Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 31


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Anin sudah bersiap-siap untuk pergi ke konveksi. Hari ini dia berniat berbelanja beberapa jenis kain untuk membuat pakaian rancangannya, dan juga untuk membuat gaun yang akan dia kenakan di acara fashion week perusahaan Dirga. Anin sengaja memakai gaun rancangannya sendiri, agar ia nyaman memakainya.


Anin berjalan menuruni anak tangga, saat sudah berada di anak tangga terakhir, dia melihat satu makhluk yang sangat di kenalnya dan tampak tersenyum padanya. Anin memutar bola matanya malas, hari masih pagi tapi mood nya sudah rusak di buat oleh tamu tak di undang itu.


"Hai!" sapa Dirga yang tak di hiraukan Anin. Gadis itu terus berjalan melewati Dirga dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Anin berangkat dulu ya Bun, Pa," pamitnya seraya mencium tangan mereka.


"Kamu nggak sarapan dulu sayang?"


"Nggak Bun, tiba-tiba Anin nggak selera makan," kata Anin beralasan sambil melirik tajam pada Dirga. "Nanti Anin sarapan di luar aja deh," katanya lagi.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya."


"Iya Pa."


Anin pun beranjak dan bersiap untuk pergi, namun dia harus menghentikan langkahnya saat mendengar suara Dirga yang juga berpamitan pada kedua orangtua Anin. Gadis itu memutar tubuhnya dan melihat Dirga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Setelahnya, Dirga berjalan mendekatinya dan menggandeng tangannya tanpa ijin.


"Yuk, kita pergi!" kata Dirga.


Anin yang masih belum mengerti maksud Dirga hanya bisa berdiri mematung di tempatnya, membuat Dirga harus berbalik menatap dirinya.


"Kenapa diam aja di situ. Ayo! Nanti kamu kesiangan loh," ucap Dirga.


"Kemana?" tanya Anin yang masih bingung.


"Kok kemana sih? Bukannya hari ini kamu mau ke konveksi ya?"


"Iya."


"Ya udah ayo. Aku antar, sekalian nanti kita cari sarapan dulu. Kamu kan belum sarapan, aku nggak mau kamu sakit gara-gara telat makan," ucap Dirga dengan penuh perhatian.


Erlangga dan istrinya tampak saling lirik lalu tersenyum penuh arti. Dalam benak mereka, sepertinya sebentar lagi mereka akan mempunyai menantu.


"Yang minta di antar sama kamu siapa? Aku mau pergi sendiri."


"Tapi aku mau mengantar kamu, aku tau di mana konveksi yang bagus. Nanti sekalian aku kenalin deh sama langganan aku."


"Nggak! Nggak perlu! Aku nggak mau di antar sama kamu. Kamu pikir aku nggak bisa mencari konveksi yang bagus? Lagian aku juga udah punya langganan sendiri," tolak Anin yang masih keras pada pendiriannya.


"Sudahlah nak, kamu pergi di antar sama nak Dirga saja. Papa justru merasa lebih tenang kamu berangkat sama Dirga dari pada pergi sendiri," timpal Erlangga membuat Dirga melebarkan senyum penuh kemenangan karena merasa ada yang mendukungnya.


"Benar apa kata papa kamu sayang, Bunda juga sependapat," sahut Elfira yang semakin membuat Anin tak bisa berkutik.

__ADS_1


Dalam hati Dirga ia bersorak senang karena mendapat dukungan dari kedua orangtua Anin. Sepertinya langkah Dirga untuk mendapatkan hati Anin akan semakin mudah.


Anin menatap kedua orangtuanya dengan tatapan memelas, tapi sepertinya mereka tidak peduli dan malah semakin gencar memintanya untuk ikut bersama Dirga. Karena merasa percuma, akhirnya Anin pun terpaksa menurut. Ia beralih pada Dirga dan menatap sinis padanya, seolah-olah sedang berkata, "puas kamu?"


Sementara Dirga cengengesan dan mempersilahkan Anin untuk berjalan lebih dulu. Setelahnya ia pun ikut menyusul Anin di belakang.


...****************...


Mobil Dirga berbelok lalu berhenti di depan sebuah warung bubur ayam. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia pun segera mengajak Anin untuk turun.


"Yuk, turun."


"Ngapain kita ke sini?"


Dirga menatap Anin lalu tersenyum manis padanya, "kita mau sarapan dulu sayang. Kamu belum sempat sarapan tadi kan di rumah?"


"Sayang, sayang. Siapa yang sayang?"


"Ya kamu lah. Kamu kan sayang nya aku," ucap Dirga melebarkan senyumnya membuat Anin muak lalu berekspresi seperti orang yang mau muntah.


"Terserah kamu lah, Ga. Yang jelas aku nggak mau turun." Anin tetap berkeras dan tetap duduk di tempatnya.


"Tapi kamu harus makan, aku nggak mau kamu sakit. Kita makan dulu ya, aku jamin kok bubur di sini tuh rasanya uenak pake banget. Aku jamin kamu pasti bakal ketagihan," bujuk Dirga.


"Krucuk krucuk krucuk."


"Pffft." Dirga menutup mulutnya menahan tawa, tapi sepertinya usahanya sia-sia karena akhirnya tawa itu lepas juga. "Hahahaha"


Wajah Anin semakin merah, seperti kepiting rebus. Apalagi, tawa Dirga terdengar semakin keras. Sepertinya pria itu sangat senang menertawakan dirinya, membuat Anin kesal padanya. Anin pun menonjok lengan Dirga dengan sangat keras hingga membuat laki-laki itu mengadu kesakitan.


"Aduh. Haha. Sakit banget. Haha," ucapnya sambil terus tertawa.


"Ketawa aja terus, ketawa sampe perut kamu sakit," rajuk Anin sambil melipat kedua tangannya dan memajukan bibirnya cemberut.


Mendengar itu, membuat Dirga langsung berhenti tertawa dan melihat ke arah Anin yang sedang merajuk. Dirga segera menghapus airmatanya yang keluar akibat terlalu keras ia tertawa, perutnya sampai terasa kaku dan mulutnya terasa pegal.


"Iya deh, sorry. Abisnya kamu lucu banget, bilangnya nggak lapar, tau-tau nya perut kamu malah bunyi. Kenceng banget lagi. Hahaha." Dirga kembali tertawa mengingat kejadian tadi.


"Udah! Nggak usah jual mahal gitu deh," sindir Dirga membuat Anin mendengus kesal.


Dirga keluar dari mobilnya dan diikuti Anin,mereka berdua berjalan bersama masuk ke dalam warung tersebut. Sampai di dalam, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Eh, mas Dirga. Apa kabar mas?" sapa si wanita itu sambil menyalami Dirga.

__ADS_1


"Baik Bu, oh iya. Kenalkan ini ... "


"Pacarnya ya mas," tebak si wanita asal. "Ya ampun, cantik banget mbaknya. Mas Dirga memang paling pinter kalo pilih pacar, cantik!" pujinya lalu menyalami Anin.


"Iya dong Bu, pasti." Dirga menaik turunkan alisnya sambil melirik Anin di sebelahnya.


"Namanya siapa mbak?" tanya nya pada Anin.


"Saya Anindya Bu, tapi saya bukan ... " ucapan Anin harus terhenti karena si pemilik warung langsung memotong perkataannya dengan mempersilahkan mereka untuk mencari tempat duduk.


"Kalo gitu silahkan cari tempatnya mas, mbak. Biar saya buatkan buburnya, seperti biasa kan mas?"


"Iya Bu. Yuk sayang." Dirga menggandeng tangan Anin hingga sampai ke tempat mereka duduk. Sementara itu, wanita bernama Bu Warsih itu tersenyum menatap Dirga dan Anin.


"Benar-benar pasangan serasi mereka," ucapnya lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Dirga.


"Ini mas, mbak buburnya. Silahkan di nikmati," kata Bu Warsih setelah meletakkan dua mangkuk bubur ayam di atas meja.


"Terimakasih Bu."


"Sama-sama mbak." Bu Warsih pun pergi dan membiarkan Dirga dan Anin menghabiskan makanan mereka.


...****************...


"Gimana tadi buburnya? Enak kan?" tanya Dirga setelah mereka selesai sarapan. "Aku lihat tadi kamu makannya lahap banget, aku jamin setelah ini kamu pasti akan ketagihan dan akan terus teringat sama bubur buatan Bu Warsih," lanjutnya.


"Kamu sering makan bubur di sini?"


"Dulu sih sering, cuma belakangan ini udah jarang, sejak ... "


"Sejak putus sama mantan kamu?" tebak Anin asal.


Dirga tampak terkejut mendengarnya, dalam hati ia berkata, "kok dia bisa tau ya?"


"Ya tau lah, aku juga tau kalo kamu masih sering teringat sama dia kalo makan di sini. Karena di warung ini banyak kenangan kamu sama dia, iya kan?" katanya lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dirga.


"Nggak usah sok tau deh," elak Dirga menutupi kenyataannya.


"Heleh!" Anin menyandarkan punggungnya dengan nyaman sambil memandang remeh pada Dirga. "Ekspresi kamu itu mudah di baca," sambungnya.


Dirga membuka mulutnya dan ingin menyangkal, tapi semua itu urung dia lakukan karena ada seseorang yang memanggilnya. "Dirga!" Orang itu mendekat dan secara tiba-tiba memeluk dirinya. Dirga yang tak siap, hampir saja terjungkal ke belakang jika ia tidak cepat-cepat memegangi pinggiran meja.


"Aku kangen sama kamu," ucap orang itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2