Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 32


__ADS_3

"Aku kangen banget sama kamu." Tanpa di sangka-sangka, seorang wanita datang dan langsung memeluk Dirga begitu saja.


Spontan Dirga melirik Anin yang ternyata juga menatap mereka tanpa ekspresi. Dirga tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Anin saat ini. Apakah Anin marah atau ... .


Entahlah, Dirga tidak bisa menebaknya. Yang jelas, saat ini pikiran Dirga sedang kacau. Hatinya tidak tenang, ia takut Anin akan semakin membencinya dan hal ini akan semakin mempersulit dirinya mendapatkan hati gadis itu.


Cepat-cepat Dirga melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar. "Apa-apaan kamu! Datang-datang langsung main peluk sembarangan!" bentaknya membuat atensi pengunjung yang lainnya menjadi kepada mereka.


"Kamu kok gitu sih, aku tuh kangen sama kamu," rengek wanita itu sambil berusaha ingin memeluk Dirga kembali. Namun, Dirga langsung menghindar sehingga wanita itu hanya memeluk angin saja.


"Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum aku berbuat kasar!"


Wanita itu menekuk wajahnya lalu menatap tak suka pada Anin yang masih tetap santai sambil meneguk minumannya. wanita bernama Siska itu menghampiri Anin lalu melabraknya.


"Heh! Cewek murahan! Punya apa lo sampe berani merebut Dirga dari gue!"


Anin mendongak menatap Siska, lalu tersenyum meremehkan. Setelahnya ia kembali meneguk minumannya hingga tandas. Sementara Siska menggeram kesal karena ucapannya tak di pedulikan oleh Anin.


"Heh! Gue lagi ngomong sama lo ya," ujarnya lagi semakin kesal.


"Oh! Kamu lagi ngomong sama aku? Kirain ngomong sama meja," balas Anin santai, beberapa pengunjung ada yang tertawa mendengar ledekan Anin.


"Lo ... " Siska mengangkat sebelah tangannya dan bersiap mendaratkannya di pipi Anin, tapi langsung di cegah oleh Dirga.


"Jangan coba-coba lo sentuh cewek gue!" bentak Dirga marah hingga Siska pun tak berani melanjutkan aksinya. "Sedikit aja ada yang lecet dari tubuhnya, siap-siap gue bikin hidup lo menderita," ancamnya kemudian.


Siska tak bisa berkutik mendengar ancaman Dirga, setiap yang di ucapkan oleh laki-laki itu bukan lah sebuah ancaman semata. Tak ingin membuat Dirga semakin marah, Siska memilih untuk pergi dari sana.


Setelah memastikan Siska benar-benar pergi, Dirga menghampiri Anin dan berjongkok di sampingnya. "Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang lecet kan?" tanya Dirga sambil meneliti wajah Anin.


"Ish. Apaan sih." Anin menepis tangan Dirga dari wajahnya, "orang aku nggak apa-apa juga," lanjutnya kesal. "Lagian siapa sih itu tadi? Mantan kamu?"


"Nggak penting dia siapa, yang penting itu sekarang kamu. Karena kamu adalah masa depan aku, kamu calon istri aku dan calon ibu dari anak-anak aku."

__ADS_1


"Dih. Malah nge-gombal." Anin bangkit lalu menyandang tas nya di bahu.


"Kamu mau kemana?" Dirga bangkit dari jongkoknya dan mencegah Anin pergi.


"Dirga. Aku tuh masih banyak urusan, jadi aku harus pergi sekarang juga. Kalo kamu masih mau di sini ya silahkan, tapi jangan lupa kamu bayarkan makanan aku," ucapnya lalu pergi dari warung bubur tersebut.


"Lah. Kok malah di tinggal sih," gerutu Dirga lalu segera berlari ke meja kasir. Setelah itu dia buru-buru keluar dan mencari keberadaan Anin.


...****************...


"Kenapa tuh muka? Kusut amat kayak pakaian yang seminggu nggak di setrika," ledek Axel pada Siska yang baru saja datang.


"Gue tuh lagi kesel tau nggak ... "


"Nggak," sahut Axel cepat membuat Siska menatapnya tajam. "Hehe. Becanda Sis, gitu aja marah," sambungnya.


"Gue tadi ketemu sama mantan gue. Dia lagi sama cewek barunya," ucapnya sambil memasang wajah kesal, mengingat kejadian tadi.


"Heleh. Kayak yang lo udah bisa move on aja," balas Siska tak terima. "Lo sendiri juga kan masih cinta mati sama tuh cewek."


Axel membuang nafasnya kasar, benar apa yang dikatakan Siska kalau dia memang belum bisa move on dari Anin. Tapi, perasaannya terhadap Anin juga tidak boleh ia teruskan. Karena bagaimanapun juga, Anin adalah kakaknya. Mereka saudara satu ayah, jadi Axel tidak boleh memiliki perasaan lebih terhadap Anin. Untuk itu, Axel mulai menjaga jarak dengan Anin. Dia tidak mau terlalu dekat agar bisa dengan cepat melupakan perasaannya terhadap gadis itu.


"Woi! Malah bengong."


"Kayaknya gue harus move on deh," kata Axel tiba-tiba.


"Kenapa? Masa belum berjuang udah nyerah aja, cemen banget sih lo," ejek Siska.


"Gue bukannya cemen Sis, tapi ... "


"Tapi ... " ulang Siska.


"Kita punya ayah yang sama," ucap Axel sendu. Menurut Axel, takdir sangat kejam pada dirinya. Kenapa dia harus di buat jatuh cinta pada kakaknya sendiri, padahal di kampusnya banyak cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia.

__ADS_1


"Punya ayah yang sama?" kata Siska membeo. "Maksud lo, lo suka sama Nayla? Adek lo sendiri?" Siska menatap Axel tak percaya, dia tak menyangka kalau Axel mencintai adik kandungnya sendiri.


Axel menoyor kepala Siska saking kesalnya, sepupunya itu kadang-kadang suka nyeleneh dan mengambil kesimpulan sendiri.


"Lo kira gue cowok apaan, jatuh cinta sama adek gue sendiri," balasnya tak terima. "Maksud gue bukan Nayla, tapi anak bokap gue dari mantan istrinya yang dulu."


"Dasar b*go lo, itu sih sama aja. Apa bedanya Nayla sama tuh cewek. Emang bener-bener udah sakit jiwa lo, mending lo ke rumah sakit deh. Periksa'in otak lo yang udah eror itu." Siska yang kesal pun bangkit lalu pergi meninggalkan Axel.


Axel memandang kepergian Siska hingga gadis itu tak tampak lagi di pandangannya, "perasaan salah melulu deh gue."


...****************...


"Mas Adam! Kamu tau dari mana aku tinggal di sini?" Sandra menatap kaget pada sosok Adam yang sudah berdiri di hadapannya. Sandra tak menyangka jika Adam bisa menemukannya di rumah Rendi, padahal ia tak pernah memberitahukan kepada siapapun dimana dia tinggal. Termasuk anak-anaknya.


"Tidak sulit untukku mencari keberadaan kamu Sandra. Aku tau, sejak dulu kamu pasti akan mendatangi simpananmu itu jika sedang bertengkar denganku. Iya kan?" Adam tersenyum mengejek pada Sandra.


"Jaga ucapan kamu mas! Kalau bukan karena kamu yang mengusirku dari rumah tanpa memberiku uang sepeserpun, mungkin aku tidak akan berada di sini. Malam itu aku kelaparan, kehausan dan tidak punya uang. Aku tidak tau harus kemana, tapi Rendi datang mengulurkan tangannya dan menolongku. Dia juga memberikan aku tempat tinggal." Sandra emosi setiap kali mengingat kejadian itu, baginya Adam adalah suami yang tidak punya perasaan.


"Jangan mencari pembenaran atas kesalahan yang kamu buat sendiri, aku sudah muak dengan semua alasan kamu, Sandra."


"Lagi pula aku datang ke sini bukan untuk membahas masa lalu." Adam menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat kepada Sandra.


"Apa ini?" tanya Sandra sambil membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Mata Sandra membulat sempurna tatkala membaca isi di dalamnya.


"Gugatan cerai?" gumam Sandra.


"Apa-apaan ini mas? Kamu gugat cerai aku?" Sandra tak terima dirinya diceraikan begitu saja oleh Adam.


"Sudah sejak dulu aku ingin melakukannya, tapi banyak hal yang harus aku pertimbangkan hingga aku masih tetap mempertahankan mu. Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi alasan buat ku untuk tidak menceraikan mu," ujar Adam penuh penekanan.


"Aku sudah menandatangani surat cerai itu," lanjutnya. "Sampai bertemu di pengadilan, Sandra." Adam berbalik lalu pergi meninggalkan Sandra yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2