Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 12 Adam di usir dari rumah


__ADS_3

Setelah mendapat teguran di kantornya, Adam pun mulai bekerja dengan lebih baik lagi. Materi publisitas yang di minta oleh Naufal, harus dia kerjakan hari itu juga. Sebagai seorang copy writer, Adam harus mempunyai ide-ide yang kreatif untuk membuat sebuah materi yang menarik untuk membuat klien merasa puas. Namun, jika pikiran sedang kalut, bagaimana dia bisa mendapatkan ide yang bagus.


Berulang kali Naufal meminta Adam untuk mengubah materinya, menurut atasannya itu, materi yang dibuatnya tidak cukup kreatif. Adam pun harus lembur demi bisa menyelesaikan pekerjaannya itu. Hingga pukul 7 malam, baru lah Naufal tidak lagi meminta Adam memperbaiki materinya, itu artinya pekerjaan yang dibuatnya sudah sesuai dengan permintaan klien.


"Akh, capeknya" Adam mengangkat kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku. "Sudah jam segini, lebih baik aku pulang" Adam membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.


Pukul 9 malam, Adam sampai di rumahnya. Setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Adam membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Namun, alangkah terkejutnya Adam saat melihat Elfira duduk di sofa dengan dua buah koper besar berjejer di sampingnya.


"Loh, sayang. kamu mau pergi kemana bawa-bawa koper segala."


"Bukan aku yang akan pergi mas, tapi kamu" ucap Elfira tajam.


"Kamu ngusir mas dari rumah ini"


"Ya, dan aku sudah mendaftarkan perceraian kita mas. Jadi, kamu tidak berhak lagi tinggal di rumah ini"


Adam sangat terkejut mendengar perkataan Elfira, tubuhnya sudah sangat lelah karena harus bekerja sampai malam. Niat hati ingin beristirahat, tapi malah dirinya di usir dari rumah.


"Enggak sayang aku gak mau, jangan ceraikan aku. Kita perbaiki semuanya dari awal ya, mas janji akan berubah demi kamu dan anak kita" Adam memohon sampai bersimpuh di kaki Elfira, agar istrinya itu tersentuh dan mau memaafkannya.

__ADS_1


Elfira mendorong tubuh Adam hingga membuatnya terjatuh dan terduduk dilantai, lalu Elfira bangkit dari duduknya.


"Aku udah capek dengan semua kebohongan kamu mas, satu kali aku sudah memberikan mu kesempatan. Tapi bukannya berubah, kamu justru semakin menggila"


"Kali ini mas beneran sayang, mas janji akan berubah"


"Maaf mas, aku sudah tidak bisa memberikan kamu kesempatan lagi. Sebaiknya kamu pergi dari sini mas"


Elfira menarik koper Adam menuju pintu, dengan tergesa Adam bangkit dan mengejar Elfira dan menahan tangannya. Adam menatap lekat wajah istrinya, ternyata baru Adam sadari mata istrinya memerah dan sedikit membengkak. Wajahnya tampak sayu dan lelah, apakah seharian ini Elfira menangis. apakah dirinya yang sudah membuat istrinya itu menangis. Adam merasa dirinya sudah sangat menyakiti Elfira. Ada rasa tak tega yang hinggap di hati Adam.


Tak ingin memaksakan kehendaknya lagi, Adam memilih mengalah dan mungkin memang lebih baik dia pergi dari rumah ini dan memberikan waktu buat Elfira menenangkan diri. Mungkin nanti jika Elfira sudah sedikit lebih tenang, Adam akan mencoba membujuk Elfira untuk membatalkan gugatan cerainya.


"Baiklah, jika memang kamu ingin mas pergi. Tapi mas mohon, tolong kamu pertimbangkan dan berikan mas satu kesempatan lagi. Mas gak mau kehilangan kamu dan Anindya" ucap Adam sendu.


Adam sudah tak bisa berkata-kata lagi, diambilnya koper dari tangan Elfira. Dengan langkah gontai Adam menyeret kedua kopernya keluar dari rumah. Saat Adam berada di ujung pintu, dia menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Elfira yang berdiri membelakanginya. Adam menatap sendu punggung sang istri yang tampak bergetar, sepertinya Elfira sedang menangis.


"Maafkan mas yang sudah menyakiti hatimu terlalu dalam sayang" bisik Adam lirih. Setelah itu Adam menyeret kembali kopernya dan tanpa menoleh ke belakang lagi dia terus berjalan menjauh dari rumah mereka. Bahkan mobil yang setiap hari dikendarainya tidak dia bawa, karena Adam tau dia tidak berhak membawanya. Mobil tersebut adalah mobil peninggalan kedua orang tua Elfira semasa mereka hidup dulu.


Setelah Adam pergi dan tak tampak lagi, Elfira berjalan gontai menuju pintu, di tutupnya pintu tersebut lalu dia bersandar di balik pintu. Elfira meluruhkan tubuhnya ke lantai, tak sanggup lagi dia menahan airmatanya. Elfira menangis sesenggukan, sejak tadi dia menahan sakit yang begitu menyesakkan di dalam dadanya. Tubuh Elfira bergetar saat dia mengeluarkan semua tangisnya.

__ADS_1


***


Setelah di usir dari rumah Elfira, Adam berjalan tak tentu arah. Satu-satunya tempat yang bisa dia tuju saat ini adalah rumah Sandra. Adam terus berjalan sampai ke rumah Sandra, ya dia benar-benar berjalan kaki. Malam ini nasibnya benar-benar apes, sudah mendapat peringatan dari kantor, sampai di rumah dia malah di usir, lalu sekarang dia harus berjalan kaki menuju rumah Sandra yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya dan Elfira, sejak tadi dia berjalan sambil sesekali menoleh untuk melihat taksi yang lewat, tapi sampai dia tiba di rumah Sandra pun, tak ada satu pun taksi yang lewat. Kakinya benar-benar terasa sakit dan seperti mau patah.


Adam menekan bel pintu berulang kali, hingga akhirnya Sandra keluar dan membuka pintu. Adam masuk kedalam rumah Sandra begitu saja, tubuhnya benar-benar sangat lelah, sehingga dia tak mempunyai tenaga lagi walau hanya sekedar menyapa Sandra, sedangkan Sandra sendiri hanya bisa mengerutkan alisnya dan menatap bingung pada Adam.


Sandra pun menutup pintunya lalu mengejar Adam yang sudah lebih dulu berjalan dan masuk ke dalam kamar mereka, sebelumnya tak lupa Sandra mengunci pintu rumahnya.


"Mas, kamu kenapa" tanya Sandra ketika melihat Adam yang sudah terbaring di tempat tidur mereka, wajahnya tampak lelah, keringat mengalir di wajahnya. Bahkan Adam tak sempat membuka sepatu dan mengganti pakaiannya yang terlihat basah oleh keringat. Melihat itu, Sandra pun berinisiatif membukakan sepatu Adam lalu meletakkannya di sudut dekat pintu kamarnya.


"Ganti baju dulu mas" dengan telaten Sandra membuka kemeja Adam, meskipun Adam tetap berbaring, namun tak membuat Sandra merasa kesulitan. Sandra menyeka keringat di tubuh Adam dengan handuk kecil yang sebelumnya sudah dia ambil dari lemari. Tak lupa juga Sandra memakaikan kaos tipis agar Adam tak kedinginan. Celana kerja Adam juga dia buka dan menggantinya dengan celana pendek yang biasa dia kenakan saat di rumah itu.


Karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya, Adam sudah tak perduli lagi dan membiarkan Sandra membuka dan menggantikan pakaiannya. Hingga akhirnya dia terlelap dan terbuai ke alam mimpi.


Sandra duduk di kasur kosong disebelah Adam, di tatapnya lekat wajah lelaki yang sangat dicintainya itu. Ada rasa iba melihat Adam yang terlihat kelelahan dan seperti ada kesedihan yang tersirat di wajahnya. Sandra tak tau apa yang sudah terjadi padanya. Namun, jika mengingat perbuatan dan perkataan kejam Adam terhadapnya, ada rasa sakit dan dendam terhadap lelaki tersebut. Ingin rasanya dia menusukkan pisau ke perut Adam saat ini juga. Namun, rasa cintanya yang terlalu dalam membuat Sandra melupakan segala kesakitannya. Sekali lagi, Sandra mencoba menerima lelaki tersebut meskipun dirinya harus terus disakiti berulang kali.


"Aku sangat mencintaimu mas, meskipun aku tau, didalam hatimu hanya ada nama istrimu. Tapi aku tak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu seutuhnya. Dan aku berharap, suatu hari nanti kamu bisa melihat ketulusan ku ini" gumam Sandra lirih sambil menatap wajah Adam yang sudah tertidur pulas.


Sandra pun ikut berbaring disebelah Adam, ditariknya selimut hingga menutupi lehernya lalu memejamkan matanya menyusul Adam yang sudah lebih dulu melayang ke alam mimpi.

__ADS_1


...****************...


bersambung.....


__ADS_2