
Malam hari, suasana rumah itu tampak berbeda. Makan malam pun hanya ada Adam dan Nayla saja. Sejak pertengkaran Adam dan Sandra tadi sore, istrinya itu tak kembali ke rumah. Begitu juga dengan Axel, anak laki-laki Adam itu pun tak juga pulang.
Adam dan Nayla makan dalam diam, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang selalu terdengar.
"Pa," panggil Nayla memberanikan diri membuka suara.
"Ya sayang."
"Mama sama bang Axel nggak pulang?"
Tampak Adam membuang nafasnya kasar mendengar pertanyaan dari Nayla. Dia sendiri pun tak tahu kemana anak laki-laki dan istrinya pergi.
"Sepertinya begitu, mungkin mereka masih marah sama papa. Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Nanti juga mereka pasti akan pulang sendiri, kamu lanjutkan saja makan kamu."
"Baik pa."
Kini mereka kembali diam hingga makanan dalam piring mereka habis. Nayla pun berpamitan pada Adam untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Adam beranjak menuju ruang kerjanya.
Di dalam ruang kerjanya, Adam sedang memeriksa pembukuan penjualan di toko nya. Akibat kebiasaan Sandra yang suka menghamburkan uang, Adam pun harus memutar otaknya untuk meningkatkan penjualan agar bisa membayar tagihan kartu kredit yang di gunakan oleh Sandra.
Setelah selesai, Adam menyandarkan punggungnya lalu memijat kepalanya yang terasa pening. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit-langit. Tanpa di komando, setetes cairan bening mengalir dari sudut matanya. Adam merasakan penyesalan yang teramat dalam di sudut hatinya.
Adam pikir, dengan memberikan kesempatan untuk Sandra dan menjadikan wanita itu istri sah nya akan membuat hidupnya bahagia. Adam juga ingin membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis seperti Elfira dan Erlangga. Tapi, pada kenyataannya semua itu hanyalah harapan dan angan belaka.
Sandra tetap lah Sandra yang tidak akan bisa berubah menjadi seperti Elfira. Adam sangat berharap Sandra bisa menjadi istri yang baik dan penurut serta menjadi ibu yang selalu ada untuk kedua anak mereka.
Adam menghapus jejak air matanya lalu bangkit menuju kamarnya. Ia ingin mengadu kan semua kesedihannya pada Sang Pencipta. Karena hanya Dia lah zat yang mampu memberikan ketenangan pada hati setiap manusia yang sedang merasakan kesedihan.
...****************...
"Terimakasih mang."
"Sama-sama neng."
Anin baru saja membeli 2 bungkus nasi goreng di tempat langganannya. Malam itu Anin merasa sangat ingin makan nasi goreng mang Udin yang biasa mangkal di taman dekat komplek perumahan tempat Anin tinggal. Ia di temani adiknya, tapi Kenan tidak mau ikut turun dan hanya menunggu di dalam mobil.
"Yuk, jalan!" ajak Anin setelah ia duduk di kursi samping kemudi.
Tanpa menjawab, Kenan langsung menghidupkan mesin mobil lalu menjalankannya.
"Loh? Kok kita belok sini, harusnya kan lurus aja Ken?" tanya Anin saat Kenan membelokkan mobilnya ke arah lain. Sementara jalan menuju rumah mereka harusnya lurus saja.
"Ken mau ke minimarket yang ada di simpang sana kak," jawab Ken santai.
"Di dalam komplek kan juga ada minimarket."
__ADS_1
"Ck. Males beli di situ, mahal."
Anin tak lagi protes, akhirnya dia pun mengikuti saja kemana Ken membawa mobilnya. Sampai di minimarket yang di maksud, Kenan pun turun dan meminta Anin untuk menunggunya di dalam mobil saja.
Anin menunggu sambil memainkan ponselnya, ia membuka akun sosial medianya dan melihat ada notifikasi permintaan pertemanan. Anin membukanya dan melihat foto atasannya terpampang jelas di sana.
"Dih, gayanya sok iya banget," ejek Anin sambil tertawa saat melihat foto Dirga.
"Aku terima gak ya." Anin tampak berpikir, kemudian ia kembali berucap, "akh, mendingan gak usah deh. Males banget nanti dia pasti kepoin sosmed aku." Akhirnya Anin memutuskan untuk tidak menerima permintaan pertemanan dari Dirga.
Saat Anin ingin keluar dari akun sosmed nya, tiba-tiba ia melihat siluet beberapa orang yang sepertinya sedang memukuli sesuatu. Anin menajamkan penglihatannya, dan ternyata ada satu orang yang sedang di keroyok.
"Duh, kasihan banget orang itu. Aku harus tolongin dia, tapi gimana caranya? Aku juga takut," gumam Anin.
Anin mencoba memberanikan diri dan turun dari mobilnya lalu celingukan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata. Tak jauh dari tempatnya berada, ada sebuah kayu besar. Anin pun mengambilnya dan berjalan mengendap-endap mendekati segerombolan orang itu.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya, Anin mencoba memberanikan dirinya. Ia tak tega ketika melihat seorang pemuda yang sedang di keroyok oleh tiga orang yang berpenampilan seperti preman.
Anin mengangkat kayu besar di tangannya lalu mengayunkannya ke arah salah satu preman itu.
'Buugh'
"Aaarrrggh"
"Heh! Siapa lo? Berani-beraninya ikut campur!" teriak salah satu preman tersebut.
Anin ketakutan, tapi dia mencoba menutupinya dengan membalas teriakan preman itu. "Beraninya main keroyokan, cemen banget kalian."
"Kayaknya nih cewek cari mati bos," ujar preman yang lainnya.
Tiba-tiba preman yang di panggil bos tadi tersenyum miring sambil menelisik penampilan Anin dari atas hingga ke bawah.
"Cantik juga nih cewek, gimana kalo kita bawa aja dia ke markas," ujarnya membuat Anin semakin ketakutan.
Untuk sesaat dia menyesali keputusannya yang sok-sokan ikut campur urusan orang lain. Sekarang dirinya yang sedang tersudut dan terancam bahaya. Secara perlahan Anin memundurkan langkahnya saat ketiga preman itu maju mendekati dirinya.
"Hehe, akhirnya kita bisa pesta dan bersenang-senang malam ini bos. Kayaknya enak kalo kita gilir nih cewek."
"Hai cantik. Jangan takut, mending lo ikut kita senang-senang. Kita akan buat lo tak berhenti mendesah nikmat di bawah kami," ucap preman yang di panggil bos tadi.
Anin semakin ketakutan, ia berpikir keras untuk mencoba melarikan diri. Secara spontan Anin melemparkan kayu yang ada di tangannya ke arah preman tersebut dan kabur dari sana. Namun, sepertinya nasib sial sedang menghampirinya. Belum sempat ia berlari jauh, salah satu dari preman itu menangkap dirinya dan menariknya kembali ke tempat gelap.
"Lepas! Lepaskan saya!" Anin terus berteriak sambil memberontak.
"Hahaha! Enak aja minta di lepasin, lo yang dateng sendiri ke kita dan sekarang dengan seenaknya lo minta di lepasin."
__ADS_1
"Lo layani dulu kita sampe puas baru kita lepasin. Ya gak bos?"
"Bawa dia!" perintah si bos preman.
Anin kembali memberontak dan terus berteriak, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya dan menolongnya.
"Tidak! Lepas! Tolooooong!" Anin terus berteriak sambil berdoa dalam hati agar Allah mengirimkan seseorang untuk menolongnya.
Sementara itu, Kenan yang baru saja selesai belanja, ia tak melihat kakaknya di dalam mobil. Kenan mencoba menghubungi nomor Anin, tapi ponselnya tertinggal di mobil.
"Ish, kak Anin kemana sih. Pergi gak bilang-bilang, mana ponselnya di tinggal lagi," gerutu Kenan.
Saat sedang mencari Anin, sayup-sayup Kenan mendengar seseorang yang berteriak minta tolong. Kenan seperti mengenali suara itu, dia pun celingukan mencari sumber suara.
Tiba-tiba netranya menangkap bayangan seorang wanita yang di tarik paksa menuju mobil mereka. Kenan menajamkan penglihatannya dan semakin terbuka lebar saat mengenali siapa wanita tersebut.
Ia pun dengan sigap berlari dan menolong kakaknya.
"Woi! Lepasin kakak gue!" teriak Kenan dengan nafas yang memburu saat melihat kakaknya yang menangis ketakutan.
"Beraninya sama cewek, maju lo semua, lawan gue!" tantang Kenan dan langsung mengambil jurus kuda-kuda.
"Cih. Satu lagi yang sok ikut campur," ucap si bos preman.
Bos preman itu melirik ke arah dua orang anak buahnya yang sedang memegang tangan Anin.
"Pegang dia, jangan sampai lepas."
"Baik bos," jawab kedua preman itu.
Si bos preman tadi pun maju dan mulai menyerang Kenan. Akhirnya, terjadilah baku hantam antara Kenan dan bos preman tadi. Posisi mereka sama-sama kuat.
Kenan yang memang pemegang sabuk hitam taekwondo akhirnya bisa menjatuhkan si bos preman hingga terkapar di tanah.
Dua orang preman yang memegangi Anin tadi pun maju untuk membantu bos mereka. Perkelahian terjadi kembali dan Kenan harus melawan dua orang sekaligus.
Salah satu preman berhasil Kenan jatuhkan, kini hanya tinggal satu lagi. Preman itu maju dan melayangkan tinjunya ke arah Kenan. Namun, Kenan berhasil menghindar dan ia pun balas memukul preman itu hingga tumbang.
Kenan maju dan mendekati preman itu, ia ingin kembali menghajarnya. Namun, suara teriakan Anin membuat Kenan harus menghentikan langkahnya.
"Kenan! Awas!"
'Buugh'
...****************...
__ADS_1