Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 43


__ADS_3

"Loh, neng Fira kok beres-beres baju? Memangnya mau kemana?" tanya Bi Asih yang baru saja masuk ke kamar Elfira. Ia membawa segelas teh jahe hangat yang ia letakkan diatas nampan. "Ini teh jahe nya neng, Bibi letak di sini ya," ucapnya kemudian sambil meletakkan teh jahe tersebut ke atas meja.


"Terimakasih ya Bi," ucap Elfira kepada Bi Asih karena sudah dibuatkan teh jahe. "Saya mau pergi ke kampung almarhumah ibu saya. Disana masih ada sanak saudara yang sudah lama tidak saya kunjungi."


Bi Asih tampak sedih majikannya akan pergi. "Berapa lama neng Fira pergi? Non Anin ikut juga? Terus kateringnya bagaimana?" tanya Bi Asih beruntun.


Elfira tersenyum mendengar pertanyaan bi Asih, ia merasa lucu dengan ART nya itu. "Satu-satu nanya nya dong Bi, saya kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu," ucap Elfira.


"Hehe. Maaf neng, habisnya Bibi jadi sedih kalau neng Fira pergi."


"Saya pergi kan tidak untuk selamanya Bi, cuma 2 minggu saja kok. Sekalian mau liburan di kampung," ucap Elfira lalu meneguk teh jahe yang dibuatkan oleh Bi Asih tadi.


"Kalo neng Fira pergi nanti gimana dengan katering, siapa yang bakal ngurusin?"


Elfira meletakkan gelasnya kembali lalu menatap Bi Asih. "Saya titip sama Bibi ya. Bibi yang atur semuanya."


"Eh kok Bibi neng, Bibi mana ngerti yang kayak gitu-gitu," tolak Bi Asih.


"Gak apa-apa Bi, Fira yakin Bibi pasti bisa. Saya sudah buatkan catatan untuk menu-menu apa saja untuk 2 minggu ke depan. Nanti Bibi bisa kerjasama dengan mbak Siti dan yang lainnya juga. Uangnya juga nanti akan saya titip sama Bibi, tolong ya Bi," Elfira memohon pada Bi Asih.


"Tapi neng, Bibi kan ..."


Elfira menggenggam tangan Bi Asih dan menatapnya lekat. "Fira mohon Bi, tolong bantu Fira." Sekali lagi Elfira memohon pada Bi Asih membuat perempuan berusia 50 tahunan itu menjadi tak tega. Akhirnya Bi Asih pun mengangguk menyetujui permintaan Elfira.


"Terimakasih Bi. Terimakasih," ucap Elfira senang.


...****************...


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Erlangga mengalihkan fokusnya dari berkas-berkas yang menumpuk diatas meja kerjanya.


"Masuk!" ucap Erlangga dari dalam.


Dewo, orang yang tadi mengetuk pintu. Ia masuk dengan membawa sebuah tablet dan amplop coklat besar di tangannya.


"Ada apa Dewo?" tanya erlangga setelah Dewo berada tepat di depannya.

__ADS_1


"Ini semua laporan yang anda minta bos." Dewo meletakkan amplop coklat tersebut ke atas meja kerja Erlangga.


Erlangga pun mengambilnya lalu membuka amplop tersebut. Di baca nya isi dari amplop tadi, senyum miring tersungging di bibir Erlangga.


"Jadi dia pernah punya skandal dengan pemilik Adi Jaya Group dan menjadi simpanannya," gumam Daffa setelah membaca laporan yang di berikan oleh Dewo.


"Benar bos, bahkan dia pernah di labrak oleh istri sah CEO Adi Jaya Group," tambah Dewo.


Erlangga senang dengan informasi yang diberikan oleh Dewo, dengan begini Jessica tidak bisa macam-macam lagi dengannya. Semua skandal yang pernah dilakukan oleh Jessica bisa Erlangga jadikan senjata untuk mengancam wanita itu.


"Ada satu lagi bos yang pastinya akan membuat bos senang," ucap Dewo lagi seraya menyerahkan tablet yang di pegangnya. "Anda bisa lihat video dalam tablet ini."


Erlangga memperhatikan video tersebut, seketika ia menjadi jijik ketika melihat video panas yang menampilkan Jessica dengan salah satu pejabat yang ada di ibukota. Bukan hanya satu, tapi ada banyak video panas yang lainnya dengan beberapa pria lain. Dan semua pria tersebut adalah pria yang sudah mempunyai istri.


Erlangga mengembalikan tablet tadi kepada Dewo lalu ia menyandarkan tubuhnya kebelakang. "Benar-benar perempuan murahan. Bisa-bisanya dia menjajakan tubuhnya dengan gampang kepada para pria beristri itu," geram Erlangga.


"Apa video ini mau langsung di sebar bos?"


"Tahan dulu, sebaiknya kita simpan semua sampai nanti tiba waktunya."


"Assalamualaikum ma," ucap Erlangga saat ia menerima telepon dari ibunya.


"Waalaikumsalam. Kamu sibuk gak Lang?"


"Gak terlalu sih, emangnya kenapa ma?"


"Kalau bisa nanti kamu cepat pulang ya sekalian ajak Elfira dan anaknya. Mama kangen banget sama mereka."


Mendengar permintaan sang ibu membuat Erlangga terdiam. Sudah satu Minggu ini mereka tak pernah bertemu lagi sejak kesalahpahaman yang terjadi waktu itu.


Erlangga juga tidak mempunyai waktu untuk ke rumah Elfira karena pekerjaan yang begitu banyak.


"Halo! Lang. Kamu masih di sana?" panggil Wulan karena tiba-tiba tak ada suara dari Erlangga. "Halo! Erlangga!" Sekali lagi Wulan memanggil anaknya dengan suara yang keras.


"Eh, i-iya ma. Mama bilang apa tadi?" jawab Erlangga terbata. Ia sempat melamun tadi, kini kesadarannya kembali setelah mendengar panggilan Wulan dengan sedikit berteriak.


"Mama bilang, nanti pulang kerja ajak Elfira sama anaknya ke rumah kita. Mama mau ajak mereka makan siang bersama, sekalian melepaskan kangen. Sudah lama mama tidak bertemu dengan mereka."

__ADS_1


"Nanti Erlangga usaha kan ya ma. Gak janji tapi," ucap Erlangga.


"Mama gak mau tahu, pokoknya nanti kamu bawa Elfira ke rumah kita. Titik." sambungan telepon berakhir, Wulan memutuskan sambungannya secara sepihak sebelum Erlangga sempat membalasnya.


Erlangga mengacak-acak rambutnya frustasi. Jika sang mama sudah punya keinginan maka harus segera di turuti. Kalau tidak, mama nya itu akan mengomel sepanjang masa dan Erlangga sangat tidak menyukai itu. Telinganya akan terasa panas jika hal itu bisa sampai terjadi.


"Sepertinya aku harus ke rumah Elfira sekarang," gumam Erlangga. Ia pun merapikan kembali rambutnya dan beranjak dari sana.


...****************...


"Sudah semuanya ini Bu, tidak ada lagi yang tertinggal?" tanya supir taksi yang akan mengantarkan Elfira dan Anin ke bandara. Pria berumur 40 tahunan itu membantu Elfira memasukkan dua buah koper ke dalam bagasi.


"Sudah pak, saya memang cuma membawa dua koper saja kok," jawab Elfira tersenyum.


"Kalau begitu mau berangkat sekarang?"


Elfira menatap satu persatu para pekerjanya sebelum menjawab pertanyaan supir tadi. "Sebentar ya pak, ada yang mau saya bicarakan dengan mereka dulu," ucap Elfira sambil menunjuk para pekerjanya yang berbaris di depan gerbang rumah Elfira dengan tatapan sedih.


"Saya titip rumah dan katering sama kalian semua ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi nomor yang sudah saya berikan pada kalian tadi," ucap Elfira kepada seluruh pekerjanya.


"Tenang saja neng, percayakan saja semuanya sama kami," jawab mbak Siti mewakili yang lainnya.


"Terimakasih mbak Siti. Tapi saya boleh minta tolong sekali lagi gak?"


"Apa itu neng?" Kali ini Bi Asih yang bertanya.


"Tolong jangan katakan pada siapapun kemana saya pergi, terutama Erlangga. Kalau suatu saat nanti dia datang ke rumah ini dan menanyakan saya, bilang saja saya pergi sejak satu minggu yang lalu. Bisa?" Permintaan Elfira membuat mereka saling pandang penuh tanya. "Saya tidak bisa jelaskan alasannya sekarang, yang jelas jangan katakan apapun pada Erlangga."


Melihat keseriusan dan Elfira membuat mereka semua mengangguk meskipun sebenarnya mereka tahu ada masalah apa antara Elfira dengan Erlangga.


"Beres neng," jawab mereka kompak.


Setelah itu Elfira pun kembali berpamitan kepada mereka lalu masuk ke dalam taksi sebelum Anin mengamuk karena tak berangkat-berangkat. Taksi yang di tumpangi Elfira pun melesat menjauhi rumah tersebut. Elfira harus pergi untuk mencari suasana baru.


"Aku harap selama di kampung halaman ibu nanti, aku bisa melupakan Erlangga dan bisa membuka lembaran baru," gumam Elfira di dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2