Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 26 Adam Di Penjara


__ADS_3

Tujuh hari berlalu setelah putusan sidang cerai antara Elfira dan Adam. Akta cerai juga sudah Elfira dapatkan, kini mereka sudah resmi bercerai. Akhirnya Elfira bisa hidup dengan tenang. Sekarang saatnya ia melanjutkan hidupnya bersama sang buah hati, Anindya. Putri semata wayangnya.


"Akhirnya sekarang Lo sudah bebas dari laki-laki brengsek kayak Adam ya," ujar Bianca.


"Alhamdulillah Bi, ini semua berkat bantuan kamu," balas Elfira.


"Berkat gue apaan, gue gak melakukan apa-apa kok."


"Kamu tuh, suka sekali merendah begitu."


"Ada cerita apa nih, serius banget kayaknya," celetuk Halimah yang baru saja keluar dari ruangannya.


Siang ini mereka pergi ke toko Halimah karena Anindya merengek minta ke sana. Kebetulan juga Bianca datang ke rumah Elfira, sehingga mereka bertiga pergi bersama-sama.


"Anin mana Bu?" tanya Elfira karena tak melihat Anindya bersama Halimah. Tadi bocah 4 tahun itu sedang bermain di dalam ruangan Halimah.


"Lagi tidur di ruangan ibu, kayaknya kelelahan main tadi sampe ketiduran," jawab Halimah. "Oh iya Fir, gimana kamu sama Adam sekarang?"


"Alhamdulillah Bu, kami sudah resmi bercerai sekarang. Akta cerai juga sudah keluar."


"Alhamdulillah. Akhirnya ya, kamu bisa bebas juga dari laki-laki itu."


"Iya Bu."


"Dia sudah tidak pernah gangguin kamu lagi kan. Maksud ibu Adam sudah tidak pernah datang ke rumah kamu lagi dan minta balikan lagi sama kamu?" tanya Halimah karena merasa khawatir dengan Elfira.


"Gimana mau gangguin, orangnya aja sudah di dalam penjara," celetuk Bianca membuat Halimah terkejut.


"Hah! Di penjara! Kok bisa?"


"Bianca yang melaporkan Adam Bu, atas kasus yang menimpa adiknya," sahut Elfira.


"Ooh. Memangnya adik kamu kenapa?" tanya Halimah karena memang belum tau masalah yang menimpa adiknya Bianca.


"Panjang ceritanya Bu." Bianca pun menceritakan kejadian naas yang menimpa adiknya.


"Dasar laki-laki brengsek itu si Adam. Memang pantas dia di masukkan ke penjara. Syukur kamu akhirnya bisa lepas dari dia. Kalau tidak, ibu tidak bisa membayangkan bagaimana nasib kamu ke depannya dan bagaimana Anindya menjalani harinya saat dia tau kalau ayahnya bukanlah pria baik-baik," tutur Halimah.


"Iya Bu, Fira juga bersyukur karena Allah masih menyayangi Fira. Allah sudah menunjukkan siapa Adam sebenarnya."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Anin, apa yang akan kamu katakan kalau dia menanyakan soal ayahnya?"


"Gak tau Bi, aku belum kepikiran sampe sana," jawab Elfira bingung.


Pertanyaan seperti inilah yang masih difikirkan Elfira jawabannya. Dia sendiri juga tidak tau apa yang akan di katakan nya nanti jika anaknya bertanya tentang keberadaan sang ayah. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ayahnya sedang di penjara karena kasus pelecehan seksual. Bagaimana nanti perkembangan psikologisnya jika anak sekecil itu harus mengetahui fakta buruk tentang ayahnya.


Sosok ayah yang sangat disayanginya. Karena bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Jika cinta pertamanya saja sudah membuatnya kecewa, bagaimana nanti penilaiannya terhadap laki-laki jika dia sudah dewasa kelak. Elfira tak ingin anaknya menjadi trauma dan jadi membenci laki-laki.


...****************...


"Hai Fir!" sapa Erlangga. "Gimana, kamu sudah memikirkan tawaran aku kemarin?"


Beberapa hari lalu Erlangga menghubungi Elfira dan menawarkan kerjasama dengan wanita itu. Elfira tidak langsung memberikan jawabannya, ia memerlukan waktu untuk berfikir sebelum membuat keputusan. Dan di sini lah ia sekarang, di dalam ruangan Erlangga. Sebelumnya Elfira menghubungi Erlangga untuk menanyakan perihal tawaran kerjasama untuknya. Lalu Erlangga memintanya untuk datang ke kantor dan menunggunya di dalam ruang kerjanya karena saat itu dia sedang ada rapat.


"Ya. Aku mau kerjasama dengan perusahaan kamu," jawab Elfira yakin.


"Alhamdulillah, keputusan yang tepat. Lalu kapan kita akan mulai kerjasamanya?"


Elfira sempat bingung, bukankah seharusnya dia yang bertanya seperti itu. "Terserah kamu saja, kalau aku kan tinggal menerima sesuai pesanan kamu saja. Kalau perusahaan kamu butuhnya sekarang, ya aku tinggal membuatnya dan akan mengantarnya ke sini,"


"Bagaimana kalau besok. Saya mau kamu buatkan 100 kotak untuk makan siang karyawan saya."


"Ah iya, saya hampir lupa. Sebentar ya", ujar Daffa seraya mengangkat telepon dan menghubungi asistennya.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Erlangga pun menyuruh orang itu untuk masuk.


"Ini bos, surat kontrak yang anda minta," ucap sang asisten.


"Terimakasih Dan, kamu boleh kembali," titah Erlangga yang langsung di turuti oleh Dani.


"Ini dia kontrak kerjasama kita, kamu boleh baca dulu sebelum menandatanganinya. Jika ada yang tidak sesuai atau ada yang ingin kamu tambahkan, katakan saja supaya bisa langsung di perbaiki oleh asisten aku yang tadi." Erlangga menyodorkan map hijau tersebut pada Elfira.


Setelah beberapa saat, akhirnya Elfira selesai membaca kontraknya. Tak ada yang perlu ia tambahkan atau pun di kurangi, semuanya sudah sesuai. Ia pun langsung menandatangani surat kontrak tersebut lalu mengembalikannya pada Erlangga.


"Kamu yakin tidak ada yang ingin kamu tambahkan dalam kontrak kerjasama ini?" tanya Erlangga bingung, karena Elfira langsung menandatanganinya setelah selesai membacanya.


"Yakin," jawab Elfira yakin.


"Bagaimana dengan bayarannya, apakah sudah sesuai dengan yang kamu inginkan?" tanya Erlangga lagi.

__ADS_1


"Sudah. Bahkan sudah lebih dari cukup."


"Baiklah. Aku akan meminta Dani untuk membuat salinannya dan besok akan aku berikan langsung padamu."


"Oke. Kalau gitu aku pamit pulang dulu, masih ada urusan yang harus aku selesaikan setelah ini," ucap Elfira seraya berpamitan.


"Ayo. Aku antar sampai ke bawah," ajak Erlangga.


Ke dua nya pun berjalan bersama, sepanjang mereka berjalan banyak karyawan Erlangga yang memperhatikan mereka. Elfira merasa sedikit risih karena menjadi pusat perhatian. Tak jarang dari mereka yang berbisik-bisik sambil memperhatikan mereka berdua.


"Mau aku suruh supir untuk mengantarkan kamu pulang?"


"Eh, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri naik taksi, lagi pula aku mau pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang." Elfira menolak tawaran Erlangga karena merasa sungkan dengan lelaki itu.


Taksi yang di pesan Elfira pun akhirnya tiba, Elfira langsung masuk dan berpamitan sekali lagi pada Erlangga. Lelaki itu tak beranjak dari tempatnya sampai taksi yang membawa Elfira pergi dan tak terlihat lagi. Setelah itu barulah Erlangga pergi dan kembali ke ruangannya.


...****************...


"Mau apa apa kamu kemari, apa masih belum puas kamu dan temanmu itu menjebloskan aku ke dalam penjara!" hardik Adam saat melihat Elfira yang sedang duduk di hadapannya.


Ya. Elfira mengunjungi Adam di penjara, dia hanya ingin melihat keadaan mantan suaminya itu. "Jangan su'udzon dulu mas, aku hanya ingin melihat keadaanmu saja," jawab Elfira.


"Mau melihat keadaanku atau mau memastikan kalau aku sudah menderita berada di sini," ucap Adam sambil menyeringai. "Ini kan yang kamu mau, kamu ingin membalas dendam dan melihatku hancur. Puas kamu sudah berhasil menjebloskan aku ke penjara seperti ini!" bentak Adam.


"Ternyata memang benar ya, manusia tidak akan mudah berubah meskipun ia sudah menerima azab dari perbuatannya," sahut Elfira kesal. "Aku datang ke sini dengan niat baik, aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Tapi, melihat kamu masih bisa marah-marah seperti tadi, aku yakin kalau kamu baik-baik saja di sini."


Adam terdiam, sesaat dia lupa kalau mantan istrinya itu memiliki hati yang baik. Meskipun dirinya sudah memberikan luka yang begitu dalam, tapi wanita ini tetap memaafkannya dan bahkan sekarang masih mau menjenguk dan melihat keadaannya. Jika itu wanita lain, mungkin saja sudah tak akan memperdulikannya lagi bahkan tak akan pernah sudi melihat dirinya lagi.


"Aku benar-benar hanya ingin melihat keadaanmu saja mas, aku ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja di sini. Aku berharap, dengan kejadian ini kamu bisa mengambil pelajarannya dan bisa memperbaiki diri," ucap Elfira tulus. "Aku ingin kamu berubah menjadi orang yang baik mas, agar Anin bisa bangga memiliki ayah yang baik seperti kamu. Aku percaya kalau sebenarnya kamu bukanlah orang yang jahat," lanjutnya lagi.


Adam tertunduk malu, selama ini dia sudah terlalu jahat. Bahkan terhadap istrinya sendiri, mungkin saja Adam sudah menjadi ayah yang baik untuk anaknya tapi dia belum bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya.


"Aku pulang dulu ya, jika ada kesempatan cobalah untuk menghubungi Anin. Anak itu sangat merindukan ayahnya, selama ini aku selalu mengatakan kalau ayahnya sedang bekerja di luar negeri dan belum bisa pulang. Jadi aku harap kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Anin kalau kamu sedang berada di penjara," ucap Elfira seraya bangkit dan pergi meninggalkan Adam yang masih tertunduk.


Setelah Elfira sudah tak terlihat lagi, Adam menangis sesenggukan mengingat perkataan wanita itu. Ia menyesal karena telah menyakiti wanita sebaik Elfira. Andai saja waktu bisa di putar kembali, Adam ingin memperbaiki semuanya. Adam ingin menjadi lelaki yang baik, menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilnya.


"Maaf. Maafkan aku. Hiks...hiks..."


...****************...

__ADS_1


bersambung........


__ADS_2