Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 8


__ADS_3

Dengan perasaan kesal Anin kembali ke meja kerjanya, wajahnya yang di tekuk membuat teman-teman satu divisi menatap heran padanya.


"Lo kenapa?" tanya Renata yang duduk di sebelahnya.


Anin masih diam sambil bersandar pada kursi kerjanya. Nafasnya masih memburu menahan kesal atas ucapan Dirga tadi. Dia tak menyangka, orang yang tidak ingin di temuinya lagi malah menjadi atasannya di kantor.


"Heh. Nin! Malah bengong." Renata menepuk bahu Anin hingga membuat Anin tersadar dari lamunannya.


"Apa sih Re," protes Anin.


"Lo kenapa? Muka lo cemberut gitu, habis di marahi sama pak Dirga ya?"


"Nggak."


"Terus, kenapa tuh muka di tekuk begitu?"


"Nggak apa-apa."


"Ck," Renata berdecak kesal. Semua pertanyaannya hanya di jawab dengan singkat oleh Anin. "Lo ada hubungan apa sih sama pak Dirga?"


"Nggak ada hubungan apa-apa."


"Bohong."


"Beneran. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama pak Dirga."


"Terus kenapa kayaknya pak Dirga kenal banget sama lo."


"Nggak ada tuh, perasaan kamu aja mungkin. Udah ah, nggak usah tanya-tanya soal pak Dirga lagi. Buat mood aku jelek aja, mending kamu selesaikan pekerjaan kamu."


Tak ingin di tanya macam-macam lagi, Anin pun langsung fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Renata mendengus kesal karena tak puas dengan jawaban Anin.


Sementara itu, Dirga masih terus tersenyum mengingat wajah kesal Anin tadi. Sepertinya pria itu sudah benar-benar jatuh cinta pada Anin.


"Sepertinya hari-hari gue akan sangat menyenangkan selama di kantor ini. Gak nyangka gue bisa ketemu lagi sama cewek yang udah bikin gue gak bisa tidur nyenyak," gumamnya sambil membayangkan wajah cantik Anin.


Dirga kembali melamun, senyumnya tidak luntur sama sekali. Tanpa Dirga sadari, pak Darmanto masuk ke ruangan anaknya dan melihat Dirga yang sedang melamun menatap langit-langit kantor sambil tersenyum.


Pak Darmanto melihat ke arah pandangan Dirga, tak ada apapun di sana. Lantas, apa yang membuat anaknya itu tersenyum begitu lebarnya. Seumur hidupnya, pak Darmanto tak pernah melihat anaknya seperti itu.


"Apa karena aku paksa dia bekerja di kantor ya makanya Dirga jadi aneh begitu," gumam pak Darmanto. "Aku jadi merasa bersalah sama Dirga, mungkin sebaiknya aku tidak boleh memaksakan keinginanku lagi sama anak ini. Bisa-bisa Dirga jadi gila di usia muda," lanjutnya lagi.


"Sebaiknya aku pulang saja, aku tidak mau Dirga semakin stres saat melihatku berada di sini. Mungkin di rumah nanti aku akan menanyakannya pada Dirga."

__ADS_1


Tak ingin mengganggu Dirga, pak Darmanto pun keluar dari ruangan tersebut tanpa suara. Ia tak ingin mengganggu anaknya, pak Darmanto takut dirinya lah yang menjadi penyebab Dirga bersikap aneh saat ini.


...****************...


Malam hari saat Dirga baru saja sampai di rumah, ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lelah dan lengket setelah seharian bekerja dan mempelajari beberapa berkas yang akan dia tangani.


Selesai mandi, Dirga pun mengenakan pakaian santai nya saat di rumah. Kaos oblong berwarna hitam dan celana training abu-abu. Karena perut yang sudah terasa sangat lapar, Dirga segera keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Saat tiba di sana, ternyata sudah ada kedua orang tuanya.


"Malam Ma, Pa," ucap Dirga menyapa kedua orang tuanya. Tak lupa juga ia mencium pipi wanita yang sudah melahirkannya.


"Malam sayang," balas Maudy.


Setelah menyapa kedua orang tuanya, Dirga pun langsung duduk dan mengambil piring kosong yang sudah tersedia. Kemudian Dirga menyendokkan nasi ke piringnya lalu ayam bakar dan sambal kecap serta lalapannya.


Sebelum menyantap makan malamnya, tak lupa Dirga membaca doa sebelum makan. Setelah itu baru lah dia menyantap makanannya dengan lahap. Dirga merasa sangat lapar karena sejak siang tadi belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perutnya. Pekerjaannya yang menumpuk membuat Dirga tak sempat untuk makan siang. Hanya sebungkus roti dan secangkir kopi untuk mengganjal perutnya.


Selama makan, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Pak Darmanto memang sengaja membiasakan anak dan istrinya untuk tidak berbicara saat sedang makan. Mereka akan mengobrol dan membahas apa pun setelah mereka selesai makan dan tak ada lagi makanan di atas meja, kecuali cemilan dan teh yang akan menemani mereka mengobrol.


Selesai makan malam, para asisten rumah tangga pun membereskan meja makan dan mengambil piring kotor bekas makan sang majikan lalu membawanya ke dapur.


Untuk beberapa saat mereka saling diam dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Jika Dirga dan Pak Darmanto sibuk dengan pekerjaan maka berbeda dengan Maudy yang sibuk dengan Genk arisannya.


Hingga sesaat kemudian, pak Darmanto meletakkan ponselnya di atas meja makan dan mulai membuka suara.


"Iya Pa."


"Bagaimana selama di kantor tadi, apa semuanya baik-baik saja?" tanya pak Darmanto hati-hati.


"Aman kok Pa, semuanya baik-baik aja. Dirga juga sudah mempelajari berkas-berkas penting yang di berikan sama pak Ruben."


Pak Darmanto tampak mengangguk paham, pak Ruben adalah asistennya yang sebentar lagi akan pensiun. Namun, sebelum pak Ruben benar-benar pensiun, beliau di minta oleh pak Darmanto untuk membantu Dirga memahami pekerjaannya sebagai seorang CEO.


"Beneran tidak ada masalah kan?" tanya pak Darmanto sekali lagi. Dia harus memastikan kalau anaknya memang baik-baik saja dan tidak merasa tertekan.


"Beneran Pa. Memangnya kenapa sih?" tanya Dirga bingung, dia sampai mengerutkan keningnya melihat sang ayah yang tampak khawatir.


"Ya nggak apa-apa toh. Papa kan cuma nanya saja, karena hari ini adalah hari pertama kamu masuk kantor," ucap pak Darmanto.


Dirga pun tak ambil pusing, kemudian dia pamit lebih dulu ingin ke kamarnya. Dirga ingin segera beristirahat dan tidur agar saat bangun esok hari tubuhnya sudah kembali segar. Dan dia pun bisa melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.


...****************...


Sementara itu di rumah keluarga Erlangga, mereka juga sedang menyantap makan malam. Namun, berbanding terbalik dengan keluarga pak Darmanto. Keluarga Erlangga justru sangat ramai saat sedang makan malam. Apalagi Kenan yang sangat suka menjahili kakaknya.

__ADS_1


Seperti saat ini, dengan isengnya Kenan menyendokkan nasi lalu meletakkannya di atas piring Anin.


"KENAN!" teriak Anin kesal.


"Kakak!" tegur Elfira.


"Kenan Bun. Lihat nih," ucap Anin membela diri. Ia pun menunjukkan piringnya yang penuh kembali dengan nasi.


Elfira pun menatap Kenan, sementara yang di tatap hanya cengengesan saja.


"Habisnya kak Anin makannya dikit banget, gimana mau gemuk coba," ejek Kenan membuat Anin melotot ke arahnya.


"Siapa juga yang mau gemuk, aku tuh lagi diet tau."


"Yaelah kak, badan udah tinggal tulang sama k*ntut doang sok-sokan mau diet."


"Ish, kamu ya." Anin tak terima dengan ejekan Kenan, ia pun memukuli Kenan membuat adiknya terus mengaduh.


"Sudah cukup." Suara bariton Erlangga membuat aksi kedua anaknya langsung berhenti. Baik Anin mau pun Kenan tak ada yang berani berkutik jika Erlangga sudah membuka suara.


"Kenan. Minta maaf sama kakak kamu," pinta Erlangga.


Dengan terpaksa Kenan pun mengulurkan tangannya ke arah Anin. "Maaf kak," ucapnya kemudian.


"Hmm. Jangan di ulangi lagi," balas Anin.


Anin mengambil piringnya lalu menuangkan nasi yang diberikan Kenan tadi ke piring sang adik. Mata Kenan melebar sempurna, dia ingin protes tapi Anin langsung mencegahnya.


"Habiskan. Tidak boleh mubazir makanan," balas Anin dengan senyum penuh kemenangan. Setelah itu ia membawa piring bekas makannya ke dapur.


"Bunda ..." adunya pada Elfira.


"Habiskan Ken, masih banyak orang-orang di luar sana yang kelaparan dan membutuhkan makanan," ucap Elfira sambil berlalu membawa piring bekas makannya.


Kenan beralih menatap Erlangga dan berharap ayahnya mau membantunya. Belum lagi Kenan membuka suara, Erlangga sudah lebih dulu berkata. "Tolong nanti kamu bereskan setelah selesai makannya ya."


Tak beda jauh dengan Anin dan Elfira, Erlangga juga membawa piring bekas makannya ke dapur meninggalkan Kenan yang masih menatap tak percaya pada orang tua dan kakaknya.


Kini Kenan beralih menatap nasi di atas piringnya, "gimana cara aku menghabiskannya, perut ku udah kenyang banget. Rasanya kayak mau meledak," gumam Kenan frustasi.


Sementara itu, Erlangga, Elfira dan juga Anin mengintip Kenan yang tampak frustasi melihat nasi di piringnya. Mereka bertiga tertawa tanpa suara karena sudah berhasil membalas kejahilan Kenan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2