
Hari Minggu pagi, Anindya merengek minta ke rumah Halimah. Elfira yang masih sibuk di dapur pun jadi kewalahan menghadapi sikap anaknya yang akhir-akhir ini sulit di kendalikan saat menginginkan sesuatu.
"Anin mau ke rumah nenek, Bun. Ayok Bun, kita ke rumah nenek sekarang." Rengek Anindya sambil menarik baju Elfira.
"Iya, sabar sayang. Bunda masih masak ini, nanti siang kita ke rumah nenek ya." Bujuk Elfira.
Tapi, bukannya menurut, Anindya justru semakin merengek.
"Gak mau bunda, Anin mau nya sekarang."
Elfira menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Ya sudah, bunda antar Anin ke rumah nenek. Tapi setelah itu bunda pulang ya, karena bunda masih harus masak lagi." Bujuk Elfira berharap anaknya mau mengerti.
"Oke." seru Anin dengan semangat. Bocah empat tahun itu langsung sumringah. Tak ada lagi rengekan seperti sebelumnya.
Elfira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Anin yang kadang-kadang bisa menguji kesabarannya. Namun begitu, Elfira tidak pernah memarahi Anin. Sebisa mungkin Elfira tetap bertutur kata lembut meskipun hatinya sedang marah atau kesal. Cara paling ampuh untuk menghilangkan marah dalam hatinya adalah dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
...****************...
"Maaf ya Bu, Fira jadi ngerepotin ibu pagi-pagi begini." ucap Elfira tak enak hati.
"Ngerepotin apa sih Fir. Jangan sungkan begitu ah, kayak sama siapa aja."
"Hehe, soalnya Fira sering nitipin Anin sama ibu. Jadi segan Fira Bu." balas Elfira terkekeh.
"Heleh, kamu ini, pake segan segala. Justru saya malah senang ada Anin disini, oh iya, dengar-dengar katanya kamu buka usaha katering ya di rumah."
"Iya Bu, Alhamdulillah. Lumayanlah buat tambah-tambah."
"Alhamdulillah kalo begitu, semoga lancar ya usaha kamu."
"Amin. Kalo gitu Fira pulang dulu ya Bu, nanti siang Fira kesini lagi sekalian jemput Anin." pamitnya karena masih harus memasak untuk kateringnya.
Setelah berpamitan, Elfira langsung kembali ke rumahnya, sedang Halimah langsung masuk menyusul Anin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di rumah, Elfira melanjutkan kembali pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Dengan di bantu oleh Asih, Elfira bisa menyelesaikan masakannya sebelum jam 12 siang.
__ADS_1
Masakan yang sudah matang, dimasukkannya ke dalam rantang lalu di susun sedemikian rupa. Pelanggannya kebanyakan adalah tetangganya yang kebetulan tidak sempat masak karena harus bekerja.
"Akhirnya selesai juga ya bi." ucap Elfira pada Asih.
"Iya Bu, ini nanti ibu yang antar sendiri semua pesanannya."
"Iya lah, bi. Seperti biasanya." jawabnya santai seolah tak ada rasa lelah.
Sudah seminggu ini Elfira membuka usaha katering, dan mengantarkannya langsung begitu semua masakannya matang. Elfira belum mampu membayar pekerja tambahan, karena pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama Anin dan menggaji Asih. Untung saja para pelanggannya hanya sekitar rumahnya saja, sehingga tidak sulit jika ia harus mengantarkannya seorang diri.
...****************...
"Ini ya Bu kateringnya" ucap Elfira sambil meyerahkan sebuah rantang empat susun pada pelanggan terakhirnya.
"Makasih ya Fir, masakan kamu enak banget. Suami dan anak-anak saya suka dengan masakan kamu." puji Saras.
"Alhamdulillah kalo semuanya suka ya Bu. Sekalian tolong bantu promosikan ya Bu, siapa tau ada saudara atau teman ibu yang mau katering sama saya."
"Gampang itu Fir, nanti saya bantu promosikan. Tapi ada bonusnya gak buat saya." canda Saras membuat keduanya terkekeh.
"Bisa diatur Bu, kalo gitu saya pamit ya Bu. Assalamualaikum."
Dengan mengendarai sepeda motornya, Elfira pun pulang ke rumah untuk beberes lalu menjemput Anin di rumah Halimah.
...****************...
Setelah mengantarkan pesanan dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Elfira pun segera mendatangi rumah Halimah. Ia takut kelamaan menjemput Anin dan malah akan merepotkan Halimah.
Namun, saat Elfira tiba di rumah Halimah ternyata disana ada Erlangga yang sedang bermain dengan Anindya di teras rumah tetangganya itu. Anin tampak senang bermain dengan Erlangga, anak itu terus tertawa saat Erlangga mengejarnya.
Hatinya tersentuh melihat pemandangan itu, tak menyangka jika seorang Erlangga bisa begitu dekat dengan anak-anak. Elfira pikir, sosok Erlangga adalah pria yang memiliki sifat dingin dan tidak menyukai anak-anak. Namun ternyata pemikirannya salah besar, dia sudah salah menilai Erlangga.
"Loh, Fir. Ngapain bengong disitu, ayo sini masuk." Teriak Halimah ketika melihat Elfira berdiri mematung di depan pagar rumahnya. Spontan Erlangga dan Anin menoleh ke arah Elfira.
"Bunda, sini." Panggil Anindya seraya berteriak.
Lamunan Elfira tersadar karena suara teriakan Halimah dan Anin, ia jadi malu sendiri karena ketahuan sedang melamun. Dengan berjalan santai, Elfira pun memasuki halaman rumah Halimah yang luasnya melebihi luas halaman rumah Elfira.
__ADS_1
"Kamu ngapain berdiri aja di luar tadi." tanya Halimah setelah Elfira bergabung dengan mereka.
"Gak ada Bu, Elfira cuma seneng aja lihat Anin main sambil tertawa seperti tadi." ucap Elfira sambil mengingat ekspresi anaknya tadi.
"Saya gak nyangka ternyata Erlangga bisa seperti itu dengan anak-anak." lanjutnya.
"Pffft. Kamu pikir Erlangga itu orangnya kaku ya."
"Iya Bu, maaf. Soalnya terlihat dari ekspresi wajahnya seperti itu." jawab Elfira tak enak hati.
"Kalo sama orang lain, Erlangga akan bersikap kaku dan dingin tapi berbeda jika sudah berhadapan dengan anak-anak. Jiwa kebapakannya langsung keluar, hihihi."
"Memangnya Erlangga belum menikah ya Bu."
"Ya belum lah, perjaka lapuk dia mah. Mamanya saja sampe frustasi melihat Erlangga yang tak mau menikah sampe usianya 30 tahun sekarang." ungkap Halimah.
"Saya saja kadang suka heran melihat anak itu, entah wanita seperti apa yang dia inginkan untuk dijadikannya istri."
"Hayo, lagi ngomongin saya ya." celetuk Erlangga yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Elfira, membuat wanita muda itu terkejut.
"Iya, kami sedang membicarakan kamu yang gak nikah-nikah sampe sekarang." Sungut Halimah karena merasa kesal dengan keponakannya itu.
Sementara orang yang sedang dibicarakan hanya menanggapinya dengan santai, dia hanya tertawa sambil sesekali menggoda Anin yang sedang menikmati kudapan yang sudah disediakan oleh Halimah.
Sekali lagi Elfira memperhatikan interaksi antara Erlangga dan Anindya. Putrinya itu terlihat sangat nyaman sekali, seolah mereka sudah lama saling kenal. Padahal selama ini, Anindya termasuk anak yang sulit dekat dengan orang yang baru dikenalnya.
"Ekhem, segitunya yang ngelihatin Erlangga. Jatuh cinta, hmm." Goda Halimah sambil menaik-turunkan kedua alisnya dan membuat Elfira tersipu karena ketahuan sedang memperhatikan Erlangga.
"Apa sih Bu, siapa yang jatuh cinta. Ibu ini ada-ada saja deh." ucap Elfira sambil menahan malu.
Erlangga tersenyum melihat Elfira yang sedang tersipu. Di matanya, ekspresi Elfira yang seperti itu terlihat sangat cantik, membuat hatinya semakin berdebar-debar dan tak sabar ingin segera memilikinya.
Tapi Erlangga sadar, Elfira bukanlah wanita single yang bisa ia miliki sepenuhnya. Wanita yang sangat di sukainya ini adalah istri dari seorang pria yang ternyata adalah karyawannya yang bekerja di perusahaannya.
Entah sampai kapan ia harus memendam perasaannya ini, tapi yang pasti dia akan selalu mencintai Elfira dalam diam dan memperhatikannya dari jauh. Untuk saat ini, itu saja sudah cukup bagi Erlangga.
...****************...
__ADS_1
bersambung....