Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 3


__ADS_3

"Hati-hati." Elfira membantu Kenan berbaring di tempat tidur, siang ini Kenan baru saja pulang dari rumah sakit. Elfira menjemput anaknya dengan di antar oleh supir. Erlangga dan Anin tak bisa ikut menjemput karena mereka harus bekerja. Apalagi Anin yang bekerja di perusahaan orang lain dan masih menjabat sebagai pegawai magang. Jadi, Anin tidak bisa minta ijin dengan seenaknya.


"Makasih ya Bun," ucap Kenan tulus.


"Sama-sama sayang. Sekarang kamu istirahat dulu ya, bunda mau ke dapur. Mau buatkan makan siang untuk kamu."


"Tapi Kenan belum lapar Bun."


"Kamu kan mau minum obat Ken, jadi kamu harus makan."


"Ya udah deh," ujar Ken pasrah. Ia tak berani membantah ucapan bundanya.


Elfira pun bangkit dan keluar dari kamar anaknya. Sedangkan Ken memposisikan dirinya menjadi duduk bersandar. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi berwarna hijau. Banyak yang pesan masuk dari teman-temannya.


Dimas


Woi Ken, katanya lo kecelakaan ya.


Kok bisa?


13.30


Gimana ceritanya?


13.31


Terus sekarang kondisi lo gimana?


Masih di rumah sakit atau udah pulang?


13.34


Bayu


Dimana bro?


11.25


"Banyak banget pesan yang masuk, mana pada nyariin semua lagi," ujar Ken bermonolog.


Tanpa berniat untuk membalasnya, Ken meletakkan kembali ponselnya. Baru saja dia mau merebahkan diri, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Dimas tertera di sana.


"Mau ngapain sih nih bocah, pake nelepon segala," gerutu Ken. "Dah lah gak usah di jawab," putusnya kemudian.


Ken pun membiarkan ponselnya terus berdering hingga deringan nya berhenti dengan sendirinya. Namun, baru saja Ken ingin memejamkan mata, ponselnya kembali berdering. Begitu seterusnya sampai Ken akhirnya mengalah dan memilih untuk menjawabnya.


Dengan perasaan kesal, Ken menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel ke telinganya.


"Apa sih, dari tadi nelepon terus. Gak tau kalau orang mau istirahat!" omel Ken kepada Dimas.


"Ya jangan marah dong, siapa suruh chat gue gak di balas."

__ADS_1


"Malas gue."


"Ck, lo mah kebiasaan. Gue sama anak-anak mau ke rumah lo, kita mau jenguk lo."


"Gak perlu," balas Ken ketus.


"Gak peduli, pokoknya gue sama anak-anak bakalan ke rumah lo. Terserah lo mau marah atau apa lah."


"Heh s*mpak Barbie! Gue bilang gak perlu," umpat Ken karena merasa kesal dengan Dimas yang tetap ngotot ingin datang ke rumahnya.


"Bodo amat! Pokoknya kita tetap bakalan datang, siapin makanan yang enak-enak ya."


Sambungan pun di putus secara sepihak oleh Dimas, sementara Ken hanya bisa menggeram frustasi melihat sahabatnya itu. Ingin rasanya dia membanting ponselnya meluapkan kekesalannya. Tapi, mengingat ponsel tersebut adalah keluaran terbaru dengan harga yang fantastis, Ken pun mengurungkan niatnya. Ia masih sayang dengan nyawanya. Ken tak mau papanya menggantung dirinya di atas pohon mangga yang ada di halaman belakang rumah mereka.


"Gue gak mau di gantung di pohon mangga. Ya kali gue jadi hantu terus temanan sama mbak Kunti, hiiih." Kenan bergidik ngeri membayangkan jika hal itu sampai terjadi.


****************


"Assalamualaikum Tante," ucap Dimas dan kedua temannya yang lain bersamaan.


"Waalaikumsalam, kalian mau cari siapa?" tanya Elfira sambil memperhatikan satu persatu remaja laki-laki yang sedang berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum.


"Kami teman sekolahnya Kenan Tante, Kenan nya ada kan? Maaf ya Tante kalau kedatangan kami sore ini mengganggu," jawab Bayu sopan.


"Eh, kok mengganggu sih. Ya gak lah, kalian pasti mau menjenguk Kenan ya?"


"Iya Tante, bolehkan?"


"Kalian duduk dulu ya, Tante panggilkan Ken nya."


"Iya Tante," jawab mereka kompak.


Elfira pun meninggalkan mereka di ruang tamu, ia berjalan menuju dapur terlebih dahulu untuk meminta mbok Marni membuatkan minuman untuk teman-teman anaknya. Setelah itu baru Elfira menaiki tangga menuju kamar Kenan.


Tok tok tok


"Ken!" panggil Elfira setelah ia mengetuk pintu.


Tak berapa lama pintu terbuka dan Ken berdiri dengan rambut kusut dan mata yang terlihat sayu.


"Kenapa Bun?" tanya nya sambil menguap.


"Kamu baru bangun?"


"Iya Bun, soalnya Ken ngantuk banget habis minum obat tadi," jawab Ken yang masih terlihat mengantuk.


"Udah sore loh Ken," tegur Elfira. "Itu di bawah ada teman-teman sekolah kamu, temuin gih."


"Mau ngapain sih mereka?" tanya Ken malas.


"Ya mau jengukin kamu lah, buruan bersih-bersih, habis itu langsung turun," perintah Elfira lalu bergegas pergi meninggalkan Ken yang sedang memasang wajah kesalnya.

__ADS_1


****************


"Ngapain sih lo pada datang ke rumah gue," sungut Kenan sambil berjalan tertatih. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan langsung ke bawah sesuai dengan perintah Elfira tadi.


Bayu yang melihat sahabatnya kesulitan berjalan pun langsung berdiri dan membantu Ken hingga sampai di sofa panjang dan mendudukkannya di sana.


Sebenarnya Ken sangat malas menemui teman-teman rusuhnya itu, dia ingin menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang hari. Karena tubuhnya masih terasa sakit, terutama bagian kakinya.


"Lo kok bisa kecelakaan sih Ken, gimana kejadiannya?" tanya Dimas tanpa menghiraukan sungutan dari Ken.


Ken menyandarkan punggungnya pada tangan sofa dan meluruskan kakinya, mencari kenyamanan. Karena, kakinya akan terasa sakit jika dalam posisi menggantung. Untuk itu lah dia mencari sofa panjang agar kakinya bisa ia naikkan dan di luruskan.


"Gue menghindari kucing," jawab Ken santai.


"Hah! Kucing!"


Hahaha


Suara tawa dari ketiga temannya menggema di seluruh ruang tamu, sementara Ken menatap ketiga temannya dengan tatapan bingung.


"Lo jatuh dari motor hanya karena menghindari kucing, gak elit banget sih," ledek Dimas setelah ia menghentikan tawanya.


"Heh, biji kecombrang! Sejak kapan kecelakaan menjadi sesuatu yang elit. Lo pikir enak kecelakaan," sungut Ken kesal.


"Udah Ken, gak usah lo dengerin ucapannya si Dimas itu. Dia emang rada sinting orangnya," celetuk Rama dan langsung mendapat pelototan dari Dimas.


"Sialan lo. Lo tuh sakit jiwa," balas Dimas kesal. Sementara Rama hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli.


"Lo yakin kecelakaan yang menimpa lo ini cuma gara-gara kucing? Bukan karena hal lain yang sengaja lo sembunyikan dari kita?" tebak Rama tepat sasaran.


Kenan terdiam, apa yang dipikirkan sahabatnya itu memang benar. Kenan mengalami kecelakaan bukan hanya karena menghindari kucing saja. Tapi, juga karena menghindari kejaran dari seseorang yang tidak dia kenal.


Memang Kenan berhasil selamat dari kejaran orang misterius itu, tapi musibah tetap tak bisa dia hindarkan. Kenan tetap saja mengalami kecelakaan karena tak melihat ada kucing di depannya.


"Woi! Di tanyain bukannya jawab malah bengong," protes Dimas sembari melemparkan bantal sofa ke arah Kenan.


"Dasar bangk* lo," balas Kenan dan melemparkan kembali bantal tersebut ke arah Dimas. Sementara yang di lempar tak merasa kesal sama sekali, dia justru tertawa senang karena berhasil membuat Kenan kesal.


"Sekarang lo jujur sama kita Ken, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bayu sekali lagi.


Bukannya Kenan tak ingin menjawab, hanya saja Kenan tak mau membuat ketiga sahabatnya terlibat masalah hanya karena dirinya. Apalagi saat ini dia sedang mendapatkan hukuman dari papa nya.


"Sorry guys, bukannya gue gak mau cerita. Tapi, memang kejadian yang sebenarnya itu ya gara-gara gue menghindari kucing," ucap Kenan yang tak sepenuhnya bohong.


"Gak yakin gue, pasti ada alasan lain kan," sambung Dimas tak percaya.


"Terserah kalian lah mau percaya atau nggak, yang jelas gue udah bilang yang sebenarnya."


Ketiga sahabat Kenan tak lagi memaksa, mereka lebih memilih diam dan menganggap apa yang dikatakan Kenan adalah benar. Tapi, dalam hati mereka mengatakan kalau mereka tak mempercayai alasan Kenan dan mereka akan mencari tahu sendiri kejadian yang sebenarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2