Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 24


__ADS_3

"Dirga. Jelaskan sama mama, apa yang sudah kamu lakukan pada Anin." Maudy tampak marah pada anaknya. Dia tak menyangka jika anaknya bisa bersikap seperti itu, padahal Maudy tidak pernah mengajarkan Dirga untuk memandang rendah pada orang lain, apalagi jika sampai harus menghina dan menyakiti perasaan orang lain.


Dirga menatap ibunya lalu berkata, "Dirga bisa jelaskan nanti di rumah. Tapi sebelum itu ... " Dirga menghentikan perkataannya lalu menatap Elfira. "Saya boleh pinjam Anin nya sebentar Tante?"


Elfira menatap Dirga lalu menoleh pada Anin yang juga menatap dirinya. Samar Anin menggelengkan kepalanya tapi Elfira malah tersenyum dan mengijinkan Dirga untuk membawa Anin.


Anin mendesah kecewa karena ibunya malah tidak mendukung dirinya.


"Selesaikan masalah kalian, jangan biarkan sampai berlarut-larut. Kamu ingatkan apa yang pernah bunda katakan dulu?"


Anin pun teringat akan perkataan bundanya beberapa waktu lalu, "meminta maaf tak menjadikan kita hina, memaafkan tak menjadikan kita bangga, tapi ia akan menjadikan hidup kita tenang dan bahagia."


Dengan terpaksa Anin pun meminta Dirga untuk mengikutinya. Dirga merasa senang karena Anin mau memberikannya kesempatan.


Saat melihat Dirga yang berjalan di belakang Anin, Maudy sempat berteriak menyemangati putranya itu.


"Pepet terus Ga, jangan kasih kendor!" teriak Maudy membuat ia menjadi pusat perhatian, sementara Elfira menutup wajahnya dengan tangan karena merasa malu atas tindakan temannya itu.


Dirga yang mendapat semangat dari ibunya pun berbalik dan mengangkat kedua ibu jari nya.


...****************...


"Sepuluh menit," ucap Anin.


Anin membawa Dirga ke parkiran motor yang ada di belakang mall yang mereka datangi. Ia berdiri sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam pada Dirga.


Untuk pertama kalinya selama mengenal Anin, Dirga melihat gadis itu begitu menyeramkan hingga membuat Dirga harus menelan saliva nya dengan susah payah. Ternyata wanita jika sudah marah akan sangat mengerikan, setelah ini Dirga berjanji tidak akan membuat Anin marah lagi.


"Aku minta maaf atas semua perkataanku tempo hari. Aku juga sudah menyesalinya."


"Itu aja?"


"Aku tau kesalahanku ini tidak termaafkan, tapi aku tetap berharap kamu mau berbaik hati memberikan maaf pada ku yang sudah menyakitimu." Dirga menatap Anin dan menunggu reaksi gadis itu. Namun, sudah beberapa detik menunggu, Anin masih terdiam.


"Aku cemburu kamu lebih dekat dengan mereka dari pada aku yang jelas-jelas sudah pernah menyatakan perasaan padamu. Tapi kamu selalu mengabaikan ku."


"Lantas, hanya karena cemburu kamu berhak untuk menghina aku sesuka hati?" berang Anin. "Aku dekat dengan mereka karena mereka adalah keluargaku, tapi kamu ... "

__ADS_1


"Iya aku tau, aku salah. Waktu itu aku belum tau kalau mereka keluarga kamu ... "


"Makanya cari tau dulu sebelum menyakiti orang lain. Kan sudah berkali-kali aku bilang, kalau nggak tau apa-apa jangan asal tuduh. Tapi kamu terus menghinaku dan ayahku seolah-olah kamu paling tau tentang diriku!" bentak Anin dengan nafas yang memburu. Gadis itu mengeluarkan semua emosinya.


Melihat kemarahan Anin, tanpa di duga, Dirga menekuk lututnya dan menunduk sambil memohon untuk di maafkan.


Tindakan Dirga yang seperti itu membuat mereka menjadi pusat perhatian, dan banyak dari mereka yang berbisik-bisik sambil melihat ke arah mereka.


Seketika Anin menjadi panik, ia tak menyangka jika Dirga akan berbuat nekat seperti itu.


"Kamu apa-apaan sih, bangun nggak!" ucapnya sambil membantu Dirga untuk berdiri, tapi Dirga justru melepaskan tangan Anin dan tetap pada posisinya yang berlutut.


"Aku nggak akan bangun sebelum kamu maafin aku."


"Bangun Ga, malu di lihatin orang." Anin celingukan melihat kanan kiri dan merasa malu pada orang-orang.


"Aku nggak peduli, aku akan tetap berlutut sampe kamu mau maafin aku."


Sepertinya Anin tak punya pilihan lain selain memaafkan Dirga, dia tak mau menjadi viral dan di hujat netizen karena sudah membuat seorang CEO dari perusahaan fashion terkenal berlutut di hadapannya.


"Ya udah aku maafkan," ucap Anin lirih.


Anin memutar bola matanya jengah, entah Dirga pura-pura tidak mendengarnya atau dia memang sengaja ingin membuat Anin mengulangi perkataannya. Namun begitu, Anin tetap saja mengulang apa yang dia katakan tadi.


"Aku maafin kamu, udah buruan berdiri. Nggak enak dilihatin orang terus," gerutunya sambil mengangkat tubuh Dirga agar pria itu berdiri.


Sebuah senyum tipis terbit dari bibir Dirga. Dia lega sekaligus senang karena akhirnya Anin berbaik hati memaafkannya.


"Terimakasih. Terimakasih kamu mau memaafkan ku," ucap Dirga sambil menggenggam kedua tangan Anin.


"Terpaksa," gumam Anin namun masih bisa di dengar oleh Dirga.


"Nggak apa-apa terpaksa, di maafin sama kamu aja aku udah bersyukur banget."


"Lebay." Anin menghempaskan tangannya lalu berbalik dan pergi meninggalkan Dirga.


Melihat Anin yang pergi begitu saja, Dirga pun berlari mengejarnya. Mereka berdua berjalan beriringan kembali ke tempat ibu mereka berada.

__ADS_1


...****************...


"Dasar anak b*d*h, kenapa kamu bisa melakukan hal itu hah!" Maudy membentak dan memarahi Dirga habis-habisan, bahkan tak jarang lelaki itu mendapat pukulan dari sang ibu.


Setelah menceritakan apa yang terjadi antara Dirga dan Anin, Maudy langsung berang dan menyalahkan sikap dan tindakan Dirga kepada gadis itu. Hanya karena rasa cemburunya yang berlebihan, Dirga harus menyakiti wanita itu.


"Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, apa lagi pada orang tua. Kalau sudah begini, bagaimana cara kamu untuk mendapatkan hatinya." Bahu Maudy tampak naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu.


"Maaf ma, Dirga nggak sengaja. Lagian Dirga kan udah minta maaf sama Anin," ujar Dirga membela diri.


"Kamu pikir dengan minta maaf bisa mengobati sakit hatinya? Akh, menyesal mama membesarkan kamu. Tau begini mama buang aja kamu ke sungai biar di makan buaya sekalian." Maudy terus mengomel karena saking kesalnya.


"Mama tega banget."


"Ada apa ini?" Pak Darmanto menghampiri anak dan istrinya.


"Ada apa ini Ma?" tanya nya sekali lagi.


"Mama tuh lagi kesal Pa, anak b*d*h ini sudah membuat mama malu di depan teman mama. Bisa-bisanya dia menghina anak teman mama itu, memangnya dia sudah sehebat apa sampai harus bersikap seperti itu?" Maudy benar-benar geram dengan Dirga.


Mendengar penjelasan dari istrinya, pak Darmanto pun beralih pada Dirga dan menatap anaknya seolah-olah meminta penjelasan.


"Dirga udah salah Pa, Dirga terlalu cemburu makanya Dirga khilaf," ucap Dirga memberi alasan.


"Itu bukan khilaf namanya, tapi b*d*h," sambar Maudy geram.


"Sudah Ma, kamu ini. Anak sendiri pun masih di kata-katai juga." Pak Darmanto pun mulai ikut kesal, tapi bukan pada Dirga melainkan pada istrinya yang selalu menyalahkan anaknya dan mengata-ngatai anaknya itu.


"Tuh, lihat. Mama baru bilang b*d*h aja papa udah kesal, apalagi mereka yang sudah di hina habis-habisan sama anak tengik ini," berang Maudy dan ingin memukul Dirga lagi, tapi langsung di halau oleh pak Darmanto.


"Sudah Ma, jangan di pukul terus anaknya. Kalau dia geger otak gimana?"


"Biarin aja, justru malah tambah bagus kalau dia geger otak," ucap Maudy sambil menatap tajam pada Dirga. "Mama itu udah malu banget sama teman mama, mau di tarok di mana muka mama nanti. Mama udah tidak punya muka lagi, Pa."


"Itu muka mama masih ada," timpal Dirga membuat Maudy semakin kesal. Dia sudah akan memukul kepala Dirga tapi pak Darmanto langsung menghentikannya.


"Sudah, sudah. Begini saja, bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah teman mama itu. Kita semua minta maaf pada mereka," usul pak darmanto yang langsung di setujui oleh Maudy dan Dirga.

__ADS_1


Tentu saja Dirga langsung setuju, dalam hatinya dia senang karena itu adalah kesempatan baginya untuk tahu di mana Anin tinggal dan kesempatan baginya untuk bisa semakin dekat dengan Anin. Apalagi ibu mereka saling mengenal, tentu saja hal itu akan semakin mempermudah usahanya untuk mendapatkan wanita pujaannya itu.


...****************...


__ADS_2