Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 6 Meminta kejujuran Adam


__ADS_3

"Mas aku mau bicara sama kamu" ucap Elfira saat Adam baru saja tiba di rumah. Adam pun sampai terkejut mendengar suara Elfira, dia pikir semua orang di rumah itu sudah tidur, mengingat lampu di seluruh ruangan sudah dipadamkan.


"Loh, kok kamu belum tidur sayang. Mas sampe kaget" tanya Adam.


"Aku sengaja nungguin kamu pulang mas, dan aku gak akan bisa tidur sebelum menanyakan hal ini sama kamu"


Adam pun mendekati Elfira dan duduk disebelahnya. "Kamu mau nanya soal apa sayang, serius banget kayaknya"


"Kamu jujur sama aku mas, apa yang sudah kamu lakukan di belakangku"


Adam mengerutkan keningnya karena tak paham maksud Elfira. "Maksud kamu apa sayang, mas gak melakukan apa-apa. Kamu kan tau, mas kerja. Kalo pun pulang malam ya karena lembur. Jangan su'udzon terus dong sama mas"


"Gimana aku gak su'udzon kalo kamu bohong terus sama aku, mas. Kenapa sih, susah banget buat jujur"


"Mas bohong apalagi sama kamu, dan mas harus jujur kayak gimana lagi biar kamu percaya sama mas"


Adam masih tetap menutupi kebohongannya membuat Elfira geram. Elfira menatap tajam sang suami. "Tadi siang ada seorang wanita datang ke rumah, dia teriak-teriak mencari kamu mas"


glek


Adam sampai harus menelan ludah mendengar perkataan Elfira. Jantungnya berdegup kencang, dalam kepalanya sedang memikirkan siapa kira-kira wanita yang dimaksud Elfira. Keringat pun bermunculan di dahinya menandakan bahwa saat ini dirinya sedang gugup.


"Bianca. Nama wanita itu adalah Bianca" lanjut Elfira seolah-olah tau apa yang ada dalam pikiran suaminya. "Kamu kenal dengan wanita itu mas"


"Mas gak kenal dengan wanita itu, sayang. Beneran" Adam mencoba untuk membuat dirinya setenang mungkin. Bukannya Adam tak kenal Bianca, dia adalah kakak dari Laura, salah satu gadis yang pernah tidur dengannya. Bahkan Adam adalah lelaki pertama yang telah mengambil kesuciannya. Laura pernah meminta Adam untuk bertanggungjawab, karena gadis itu takut dirinya akan hamil. Namun, Adam tak mungkin menikahinya karena dia sudah memiliki Elfira sebagai istrinya. Dan Adam tak mau kehilangan Elfira. Bagi Adam, Elfira adalah segala-galanya, separuh dari hidupnya.


Elfira tak lagi memaksa Adam untuk jujur, untuk saat ini dia mencoba percaya dengan suaminya meskipun dalam hati, Elfira tetap mencurigai suaminya itu. Biarlah masalah ini selesai sampai malam ini saja. Tapi bukan berarti Elfira akan percaya begitu saja, dia akan mencari tau sendiri apakah suaminya itu jujur atau bohong.


"Ya sudah kalau memang mas gak kenal dengan wanita itu. Sebaiknya mas mandi dan setelah itu istirahat"


"Kamu percaya kan sama mas. Mas gak mungkin membohongi kamu sayang" ucap Adam dengan penuh keyakinan.


"Hem" jawab Elfira singkat.


Setelah merasa yakin kalau Elfira mempercayainya, Adam pun beranjak dan pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih lalu istirahat. Sungguh malam ini badannya terasa sangat lelah, deadline pekerjaan yang mengharuskan dia dan rekan satu tim nya untuk lembur.


"Awas aja kalo sampai aku tau semua kebusukan kamu mas, aku tidak akan tinggal diam" gumam Elfira setelah Adam masuk ke dalam kamar. Elfira pun beranjak ke kamar Anin, karena malam ini dia sedang tidak ingin tidur bersama suaminya.

__ADS_1


***


"Ayah, ayah, ayah" panggil si kecil Anindya saat melihat ayahnya yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang rapih, tidak seperti biasanya saat weekend. Anin berlari ke arah Adam, dan Adam langsung menggendong tubuh kecil anaknya itu. Adam pun berjalan menuruni anak tangga dengan si kecil Anin berada dalam gendongan sambil berceloteh riang.


"Ayah, ayo kita pergi jalan-jalan. Anin bosen main di rumah terus" protes Anin kepada Adam.


"Hari ini ayah gak bisa sayang, ayah ada pekerjaan. Maaf ya, gimana kalo kamu pergi sama bunda aja"


"yaah, tapi Anin maunya ayah ikut juga. Ayah kan udah lama gak ajak Anin jalan-jalan" ucap Anin lesu.


"Tapi ayah beneran gak bisa hari ini"


Anin merasa sebal dengan Adam, dia pun meminta untuk diturunkan dari gendongan sang ayah. Anin berlari ke ruang makan dan hendak mengadu pada ibunya.


"Loh, Anin kenapa nak. Kok mukanya di tekuk begitu" tanya Elfira ketika melihat Anin yang berlari dan langsung duduk di meja makan dengan wajah yang di tekuk.


"Anin sebel sama ayah, masa Anin ajak ayah jalan-jalan tapi ayah gak mau. Kata ayah Anin disuruh pergi sama bunda aja" Anin bercerita dengan wajah yang semakin ditekuk dan kedua tangannya dilipat di dada.


Elfira merasa gemas melihat wajah cemberut putrinya, "uluh-uluh, anak bunda sudah bisa merajuk ternyata ya. Gimana kalo siang ini kita ke toko roti nenek Halimah, nanti Anin boleh makan cake sepuasnya disana" bujuk Elfira, dan benar saja, anak itu langsung kembali ceria saat mendengar makan cake sepuasnya.


"Yeay, beneran ya Bun. Anin boleh makan cake sepuasnya" tanya Anin penuh semangat.


"Syarat apa Bun"


"Syaratnya Anin gak boleh merajuk lagi"


Mendengar syarat dari Elfira, Anin langsung melebarkan senyumnya. "Anin gak merajuk kok, hihi"


"Nah gitu dong, ini baru namanya anak bunda" puji Elfira sambil mengusap ujung kepala Anin. "Sekarang Anin sarapan dulu ya"


"Siap, bunda" seru Anin penuh semangat sembari memberi hormat kepada Elfira, membuat sang ibu terkekeh melihat tingkah lucunya.


Saat Elfira sedang menyiapkan sarapan untuk Anin, dia melihat Adam berjalan menghampiri mereka dan bergabung dengan mereka di meja makan dengan pakaian yang sangat rapih. Tidak biasanya Adam berpakaian rapih seperti itu ketika sedang weekend, membuat Elfira jadi curiga.


"Mau kemana kamu mas, rapih banget" tanya Elfira sambil menatap curiga.


"Mas ada urusan sebentar" jawab Adam sambil mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat.

__ADS_1


"Urusan apa di hari libur begini"


"Jangan curigaan begitu dengan suami, gak baik" balasnya lagi setelah menggigit roti yang sudah diolesi selai tadi.


"Lebih gak baik lagi kalo suka bohongin istri mas"


'Haah'


Adam pun menghela napasnya karena dicurigai oleh Elfira.


"Mas cuma mau pergi main golf sama klien, bentar doang kok"


"Emang gak bisa dibatalin aja mas, kasihan tuh Anin. Dia pengen banget pergi jalan-jalan sama kamu" Elfira berusaha untuk membuat Adam mengurungkan niatnya dan berubah pikiran agar mau mengajak Anin jalan-jalan.


"Gak bisa dong, soalnya ini klien yang sangat penting. Mas udah janji dari jauh-jauh hari, gak enak kalo harus dibatalin. Lagian tadi mas dengar kamu mau ngajak Anin ke toko rotinya Bu Halimah"


Elfira langsung berdecak pelan karena merasa rencananya sudah gagal. "Terserah kamu lah mas" ucap Elfira pasrah.


"Kalo gitu mas berangkat dulu ya, takut kliennya kelamaan nunggu" Adam pun menyelesaikan sarapannya lalu beranjak dari kursinya. "Ayah pergi dulu ya, maaf ayah gak bisa nemenin kamu" ucap Adam pada Anin.


"Iya ayah, gak apa-apa. Tapi Minggu depan ayah harus ajak Anin sama bunda jalan-jalan ya"


"Iya sayang, ayah janji minggu depan ayah akan ajak Anin kemanapun Anin mau"


"Beneran ya, Yah"


"Iya sayang"


"Janji" Anin mengulurkan jari kelingkingnya pada Adam.


Adam tersenyum dan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Anin. "Iya, ayah janji"


Setelah berhasil membujuk anaknya, Adam pun berpamitan pada Elfira dan juga Anin. Dengan langkah ringan, Adam pergi meninggalkan keduanya dan pergi menuju ke tempat janji temu nya dengan seseorang.


Setelah Adam tak terlihat lagi, Elfira pun membereskan meja makan dan mencuci piring kotornya. Elfira juga meminta Anin untuk mandi dan bersiap-siap karena dia akan mengajak Anin untuk pergi jalan-jalan dan ke toko roti Bu Halimah.


***

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2