatap Erlangga lalu tersenyum penuh arti pada lelaki itu, kemudian beralih menatap Reza. "Tolong ijinkan Erlangga menginap di rumah kamu ya."
"Apa!"
Erlangga dan Reza sama-sama terkejut mendengar ucapan Elfira. Keduanya pun saling pandang lalu sedetik kemudian saling membuang muka.
__ADS_1
Elfira hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dua laki-laki dewasa yang ada dihadapannya itu.
...****************...