
"Kamu kenapa Fir?" tanya Halimah penasaran. Sejak tadi ia melihat Elfira melamun terus.
"Fira lagi bingung Bu," jawabnya setelah sekian detik ia terdiam.
"Bingung kenapa?"
"Menurut ibu Erlangga itu orangnya seperti apa sih?" tanya Elfira sambil menatap Halimah.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" bukannya menjawab, Halimah justru kembali bertanya.
"Erlangga melamar Fira Bu," ucap Elfira membuat Halimah terkejut. Ia tak menyangka jika keponakannya itu sudah bergerak cepat.
"Terus, kamu terima lamarannya?" tanya Halimah lagi tak sabaran. Dia sangat berharap Elfira berjodoh dengan keponakan tampannya itu. Namun, sepertinya harapannya pupus saat melihat Elfira menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Apa kamu tidak mencintainya?"
"Fira ... Fira gak tau Bu. Fira cuma belum siap aja."
Halimah mengerti sekarang, jadi Elfira menolak bukan karena tak mencintai tapi karena ia belum siap untuk membuka lembaran baru bersama orang baru. Kegagalan pernikahannya yang pertama membuat Elfira harus lebih selektif memilih pasangan hidup, terlebih saat ini ia sudah memiliki anak yang harus ia prioritaskan. Bukan berarti Erlangga pria yang tak baik, hanya saja hatinya yang belum siap menerimanya. Elfira takut mengalami kegagalan untuk kedua kalinya.
Halimah menggenggam kedua tangan Elfira, wajah keibuannya tersenyum menatap wanita yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. "Ibu mengerti bagaimana perasaanmu, hanya saja jangan terlalu menutup diri. Tidak semua laki-laki sama seperti mantan suamimu," ucap Halimah.
"Pikirkanlah matang-matang sebelum mengambil keputusan," ucap Halimah lagi dan Elfira pun menganggukkan kepalanya.
...****************...
"Kamu kenapa sayang? Apa yang sudah terjadi?" tanya Anita panik saat melihat kamar anaknya yang berantakan bagai kapal pecah.
Sejak semalam anaknya itu uring-uringan terus, ia selalu mengamuk dan marah-marah tak jelas. Barang-barang di kamarnya ia lempar untuk melampiaskan kekesalannya, bahkan kaca meja riasnya sampai pecah berantakan.
"Aku benci Ma, aku benci sekali sama Erlangga," jawabnya dengan penuh emosi.
"Kenapa dengan Erlangga, apa yang sudah dia lakukan sama kamu?"
"Erlangga sudah membuat aku malu Ma, dia sudah menghinaku di depan wanita kampung itu," jawab Jessica dengan emosi dan penuh kebencian.
Meskipun tak tahu apa yang sudah terjadi, Anita tetap berusaha untuk mengerti. Ia mendekati Jessica lalu memeluknya erat.
__ADS_1
"Sudah, tenangkan dirimu. Jangan terbawa emosi, kita harus bertindak cerdik. Mama akan bantu kamu untuk membalaskan sakit hati kamu."
Jessica melepaskan pelukannya lalu menatap sang ibu, "beneran ma?" tanya nya tak percaya.
"Iya sayang, apa pun akan mama lakukan untuk putri tersayang mama. Mama akan buat Erlangga bertekuk lutut sama kamu," ucap Anita meyakinkan sang anak. Meskipun sebenarnya ia tak tahu bagaimana caranya. Yang penting anaknya bisa lebih tenang dan tidak menghancurkan barang-barang lagi.
...****************...
"Jadi ini rumah wanita itu?" tanya Anita pada Jessica. Saat ini mereka sedang mengintai di depan rumah Elfira. Tadi malam Jessica menceritakan semua yang terjadi padanya kemarin. Dimana Erlangga mempermalukannya di depan Elfira, wanita yang sangat dibencinya sejak masa putih abu-abu dulu.
"Ternyata dia punya usaha katering toh," gumam Anita ketika melihat spanduk bertuliskan 'Anindya Catering' di depan rumahnya.
"Pokoknya Jessica harus balas perbuatan mereka ma, terutama sama Elfira. Karena dia yang sudah membuat laki-laki yang Jessica cintai dulu menolak cinta Jessica. Dan sekarang saatnya Jessica membalasnya dengan merebut Erlangga dari dia." Dengan sorot mata penuh kebencian Jessica menatap rumah Elfira.
"Kamu tenang saja, mama akan pastikan dia akan mendapat balasannya."
"Tapi papa jangan sampai tau ya ma, Jessica takut papa akan mengamuk. Karena Erlangga akan menghancurkan perusahaan papa kalau dia tau Jessica masih mengganggu wanita kampung itu."
"Gampang itu, kamu serahkan semuanya sama mama," ucap Anita meyakinkan sang anak. Sesaat kemudian mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah Elfira. Tanpa mereka sadari, di belakang mobil mereka ada mobil lain yang juga sedang mengintai rumah Elfira, lebih tepatnya mengintai mereka.
"Halo! Bagaimana?" tanya si penerima telepon.
"Seperti yang bos duga, wanita itu tak tinggal diam. Saya melihat mobilnya berada di depan rumah ibu Elfira. Sepertinya dia sedang mengintai rumah itu dan merencanakan sesuatu," jawab si pengemudi itu.
"Bagus. Terus awasi dan jangan lupa kumpulkan bukti-buktinya."
"Baik bos."
Panggilan pun berakhir, si pengemudi tadi pergi meninggalkan rumah Elfira dan menyusul mobil Jessica yang kemungkinan sudah pergi jauh.
Sementara itu Erlangga menatap geram pada layar ponselnya setelah mendapat kabar dari orang bayarannya. Ya, Erlangga memerintahkan seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Jessica. Karena Erlangga yakin kalau wanita itu tidak akan tinggal diam saat kemarin ia membela Elfira. Dan tugasnya sekarang adalah melindung wanitanya dari orang jahat seperti Jessica.
"Lihat saja Jessica, berani kamu sentuh wanitaku maka akan ku hancurkan hidupmu. Kamu belum tau siapa aku," gumam Erlangga di dalam ruangannya.
...****************...
__ADS_1
Siang ini Elfira sedang menemui pemilik gedung yang akan ia sewa untuk membuat usaha barunya nanti. Rencananya mereka akan membahas tentang kontrak dan menandatanganinya.
"Bagaimana Bu Elfira, anda suka dengan tempatnya?" tanya si pemilik gedung.
"Bagus Bu, saya suka karena tempatnya sangat strategis," jawab Elfira setelah ia melihat-lihat gedung tadi.
"Alhamdulillah kalau begitu, saya jadi senang mendengarnya. Ini kontraknya, ibu bisa pelajari dulu sebelum tandatangan."
Elfira membaca semua poin-poin dalam kontrak tersebut, setelah di rasa tak ada masalah ia pun menandatanganinya lalu mengembalikannya kepada si pemilik gedung.
"Sudah saya transfer pembayarannya ya Bu," ucap Elfira membuat pemilik gedung itu tersenyum puas. Elfira termasuk penyewa yang tidak rewel dan tidak banyak menuntut.
"Terimakasih Bu Elfira. Saya sangat senang bekerjasama dengan anda. Nanti saya akan buat salinannya dan akan saya serahkan kepada anda secepatnya."
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Elfira. Namun, langkahnya harus terhenti saat pemilik gedung itu memanggilnya.
"Tunggu Bu Elfira!"
"Ya Bu, apa ada yang kurang?"
Pemilik gedung itu tersenyum lalu berjalan mendekati Elfira. "Ini kunci gedungnya lupa anda bawa," ucapnya sambil menyerahkan kunci tersebut.
"Ah iya, saya sampai lupa. Terimakasih," balas Elfira seraya menerima kunci tersebut.
Setelah menerima kuncinya, Elfira pun benar-benar pamit. Dia akan berkunjung ke kantor Erlangga untuk mengucapkan terimakasih kepada lelaki itu karena sudah mencarikan tempat untuk usaha barunya nanti.
Mobil Elfira melaju membelah jalanan ibukota yang sangat padat siang itu. Saking padatnya, mobil Elfira harus bolak-balik berhenti karena macet sehingga Elfira harus berada di jalan selama hampir satu jam. Padahal jarak dari rumah pemilik gedung ke kantor Erlangga tidak sampai 30 menit.
Sesampainya di area gedung perusahaan Erlangga, Elfira memarkirkan mobilnya lalu turun dan berjalan memasuki kantor Erlangga.
Satpam yang sudah mengenal Elfira pun menunduk hormat padanya meskipun Elfira sudah melarangnya, satpam tersebut tetap melakukannya. Katanya itu adalah prosedur dari pekerjaannya.
Tanpa perlu bertanya lagi, Elfira langsung menaiki lift menuju ruangan Erlangga. Tepat ketika ia hendak mengetuk pintu, Elfira mendengar sesuatu yang membuatnya tercengang.
...****************...
__ADS_1