
"Mau ngapain lagi kamu datang kesini, mas" sentak Elfira yang tak suka melihat kedatangan Adam di rumahnya.
"Mas cuma mau minta maaf sama kamu"
"Sudah aku maafkan. Jadi, silahkan kamu pergi dari sini" usir Elfira dengan nada dingin. Tak ada sedikitpun senyum di wajahnya.
"Biarkan mas masuk sayang..."
"Jangan pernah panggil aku seperti itu lagi" potong Elfira cepat. "Aku gak sudi mendengarnya"
"Maaf, tapi tolong biarkan mas masuk dulu ke dalam", sepertinya Adam masih belum menyerah.
"Mau ngapain, kamu sudah tidak punya hak lagi atas rumah ini dan kamu juga tidak bisa seenaknya keluar masuk rumah ini" sarkas Elfira.
"Iya, mas tau. Mas hanya ingin bertemu dengan Anindya" Adam mencoba mencari alasan yang tepat agar bisa masuk ke dalam rumah Elfira.
"Anin lagi gak di rumah, dia lagi pergi sama Bu Halimah"
"Kamu bohong kan, itu cuma alasan kamu supaya aku gak bisa masuk"
"Terserah kamu, mas. Kalau kamu tidak ada urusan lagi, aku tutup pintunya dan silahkan pergi dari sini" ucap Elfira tegas sambil berusaha menutup pintu.
Namun, dengan cepat Adam menahan pintu tersebut sehingga pintu masih terbuka setengahnya.
"Biarkan mas masuk dulu, mas cuma mau ketemu sama Anindya. Mas ini ayah kandungnya, jadi mas berhak untuk menemuinya"
Sebenarnya Elfira malas meladeni Adam, tapi sepertinya Elfira terpaksa harus memberi pengertian pada laki-laki yang pernah mengisi kebahagiaan dalam hidupnya.
"Dengar ya mas, aku tidak pernah melarang kamu untuk bertemu dengan anakmu. Kamu masih bisa bertemu dengan Anin, kapan pun kamu mau. Asal kamu ijin dulu sama aku"
"Lalu, kenapa sekarang kamu melarang aku untuk masuk dan bertemu dengan anakku"
"Aku melarang kamu masuk, karena kamu sudah tidak berhak lagi berada di rumah ini. Dan sekali lagi aku tekan kan, Anindya sedang tidak ada di rumah. Kalau kamu mau bertemu dengannya, kamu temui dia di toko nya Bu Halimah"
Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Adam, Elfira langsung menutup pintunya begitu saja dan menguncinya dari dalam.
Namun sepertinya Adam masih tidak mempercayai perkataan Elfira, dia masih tetap berkeras dan berpikir bahwa anaknya ada di rumah itu dan Elfira melarangnya untuk menemui anaknya.
"Elfira, buka pintunya. Biarkan mas masuk"
Tok tok tok
"Elfira"
__ADS_1
Adam mengetuk pintu rumah Elfira, berharap istrinya itu akan membuka pintunya kembali.
Namun, sudah berulang kali Adam mengetuk, Elfira tetap saja tak mau membuka pintunya, seolah dia sudah menulikan telinganya dan tak mendengar teriakan Adam.
Adam pun menyerah, mungkin dia akan mencoba mempercayai ucapan Elfira. Adam akan mendatangi toko Halimah dan berharap Anindya memang benar ada disana.
...****************...
"Makasih ya Bu, udah mau jagain Anin seharian ini. Maaf kalo Anin ngerepotin ibu" ucap Elfira tak enak hati.
"Gak ngerepotin sama sekali kok, lagian Anin anaknya anteng, di kasih cupcake favoritnya, udah deh langsung duduk manis" tutur Halimah sambil terkekeh.
"Oh iya, Fir. Kamu lagi ada masalah ya sama suami kamu" tanya Halimah tiba-tiba.
"Kenapa ibu tiba-tiba nanya seperti itu"
"Tadi Adam datang ke toko" ucap Halimah. "Katanya mau ketemu sama Anin, dan ibu sempat dengar, Anin bertanya pada ayahnya itu kenapa dari kemarin dia tidak pulang ke rumah. Jadi ibu pikir, kalian pasti sedang ada masalah"
Elfira terdiam, tak tau harus berkata apa. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya pada Halimah, tapi ia tak tau harus memulai ceritanya darimana.
"Kalau kamu gak mau cerita ya gak apa-apa, ibu gak maksa. Ibu hanya bisa berharap, masalah kamu dengan Adam bisa cepat selesai" tutur Halimah dengan bijak.
"Mas Adam selingkuh Bu, dia sudah menikah sirih dan sudah mempunyai anak. Bahkan sekarang istri sirihnya itu sedang mengandung anak kedua mereka. Hiks..hiks..hiks..."
Tentu saja Halimah sangat terkejut mendengarnya, dia tak menyangka Adam akan berbuat seperti itu pada istrinya. Karena yang selama ini Halimah ketahui, Adam adalah sosok suami yang sangat menyayangi istrinya. Jadi sangat mustahil rasanya jika sampai Adam berkhianat pada Elfira.
"Kamu yakin kalau Adam beneran sudah menikah lagi" tanya Halimah untuk memastikan.
"Yakin Bu. Waktu itu ada seorang wanita mengaku sebagai istri sirih Adam datang ke rumah, dan mas Adam juga sudah mengakuinya"
Halimah merasa kasihan melihat Elfira, lantas ia pun mendekati Elfira dan memeluknya sambil memberikan kekuatan pada wanita itu. Halimah tau, sulit rasanya menerima kenyataan bahwa suami yang sangat di cintai memiliki wanita lain dalam hidupnya.
Dan Halimah bisa pastikan, tak ada satu wanita pun di dunia ini yang rela membagi suaminya untuk wanita lain, termasuk Elfira.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan kedepannya, Fir" tanya Halimah setelah ia menguraikan pelukannya.
"Fira sudah mendaftarkan perceraian ke pengadilan agama Bu, jika berkasnya sudah di ACC dan tak ada halangan, insyaallah Minggu depan akan diadakan sidang pertama" jawab Elfira mantap.
"Kamu yakin akan bercerai dengan Adam, kamu sudah memikirkannya matang-matang, nak"
"Insyaallah Fira yakin, Bu. Ada beberapa hal yang membuat Fira tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan kami"
Halimah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia juga tidak berhak untuk ikut campur atas rumahtangga Elfira. Semua keputusan ada di tangan ibu muda itu sepenuhnya.
__ADS_1
"Kalau memang itu yang terbaik menurut kamu, ibu akan selalu mendukung kamu sepenuhnya. Dan jangan segan untuk meminta bantuan sama ibu, ya" ucap Halimah sambil menggenggam kedua tangan Elfira.
"Terimakasih Bu, Fira selalu nyusahin ibu"
"Tidak sama sekali, sayang" Halimah mengelus kepala Elfira dengan sayang.
...****************...
"Mas, ada surat nih buat kamu"
Pagi ini seorang driver online datang ke rumah Sandra membawakan sebuah amplop surat yang ditujukan untuk Adam. Setelah menerima surat tersebut, Sandra langsung memberikannya pada Adam yang saat itu baru saja selesai sarapan dan bersiap hendak pergi bekerja.
"Surat dari siapa" tanya Adam penasaran.
"Dari pengadilan agama" jawab Sandra santai.
Jawaban Sandra membuat Adam terkejut, Adam pun langsung merampas amplop yang ada ditangan Sandra, dengan cepat Adam merobek atasnya dan langsung membacanya.
Benar saja, itu adalah surat dari pengadilan agama yang berisikan tentang panggilan sidang perceraiannya dengan Elfira. Seketika Adam langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi yang tadi dia duduki.
Harapannya untuk bisa terus bersama Elfira, dan mempertahankan rumah tangga nya sirna seketika bersamaan dengan datangnya surat persidangan perceraian mereka.
"Kamu gak apa-apa mas" tanya Sandra khawatir.
"Apa menurutmu aku baik-baik saja setelah mendapat surat ini" sentak Adam menjawab pertanyaan Sandra.
"Ini semua gara-gara kamu, Sandra. Kalau bukan karena kebodohan kamu yang datang ke rumahku waktu itu, mungkin sampai sekarang Elfira tidak akan tau yang sebenarnya dan aku tidak akan diceraikan seperti ini oleh istriku" ucap Adam penuh penekanan.
Sekali lagi, Sandra harus menerima hinaan dari Adam. Dan untuk kesekian kalinya, Sandra harus bisa menahan semua hinaan itu.
"Maaf" Sandra berkata lirih mencoba menahan sakit hatinya.
"Maaf mu tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Kamu itu memang perempuan bodoh yang tidak berguna" Adam berkata sambil menunjuk tepat di depan wajah Sandra. Bagi Adam, Sandra memang tidak ada artinya.
Setelah itu, Adam pun langsung pergi meninggalkan Sandra yang sedang menangis menahan perih di hatinya.
"Lagi-lagi kamu berhasil menyakitiku, mas." lirih Sandra setelah Adam tak terlihat lagi.
"Maafkan mama, sayang. Karena kebodohan mama, kamu jadi harus mendengar hinaan dari papa kamu" ucap Sandra sambil mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit, berbicara pada calon anak yang ada dalam kandungannya.
...****************...
bersambung.....
__ADS_1