Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 2


__ADS_3

Lima belas menit berlalu setelah papa dan bundanya pulang, tapi Ken tetap diam dan tak bersuara sedikitpun. Anin ikut sedih melihat adiknya yang hanya diam saja setelah di marahi oleh sang ayah, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Erlangga sudah marah dan membuat keputusan maka tak ada yang bisa membantahnya.


"Ken!" panggil Anin lalu mendekatinya. "Kamu yang sabar ya, papa melakukan ini juga demi kebaikan kamu," lanjutnya.


"Kebaikan apanya, papa memang gak pernah sayang sama aku."


"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu," tegur Anin.


"Memang begitu kan kenyataannya."


Anin berdiri tepat di sebelah Kenan lalu memeluk adiknya. Pelukan seorang kakak yang membuat Kenan merasa nyaman. Setelah di rasa adiknya sudah cukup tenang, Anin pun melepaskan pelukannya.


"Papa tuh sayang banget sama kamu Ken, kamu anak laki-laki papa satu-satunya dan kamu itu harapan papa."


"Maksud kakak?" tanya Kenan tak mengerti.


"Papa mau kamu menjadi penerus papa, suatu saat nanti kamu yang akan menggantikan papa memimpin perusahaan."


"Kenapa harus aku? Kenapa gak kakak aja."


Anin tersenyum mendengar ucapan sang adik, Anin merasa dia tak pantas untuk menggantikan sang ayah menjadi pemimpin perusahaan. Anin hanyalah anak tiri Erlangga, sementara Kenan anak kandung. Lagi pula Anin lebih menyukai fashion daripada desain bangunan.


"Kakak kan pintar, bahkan lebih pintar dari aku, dan aku yakin banget, kalo kakak bisa menjadi pemimpin yang baik menggantikan papa."


"Nggak Ken, meskipun perusahaan papa bergerak di bidang desain, tapi kakak lebih suka fashion."


"Lah! Kalo kakak aja gak mau, apa lagi aku yang gak tertarik sama sekali di bidang desain. Aku tuh sukanya otomotif sama fotografi kak."


"Tapi biar gimana pun kamu yang tetap akan menjadi penerus papa. Udah ah, kenapa jadi bahas ini sih." Anin pun bangkit dan berjalan ke arah sofa mengambil tas nya.


"Kakak mau keluar dulu cari makan, kamu mau nitip gak?"


"Nggak deh, aku belum lapar."


"Ya udah kalo gitu." Anin membalikkan badan dan keluar dari ruangan Kenan.


****************


Anin pergi ke sebuah cafe yang berada di seberang rumah sakit, sejak tadi perutnya sudah keroncongan. Kebetulan di cafe itu sedang tidak ramai pengunjung, mungkin karena hari biasa makanya orang-orang malas untuk keluar.


Setelah memesankan makanannya, Anin pun duduk di kursi kosong yang berada di dekat dengan dinding kaca. Sengaja ia memilih duduk di sana agar ia bisa makan sambil menikmati pemandangan di luar cafe.


Di luar cafe, Anin melihat ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sang wanita terlihat sedang memohon-mohon tapi si pria sepertinya tampak acuh, bahkan pria tersebut beberapa kali menepis tangan wanitanya saat si wanita menyentuh lengannya.

__ADS_1


Karena tak ingin ketahuan jika sedang memperhatikan mereka, Anin pun memalingkan pandangannya dan memainkan ponsel. Ada panggilan masuk dari Kenan, Anin segera menjawab panggilan tersebut.


"Hmm," sapa Anin yang hanya berdeham saja.


"Kakak dimana?"


"Di cafe seberang rumah sakit, kenapa?"


"Aku nitip makanan dong."


"Tadi katanya belum lapar."


"Itu kan tadi, sekarang aku udah lapar. Nitip ya."


"Hmm. mau nitip apa?"


"Mie goreng aja deh, sama matcha latte."


"Oke."


Panggilan pun berakhir, Anin kembali menyantap makanannya. Saat Anin sedang menikmati makanannya sambil bermain ponsel melihat postingan-postingan orang di sosial media, tiba-tiba ada seorang pria yang langsung duduk disebelahnya tanpa permisi.


"Maaf ya sayang, aku telat. Kamu udah nunggu lama ya?" ucap pria itu.


Tapi tunggu dulu, sepertinya Anin pernah melihat pria ini. Tapi dimana ya? Ah, Anin ingat sekarang. Pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang tadi dilihatnya sedang bertengkar bersama pacarnya. Tapi, kenapa dia ada di sini dan malah menghampiri Anin?


"Kamu si-"


Belum sempat Anin bertanya, pria itu langsung menggenggam erat tangannya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Tolongin gue, lo harus pura-pura jadi cewek gue."


"Tap-"


"Kalo lo nolak, gue cium lo sekarang juga," ancam pria yang tak diketahui siapa namanya itu.


Anin melotot, ia terkejut mendengar ancaman dari pria di sampingnya. Sementara pria itu hanya menatapnya dingin dan tanpa ekspresi. Tak lama kemudian, datang seorang wanita dengan raut wajah kesal menghampiri meja Anin.


"Ini kan cewek yang tadi," bisik Anin dalam hati.


"Oh, jadi karena cewek ini kamu mutusin aku," tuduh wanita itu. Ia menatap Anin tak suka.


"Memangnya kenapa? Toh dia lebih baik dari pada kamu," balas pria di samping Anin. Tanpa persetujuan dari Anin, tangan pria itu sudah mendarat di pinggang rampingnya sehingga kini tubuh mereka sangat dekat dan tak berjarak sedikitpun.

__ADS_1


"Cih. Apa bagusnya sih perempuan ini, masih lebih cantikan aku kemana-mana."


"Yang jelas dia tidak murahan seperti kamu," sindir si pria membuat wanita itu tampak murka. Terlihat dari wajahnya yang memerah menahan amarah dan tangannya yang terkepal.


Anin tak bisa mengatakan apapun, dirinya terjepit di antara masalah orang lain yang bahkan tak dikenalinya. Ingin rasanya ia berteriak dan memarahi kedua orang itu, tapi mengingat ancaman pria tadi membuat nyali Anin menciut.


Bagaimana jika pria itu benar-benar melakukan ancamannya. Yang jelas, Anin pasti akan merasa sangat terhina sekali.


"Terimakasih untuk bantuan lo," ucap pria tadi membuyarkan lamunan Anin.


Anin yang baru tersadar celingukan mencari wanita tadi, ternyata sudah tidak ada. Anin bisa bernafas lega karena akhirnya bisa terbebas dari kepura-puraan itu. Anin pun beralih menatap tajam pada pria di sampingnya.


"Kenapa kamu sembarangan duduk di samping aku dan meluk pinggang aku seenaknya?" berang Anin.


"Ck, gitu aja marah. Gue kan udah bilang minta tolong tadi," jawabnya santai.


"Tapi aku kan belum bilang setuju."


"Yaelah, ribet banget sih lo. Tapi by the way, makasih ya atas bantuan lo. Next time gue pasti akan balas kebaikan lo ini," ucap pria itu lalu pergi dari hadapan Anin.


Anin hanya bisa melongo menatap kepergian laki-laki asing itu.


"Dasar cowok gila," umpat Anin setelah pria tadi tak terlihat lagi.


...****************...


Dengan perasaan kesal Anin kembali ke ruang rawat Kenan, sepanjang jalan ia terus menghentakkan kakinya membuat orang-orang menatap heran padanya. Sampai di dalam kamar Kenan, Anin langsung mendudukkan dirinya di sofa. Wajahnya di tekuk dan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Titipan aku mana kak?" tanya Kenan saat tak melihat Anin membawa apapun.


"Duh, aku lupa sama titipan Kenan lagi. Ini semua gara-gara cowok gila tadi," rutuk Anin dalam hati.


"Lupa," jawab Anin cuek.


"Terus aku makan apa dong. Aku gak mau makanan rumah sakit, gak enak."


"Pesan online aja lah, gitu aja kok repot," balas Anin lalu keluar dari kamar Kenan.


Sementara Kenan hanya bisa menatap kepergian kakaknya dengan tatapan heran. Jika sudah begitu, itu artinya kakaknya sedang berada dalam mood yang tidak bagus. Dan akan menjadi masalah baginya jika Kenan tetap bersikeras membahas soal titipannya yang dilupakan oleh sang kakak. Akhirnya Kenan pun memilih untuk memesan makanannya via online, daripada Kenan mendapat masalah lebih baik dia memilih jalur aman saja.


"Emang dasar perempuan, sukanya marah-marah gak jelas."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2