
Seratus kotak nasi yang dibuat Elfira sudah habis ia bagikan. Rasanya ada kepuasan tersendiri di dalam hatinya bisa berbagi kepada sesama, apalagi kepada mereka yang membutuhkan.
Setelah mereka selesai membagi-bagikan makanan tersebut, Elfira meminta mbak Siti dan pak Karyo pulang ke rumah terlebih dahulu. Sementara dirinya masih bersama Erlangga. Lelaki itu memintanya untuk pulang bersama sekaligus ingin mengajaknya ke suatu tempat.
Saat itu hari sudah sore, Erlangga mengajak Elfira ke pantai. Saat tiba di pantai, waktu sudah masuk Maghrib. Mereka mencari tempat untuk melaksanakan ibadah Maghrib terlebih dahulu. Untung saja di sana ada sebuah musholla yang di sediakan khusus untuk pengunjung muslim yang ingin sholat.
Selesai mengerjakan sholat Maghrib, Erlangga mengajak Elfira mencari makan. Pilihan mereka jatuh pada sebuah rumah makan yang letaknya tak jauh dari musholla tadi, jadi mereka tak perlu berjalan jauh untuk mencari tempat makan.
Erlangga memesan udang saus tiram dan cah kangkung serta jus jeruk, sedangkan Elfira memesan ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya dan juga jus jeruk. Mereka menghabiskan makanan dengan lahap tanpa ada pembicaraan apapun. Keduanya sama-sama membisu hingga makanan mereka habis tak bersisa.
Selesai makan dan membayarnya, Erlangga mengajak Elfira untuk duduk di sebuah kursi yang di pasang tenda berbentuk segitiga yang dilapisi kain berwarna merah muda. Di dalamnya terdapat dua kursi dan satu buah meja, mereka duduk saling berhadapan dan di sebelah mereka terbentang laut yang sangat luas. Angin pantai yang bertiup, membuat rambut Erlangga dan hijab yang di pakai Elfira melambai-lambai.
Untuk sesaat keduanya tak ada yang membuka suara, mereka masih setia menikmati pemandangan pantai di malam hari. Tiba-tiba Elfira merasakan sebuah genggaman di tangannya. Ia pun menoleh dan ternyata Erlangga lah yang menggenggamnya sambil menatap dirinya.
Sesaat Elfira terpaku dengan tatapan Erlangga yang begitu menghanyutkan. Kedua bola matanya yang jernih menatap dirinya dengan penuh cinta.
"I love you," ucap Erlangga yang terdengar seperti berbisik. "Aku mencintai kamu Fir, sangat mencintai kamu. Bahkan saat kamu masih bersama mantan suami kamu, aku sudah jatuh cinta padamu," lanjutnya lagi membuat Elfira terkejut.
"Tapi aku sadar, aku tidak bisa memilikimu karena kamu sudah dimiliki oleh orang lain. Aku berusaha untuk melupakan perasaanku pada mu, tapi tak bisa hingga akhirnya aku tahu kamu akan berpisah dengan Adam, di situlah aku kembali berjuang untuk mendapatkan kamu sampai akhirnya kamu benar-benar berpisah dengannya."
Elfira begitu terharu mendengarnya, ternyata begitu dalam perasaan Erlangga terhadapnya. Elfira masih belum membuka suaranya, ia masih menunggu kelanjutan dari apa yang akan Erlangga ucapkan.
"Hatiku hancur saat kamu menolak ku saat itu, tapi aku tidak menyerah. Bahkan saat masalah yang terjadi diantara kita akhir-akhir ini, tak membuatku menyerah untuk mendapatkan kamu."
"Sungguh aku sangat mencintai kamu Fira, tak ada seorang pun yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam ini seperti padamu."
Erlangga melepaskan genggaman tangannya membuat Elfira sempat merasa kehilangan. Namun, sesaat kemudian ia di buat terkejut saat Erlangga mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak persegi yang dilapisi kain berudu berwarna merah. Erlangga membukanya dan tampaklah sebuah cincin berlian yang sangat indah, cincin yang dulu pernah diberikan kepadanya namun ia kembalikan. Dan sekarang, Erlangga kembali menyodorkan cincin itu kepadanya.
__ADS_1
"Malam ini aku ingin kembali melamar mu, aku ingin menjadikan mu istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin menjadikan mu satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku dan juga hidupku."
Erlangga menarik nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Tiba-tiba kegugupan menyerang dirinya, takut kalau Elfira akan kembali menolaknya. Tapi, Erlangga tetap harus berusaha.
"Elfira Zahira, sekali lagi aku memintamu. Maukah kamu menikah denganku?"
Dengan perasaan yang campur aduk dan juga jantung yang berdebar menanti jawaban dari wanita pujaannya.
Tak beda jauh dengan Erlangga, Elfira juga merasakan hal yang sama. Jantungnya berdebar kencang saat mendapat lamaran dari Erlangga. Bukan pertama kali nya Elfira dilamar oleh laki-laki, tapi rasanya ada yang beda. Perasaannya saat dulu di lamar oleh Adam dan saat di lamar oleh Erlangga sangat berbeda. Ia tak pernah sebahagia ini mendapat lamaran dari laki-laki.
Elfira menatap mata Erlangga yang masih menunggu jawabannya penuh harap. Dengan memejamkan mata dan mengucapkan bismillah dalam hatinya, akhirnya Elfira mengangguk kan kepalanya menerima lamaran dari Erlangga.
"Aku terima lamaran kamu dan aku bersedia menikah dengan kamu," jawab Elfira pasti.
Erlangga sangat bahagia mendengar jawaban dari Elfira. Ia pun segera memasangkan cincin tersebut ke jari manis Elfira lalu tanpa sadar Erlangga mengecup tangan Elfira yang baru saja ia pasangkan cincin membuat wanita itu tersipu malu.
Erlangga mengajak Elfira untuk berdiri dan berjalan mendekati bibir pantai tanpa alas kaki. Mereka berjalan bergandengan tangan, sampai akhirnya mereka berhenti dan berdiri disana. Mereka membiarkan air laut membasahi kaki mereka sambil menikmati angin malam di pantai.
Erlangga memeluk Elfira dari samping, kini mereka berdiri sambil berpelukan. Erlangga begitu bahagia karena sekarang wanita yang ada di sebelahnya ini sudah menjadi calon istrinya.
"Aku mencintaimu elfira, sangat mencintaimu," bisik Erlangga lalu mengecup puncak kepala Elfira yang dilapisi hijab. Elfira pun semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Erlangga.
"Aku juga sangat mencintaimu Erlangga Putra Wijaya," balas Elfira membuat Erlangga tersenyum mendengarnya.
...****************...
Pagi hari Erlangga terbangun dari tidurnya dengan hati yang berbunga-bunga. Setelah melamar Elfira di pantai tadi malam, Erlangga pun mengantarkan Elfira pulang karena hari sudah mulai larut malam. Ia tak mau calon istrinya sakit akibat angin malam di pantai.
__ADS_1
Erlangga tersenyum mengingat kejadian tadi malam, ia merasa seperti mimpi bisa mendapatkan Elfira kembali setelah apa yang sudah mereka lalui yang membuatnya hampir kehilangan wanita itu. Sekarang Erlangga berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan apapun agar Elfira tidak lagi pergi dalam hidupnya.
Erlangga turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Erlangga pun bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Langkahnya begitu ringan dengan suasana hati yang sedang berbunga-bunga.
Tiba-tiba Erlangga merindukan calon istrinya, ia pun berjalan ke arah nakas dimana ponselnya berada. Segera Erlangga mencari kontak Elfira dan langsung menghubunginya.
Tak perlu menunggu lama karena Elfira langsung menjawab panggilannya setelah deringan pertama berbunyi.
"Assalamualaikum," sapa Elfira dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam sayang, kamu sudah bangun?"
"Sudah dari tadi dong, ini lagi di dapur nyiapin sarapan buat Anin," balas Elfira lagi.
"Kangen banget aku sama kamu, rasanya pengen cepat-cepat menikahi kamu biar bisa dibuatin sarapan juga sama kamu." Terdengar suara kekehan kecil dari Elfira. Wanita itu tak menyangka jika Erlangga bisa menggombal seperti itu.
"Kamu bisa saja, ya sudah kalau begitu kita menikah besok saja, gimana?" canda Elfira yang langsung di tanggapi serius oleh Erlangga.
"Oke. Aku malah senang banget, kalo bisa pun sekarang juga kita menikah. Kamu tunggu ya, aku akan menyiapkan semuanya dan besok kita akan menikah."
"Eh."
Panggilan langsung di putus secara sepihak oleh Erlangga. Dia begitu senang saat Elfira memintanya untuk menikahi wanita itu besok. Erlangga pun segera keluar dari kamar dan akan memberitahukan kepada sang ibu kalau dia akan menikah besok.
Sementara itu di rumah Elfira, wanita itu tampak kebingungan. Padahal ia hanya bercanda tapi kenapa lelaki itu langsung menanggapinya dengan serius. Elfira tampak panik dan berjalan mondar-mandir, ia takut Erlangga benar-benar akan menikahinya besok.
"Aduh, gimana ini," gumam Elfira. "Ah tau lah, nanti aku akan coba untuk bicara lagi dengannya." Elfira memutuskan untuk tak memusingkan perkataannya tadi. Ia pun melanjutkan kembali pekerjaannya, membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga anaknya. Masalah Erlangga, mungkin nanti dia akan datang ke kantor lelaki itu dan mengatakan kalau dirinya tak benar-benar ingin menikah besok. Bukan berarti Elfira tidak mau menikah dengan Erlangga, hanya saja tidak secepat itu.
__ADS_1
...****************...