
"Itu kan ..."
Anin melebarkan kedua matanya saat mengingat siapa pria yang sedang berjalan di atas podium. Wajah yang tampan dengan rahang yang tegas, tubuhnya tegap dan tinggi sekitar 180 cm itu terus berjalan mendekati pak Darmanto.
Saat pria itu berdiri menghadap seluruh karyawan, mata mereka saling bertemu dan Anin bisa melihat pria itu menyeringai ke arahnya. Namun, hanya sesaat saja, setelah itu pria tersebut mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Baiklah semuanya, kalian semua bisa lihat kan pria yang di sebelah saya ini adalah anak saya satu-satunya dan dia yang akan menggantikan saya meneruskan perusahaan ini. Namanya Dirga Pratama."
Suara tepukan tangan kembali terdengar, seluruh karyawan menyambut kedatangan Dirga, CEO baru mereka. Para pegawai wanita begitu bersemangat saat mengetahui jika atasan baru mereka adalah seorang pria yang sangat tampan. Berbeda dengan Anin, wanita itu hanya diam saja dengan perasaan yang masih tidak percaya.
Pria yang ada di hadapannya itu sekarang adalah atasannya. Sosok pria yang Anin ingat pernah merangkul pinggangnya dengan sembarangan dan memintanya berpura-pura menjadi kekasih pria itu. Anin merasa, setelah ini hidupnya di kantor tidak akan tenang. Entah kenapa Anin merasa atasan barunya itu akan terus mengganggunya. Apalagi kini pria itu kembali menatapnya tajam dengan senyuman yang sangat mengerikan bagi Anin.
Acara penyambutan CEO baru telah selesai, kini semua karyawan sudah kembali ke meja kerja mereka masing-masing dan melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Begitu juga dengan Anin yang kini sedang serius menggambar sketsa pakaian untuk acara Pratama Group Fashion Week bulan depan. Ia ingin pakaian rancangannya nanti di tampilkan di acara itu dan di perkenalkan oleh banyak orang. Anin ingin membuktikan dirinya kepada semua orang kalau dia adalah seorang desainer yang mempunyai kemampuan dan Anin juga ingin membuktikan kepada semua orang kalau dia bisa sukses dengan tangannya sendiri, bukan karena orang tuanya. Untuk itu Anin tidak pernah mengatakan kepada teman-temannya di kantor kalau dirinya adalah anak dari seorang pengusaha yang terkenal.
"Hai!" sapa seseorang membuat Anin mengalihkan matanya dari pekerjaan.
Anin terkejut saat melihat sosok pria tinggi itu berada di hadapannya. Begitu juga dengan Renata dan yang lainnya. Mereka tak menyangka jika CEO baru mereka akan datang ke ruangan divisi desain.
"Gambar kamu bagus, ternyata kamu bekerja di sini juga ya," puji Dirga tanpa peduli dengan tatapan heran dari karyawan yang ada dalam ruangan itu.
"Bisa ikut saya sebentar?" tanya nya membuat Anin semakin membulatkan matanya.
"Ma-maaf Pak, tapi saya masih ... "
"Tidak apa-apa, sebentar saja kok," potongnya cepat tanpa menunggu Anin selesai berucap.
Anin menatap Renata, sedangkan yang di tatap malah bengong menatap Dirga dengan penuh kekaguman. Anin menghela nafasnya dan mengikuti langkah Dirga yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
...****************...
"Silahkan duduk," ucap Dirga dengan lembut.
Anin pun duduk di kursi tepat di depan meja kerja Dirga. Ia menunduk takut, tak berani menatap atasannya itu. Sementara Dirga, tatapannya tak lepas dari wajah cantik Anin sejak tadi. Pria 28 tahun itu tak melunturkan senyumnya saat matanya melihat wajah yang selama beberapa ini mengganggu pikirannya.
"Siapa nama kamu?" tanya Dirga memecahkan keheningan yang sejak tadi terjadi antara mereka berdua. Bahasa pun sedikit formal di bandingkan saat mereka pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu.
"Anindya Pak," jawab Anin tanpa menata lawan bicaranya.
__ADS_1
"Tegakkan wajah kamu dan tatap mata saya!" perintah Dirga penuh penekanan.
Mau tak mau Anin pun menegakkan wajahnya, ia harus menelan Saliva nya dengan susah payah saat melihat tatapan Dirga yang begitu mengintimidasi. Tatapan Dirga yang begitu tajam membuat jantung Anin berdetak begitu kencang.
"Gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi di sini."
Anin diam dan kembali menunduk, jantungnya tak kuat menatap mata tajam Dirga.
"Tatap mata saya Anin!" Suara tegas Dirga membuat Anin langsung menegakkan kepalanya.
"Kenapa kamu hobi sekali menunduk, memangnya di bawah sana lebih menarik dari pada wajah tampan saya?"
"Maaf Pak."
Haaah
Dirga menghela nafasnya, sepertinya sulit sekali mengajak Anin untuk bicara. Sejak tadi ia hanya menunduk dan jika di tanya hanya di jawab dengan singkat. Dirga mengira kalau Anin memang tipe wanita pendiam dan tak banyak bicara.
"Terimakasih untuk bantuan kamu waktu itu, dan karena hari ini kita bertemu kembali maka sekarang kamu resmi menjadi pacar saya," ucap Dirga dengan seenak hatinya.
Secara spontan Anin pun mendongak dan membulatkan kedua matanya.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak mau jadi pacar saya?"
"TIDAK!" tolak Anin dengan tegas.
Dirga sedikit tercengang, ia tak percaya jika Anin akan menolaknya. Selama ini banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya dan ingin menjadi kekasihnya. Dan baru kali ini dia di tolak oleh seorang gadis yang bahkan dirinya sendiri yang menawarkan untuk menjadikannya kekasih Dirga. Pria itu pun semakin tertarik dengan penolakan Anin. Semakin Anin menolak, maka akan menjadi sebuah tantangan yang menarik bagi Dirga untuk bisa mendapatkan Anin.
"Kenapa? Apa wajah saya kurang tampan menurut kamu?" tanya Dirga dengan percaya dirinya.
Sebenarnya Anin sudah muak berada dalam ruangan itu, apalagi melihat sikap bosnya yang terlalu narsis.
"Ya. Wajah bapak itu kurang tampan, bahkan jelek. Sangat jelek, dan saya tidak suka." Habis sudah kesabaran Anin, ia pun meluapkan kekesalannya. Tak peduli jika nanti ia harus di pecat gara-gara masalah ini.
Dirga terkejut mendengar perkataan Anin yang tampak begitu kesal. Ia pikir Anin adalah tipe wanita pendiam, tapi ternyata wanita yang ada di hadapannya ini bisa marah juga.
"Ternyata kamu berani juga ya. Saya pikir kamu tipe wanita yang pendiam dan penakut."
"Saya diam bukan berarti saya takut, saya diam karena saya menghargai Anda sebagai atasan saya. Tapi, jika sikap anda seperti ini maka saya tidak bisa diam saja."
__ADS_1
"Kamu tidak takut saya pecat," ancam Dirga.
"Tidak. Saya tidak takut di pecat, bahkan saya akan sangat berterimakasih jika bapak bersedia memecat saya saat ini juga. Supaya saya tidak perlu bertemu dengan bapak lagi."
"Tapi sayangnya saya tidak mau memecat kamu, gimana dong," goda Dirga yang semakin membuat Anin kesal.
"Kalau begitu saya yang akan mengundurkan diri."
"Di TOLAK! Saya tidak akan menandatangani surat pengunduran diri kamu."
Dirga tersenyum dengan penuh kemenangan melihat mangsanya yang semakin tersudut.
"Saya tidak peduli, bagaimana pun caranya saya akan tetap mengundurkan diri."
"Kalau begitu kamu harus membayar biaya pinalti karena telah melanggar kontrak."
Anin terdiam, ia lupa dengan kontrak kerja di perusahaan itu. Siapa pun yang mengundurkan diri selama masa kontrak berlangsung maka akan di kenakan biaya pinalti sebesar 1 milyar.
Jumlah sebesar itu bukannya Anin tak sanggup, bisa saja dia minta pada orang tuanya. Tapi, Anin tidak mau melakukan itu.
"Sebenarnya mau bapak apa sih?" tanya nya kesal.
"Seperti yang saya katakan tadi, saya mau kamu jadi pacar saya."
Anin semakin kesal dibuatnya, ia tak habis pikir dengan atasannya itu. Sepertinya pembicaraan mereka tidak akan ada habisnya. Lebih baik dia pergi saja dari ruangan itu daripada menjadi semakin gila.
"Sepertinya tidak ada hal penting lagi yang ingin anda bicarakan. Kalau begitu saya permisi," ucap Anin sambil membungkuk hormat dan pergi dari ruangan Dirga.
"Dah Pacar, sampai ketemu nanti ya!" teriak Dirga yang membuat Anin semakin kesal dan membenci atasannya itu.
Braaak
Anin menutup pintu dengan keras, tak peduli jika atasannya itu akan marah.
"Dasar sinting, memangnya dia pikir dia itu siapa? Jangan mentang-mentang dia atasan terus bisa bersikap sesuka hati," gerutu Anin di depan pintu ruangan Dirga. Setelah itu ia kembali ke ruangannya.
Sementara itu, Dirga masih tetap tak menghilangkan senyumnya. Ia semakin terpesona dengan Anin. Sikap galak Anin justru semakin membuatnya menyukai gadis itu.
"Gila! Kayaknya gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama tuh cewek. Bagaimanapun juga gue harus bisa mendapatkannya. Dan gue pastikan kalau dia hanya akan menjadi milik gue. Milik Dirga Pratama," ucap Dirga bermonolog.
__ADS_1
...****************...