
Pagi ini Dirga pergi ke kantor dengan terburu-buru, dia ingin cepat-cepat bertemu Anin dan segera meminta maaf pada gadis itu.
Tapi sepertinya perjuangan Dirga untuk mendapatkan maaf dari Anin masih panjang. Dirga harus merasakan kecewa karena Anin telah mengundurkan diri dari perusahaannya.
Sonya baru saja menyerahkan surat pengunduran diri Anin padanya.
"Kapan Anin memberikan surat ini pada anda?" tanya Dirga kepada Sonya.
"Saya tidak tau pak, saat saya datang surat itu sudah ada di atas meja saya."
"Apa kamu sudah mencoba menghubunginya?"
"Sudah pak, dan katanya bapak sudah menyetujui surat itu makanya saya tidak banyak tanya dan langsung memberikannya pada bapak."
Dirga memijat kepalanya yang terasa pusing, mendengar penjelasan Sonya, membuat Dirga mengambil kesimpulan kalau Anin benar-benar marah dan tak ingin bertemu dengannya lagi. Kini Dirga merasa menyesal karena sudah menyakiti gadis itu. Entah bagaimana caranya Dirga bisa menemui Anin dan meminta maaf padanya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Sonya khawatir.
"Saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan rancangan yang dikerjakan Anin untuk acara bulan depan?"
"Sudah selesai semua pak, dan saya juga sudah memeriksanya. Semua pekerjaannya sudah di selesaikan nya dan dia juga mengatakan kalau rancangannya itu untuk saya dan boleh di akui atas nama saya."
Tampak Dirga menghela nafasnya, dia tak habis pikir dengan apa yang sudah di lakukan Anin, dan tak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu. Semua rancangannya yang sangat menarik dan unik itu boleh di akui atas nama orang lain dan di serahkan begitu saja. Sepertinya Dirga harus mencari Anin secepatnya, dia tidak mau pekerjaan yang Anin lakukan dengan susah payah itu di akui oleh orang lain. Tidak, Dirga tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Baik pak," ucap Sonya seraya bangkit.
"Tunggu Bu Sonya."
"Iya pak." Sonya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Dirga.
"Untuk fashion week bulan depan, kita pakai rancangan awal saja. Maksud saya rancangan yang kamu buat sendiri, dan untuk rancangan yang di kerjakan Anin tolong serahkan pada saya nanti."
Sonya sempat terkejut dengan yang dikatakan Dirga, tapi Sonya juga tidak bisa membantah. Semua keputusan ada di tangan atasannya itu karena memang dia si pemilik perusahaan.
Meski dalam keadaan bingung, Sonya tetap mematuhi perintah Dirga. Kemudian Sonya menunduk hormat dan kembali ke ruangannya di lantai lima.
Setelah Sonya keluar dari ruangannya, Dirga kembali merenung memikirkan Anin. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya lalu menatap langit-langit ruangan.
"Kemana aku harus mencari kamu Nin?"
__ADS_1
...****************...
"Lo kenapa mengundurkan diri dari kantor Nin?" tanya Renata sambil menyesap jus semangka kesukaannya.
Sepulang kerja, Renata janjian dengan Anin dan bertemu di sebuah cafe yang terletak jauh dari kantor. Sengaja Anin mengajak bertemu di sana karena Anin tak ingin bertemu dengan Dirga meskipun hanya secara kebetulan.
"Nggak apa-apa Re, aku udah dapat pekerjaan di perusahaan lain," dusta Anin memberi alasan.
"Tapi kan, lo baru aja masuk kerja. Masa udah cari kerjaan baru lagi. Lagian tempat kerja kita itu kan termasuk perusahaan besar yang banyak di incar orang dan posisi lo juga udah bagus di sana. Emangnya lo nggak merasa sayang melepas begitu aja?"
Sebenarnya Anin juga merasa sayang, hanya saja Anin tidak bisa lagi bekerja di sana. Mengingat bagaimana Dirga menghina dirinya dan juga ayahnya. Anin tidak bisa memaafkan Dirga begitu saja dan ia sangat membenci laki-laki itu.
"Ya nggak apa-apalah Re, anggap aja aku lagi berbaik hati memberikan kesempatan untuk orang lain agar bisa masuk ke perusahaan itu," jawab Anin asal.
"Ah, lo mah. Alasan macam apa itu? Gue yakin banget pasti ada alasan lain yang lo sembunyikan. Coba sini, cerita sama gue," ujar Renata.
"Apa sih, nggak ada yang aku sembunyikan kok. Udah lah nggak usah bahas soal aku, mending kita makan aja yuk." Anin mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Namun, Renata tetaplah Renata yang tidak akan pernah puas sebelum rasa penasarannya terobati. Tapi Renata tahu kalau Anin bukanlah orang yang mudah untuk menceritakan masalahnya pada orang lain, bahkan pada Renata yang sudah cukup dekat dengannya.
Akhirnya Renata tak lagi mendesak Anin untuk bercerita, mungkin lain kali dia akan mencoba bertanya lagi pada temannya itu.
...****************...
Kedua ibu dan anak itu mengobrol sambil menikmati teh dan beberapa cemilan yang di buat oleh Elfira.
"Bunda dengar kamu resign dari pekerjaan kamu ya?" tanya Elfira membuka percakapan.
"Bunda tau dari mana?"
"Adik kamu yang cerita. Kenapa kamu resign? Bukannya itu perusahaan incaran kamu?"
"Sebenarnya Anin suka bekerja di sana, Bun. Apalagi posisi Anin lagi bagus banget, Tapi ... " Anin terdiam, bingung apakah ia harus mengatakannya atau tidak.
"Tapi?" ulang Elfira.
"Tapi Anin tidak bisa kerja sama orang yang suka menghina dan memandang rendah orang lain," ujar Anin.
"Maksud kamu?"
Anin pun menceritakan kejadian yang di alaminya bersama Adam waktu itu. Anin bercerita bagaimana Dirga menghinanya dan menghina Adam yang membuat Anin marah dan memutuskan untuk berhenti dari perusahaan Dirga.
__ADS_1
Elfira mengerti bagaimana perasaan anaknya, ia juga tidak bisa menyalahkan Dirga sepenuhnya karena Elfira yakin mereka hanya sedang salah paham saja.
"Bunda ngerti gimana perasaan kamu dan bunda juga tidak bisa memaksa kamu untuk tetap bertahan bekerja di sana. Tapi apa kamu tidak sayang melepaskan pekerjaan itu, bukankah terjun di dunia fashion itu adalah impian kamu dari kecil?"
Anin diam, dia ingat dulu pernah berkata pada ibunya kalau dirinya ingin menjadi seorang desainer terkenal. Untuk itulah Anin sampai harus kuliah di Perancis untuk mengembangkan bakatnya dalam merancang dan mendesain pakaian. Bakat yang ia miliki sejak kecil.
"Nggak apa-apa bunda, mungkin rezeki Anin bukan di sana. Anin akan mencoba mencari pekerjaan di perusahaan lain atau ... "
"Atau kamu papa buatkan butik dan kamu bisa menjual pakaian buatan kamu sendiri, gimana?" sela Erlangga yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Papa!"
Erlangga menghampiri keduanya lalu duduk di sebelah Anin hingga gadis itu berada di antara Erlangga dan Elfira.
"Gimana? Mau kan?" tanya Erlangga untuk memastikan.
Anin tampak berpikir, dia memang sangat ingin memiliki butik atas namanya sendiri dan menjual baju-baju yang di rancang sendiri oleh nya. Tapi dia ingin memiliki butik itu dengan hasil kerja kerasnya sendiri, bukan dari pemberian papa nya.
"Tapi Pa, Anin ... "
"Apa? Kamu mau bilang kalo kamu mau punya butik dari hasil keringat sendiri, begitu?" Anin mengangguk membenarkan ucapan Erlangga.
"Papa bangga kamu punya pemikiran begitu, tapi sebagai orang tua, papa juga ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya. Untuk kali ini, ijin kan papa membantu kamu."
"Maksud papa?"
"Anggap saja papa menanamkan modal usaha di butik kamu dan kita bisa bagi hasil dari keuntungan yang akan kamu dapatkan nanti."
"Tidak ada salahnya menerima bantuan dari papa, nak. Toh papa juga tidak memberikan dengan cuma-cuma kan," bujuk Elfira.
Anin memikirkan apa yang dikatakan oleh papanya, memang tidak ada salahnya dia mencoba dan menerima bantuan dari ayah sambungnya itu. Mungkin memang seperti ini lah jalan yang harus di lalui Anin untuk bisa menggapai impiannya mendirikan butiknya sendiri.
Setelah lama berpikir, akhirnya Anin pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui bantuan dari Erlangga. Tentu saja hal itu membuat Erlangga dan Elfira senang.
"Baiklah, kalau begitu papa akan segera mengurus apa-apa saja yang kamu perlukan, dan tugas kamu adalah mencari tempat yang strategis untuk butik kamu nanti."
"Bunda akan temani kamu mencari tempatnya, gimana?" Elfira menawarkan diri untuk menemani Anin.
"Iya, Anin setuju. Terimakasih ya Pa, Bunda," ucapnya tulus.
Anin pun memeluk Elfira dan diikuti oleh Erlangga yang memeluk keduanya. Dari arah belakang, Kenan yang baru saja muncul tiba-tiba berteriak dan langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Papa, bunda dan kakak curang. Masa pelukan nggak ngajak-ngajak Kenan," protesnya lalu langsung bergabung bersama mereka. Alhasil, keempatnya pun jadi saling berpelukan.
...****************...