Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 58


__ADS_3

Warning! 21+


Dalam bab ini terdapat adegan yang mungkin akan membuat para pembaca tidak nyaman. Untuk yang di bawah umur atau yang tidak suka dengan adegan dewasa, silahkan di skip saja. Karena author tidak bisa menanggung segala resiko yang diakibatkan dari cerita ini.


Bijaklah dalam membaca!


...****************...


Acara resepsi pernikahan Erlangga dan Elfira berlangsung dengan sangat meriah. Dari siang saat resepsi di mulai hingga malam hari, para tamu tak berhenti berdatangan. Terutama di malam hari, semakin malam malah semakin banyak tamu yang datang. Kebanyakan dari mereka adalah rekan bisnis Erlangga.


Seharian ini Elfira dan Erlangga harus banyak berdiri dan tersenyum untuk menyalami para tamu yang ingin mengucapkan selamat dan juga berfoto bersama mereka. Elfira sungguh merasa sangat lelah, kakinya terasa sangat pegal. Rasanya ingin sekali ia turun dari panggung itu dan kembali ke kamarnya lalu merebahkan dirinya ke atas kasur yang empuk. Pasti akan sangat nyaman sekali. Tapi, mengingat tamu yang masih banyak, tak mungkin Elfira melakukan itu.


Rupanya sejak tadi Erlangga memperhatikan sang istri, ia tahu kalau istrinya pasti sangat kelelahan. Erlangga sungguh tak tega melihatnya, apalagi saat Elfira berulang kali memijat kakinya sendiri saat tak ada tamu yang naik ke panggung.


"Kamu lelah?" tanya Erlangga.


"Sedikit. Apa masih lama lagi acaranya selesai?" Elfira tidak bisa menahannya lagi, tubuhnya benar-benar sangat lelah.


Erlangga memperhatikan sekitar, sudah tidak terlalu ramai seperti tadi dan Sepertinya tidak ada tamu yang akan datang lagi. Rasanya tak masalah jika mereka pamit untuk beristirahat, mungkin Erlangga akan meminta Dewo untuk menemani para tamu sementara dirinya mengantarkan sang istri ke kamar mereka.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya," pinta Erlangga. Ia pun berjalan turun dari panggung dan mencari Dewo. Beberapa saat kemudian, Erlangga kembali dan mengajak istrinya untuk ke kamar mereka agar sang istri bisa beristirahat.


Kamar mereka ada di gedung hotel yang sama dengan tempat resepsi. Jika aula untuk resepsi ada di lantai paling atas, maka kamar mereka ada di lantai 15. Erlangga sengaja memesan beberapa kamar untuk keluarga mereka yang ingin beristirahat.


Sesampainya di lantai 15 dan berada di depan kamar, Erlangga meminta sang istri untuk segera masuk dan beristirahat. Sementara dirinya harus kembali ke atas untuk menemani para tamu yang tersisa.


...****************...


"Selamat ya pak Erlangga, akhirnya berhasil melepas masa lajangnya juga," ucap salah satu rekan bisnis Erlangga.


"Terimakasih pak Edward," balas Erlangga.


"Oh ya, istri anda mana?"


"Ada di kamar, dia sudah sangat kelelahan jadi saya suruh istirahat saja."

__ADS_1


Pak Edward pun mengangguk paham, mereka kembali mengobrol dan tentunya tak jauh-jauh dari masalah pekerjaan. Tanpa terasa waktu semakin larut, para tamu undangan pun sudah berpulangan. Tinggal Erlangga dan Dewo yang masih tersisa.


"Wo, saya ke kamar dulu ya. Kamu juga harus segera istirahat," pamit Erlangga pada Dewo yang masih setia duduk di salah satu kursi.


"Iya bos, silahkan. Saya sebentar lagi, masih chatingan sama pacar saya. Hehe."


Erlangga pun berjalan meninggalkan Dewo, ia harus segera ke kamar menyusul sang istri yang pasti sudah terlelap, mengingat sekarang sudah pukul 12 tengah malam.


Benar saja, saat Erlangga membuka pintu kamar, tampak Elfira yang sudah tidur dengan damai di balik selimut. Rasanya Erlangga ingin segera menyusul sang istri dan ikut berbaring, tapi tubuhnya terasa sangat lengket. Ia harus mandi agar terasa lebih segar. Erlangga pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang lima belas menit kemudian, Erlangga keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang sudah bersih dan segar. Ia keluar hanya mengenakan bathrobe saja, setelah itu Erlangga berjalan menuju kopernya dan mengambil baju tidur yang sudah ia bawa dari rumahnya.


Selesai berpakaian Erlangga menyusul sang istri ke tempat tidur. Sebelum itu, Erlangga menyempatkan diri untuk mencium kening Elfira yang sedang terlelap. Dipandanginya wajah cantik Elfira tanpa make up. Baru erlangga sadari ternyata Elfira tidur dengan masih mengenakan hijabnya.


"Kenapa dia tidak membuka hijabnya saat tidur? Apa dia masih sungkan padaku? Tapi kan kami sudah menikah," gumam Erlangga.


Dipandanginya wajah Elfira dengan lekat, jika saja Elfira sedang tak tidur, mungkin wanita itu akan tersipu karena dipandangi seperti itu oleh Erlangga.


"Cantik," puji Erlangga dengan senyum yang terus mengembang.


Merasa seperti ada sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bibirnya, Elfira pun membuka matanya karena merasa tidurnya terusik. Elfira terkejut saat wajah Erlangga yang sudah berada tepat di depan wajahnya sambil tersenyum.


"Maaf mengganggu tidur kamu sayang, habisnya bibir kamu manis banget. Aku jadi gak tahan," ucap Erlangga dengan suara beratnya.


Elfira pun menjauhkan wajah Erlangga dari depan wajahnya agar ia bisa menggeser tubuhnya dan duduk bersandar.


"Kamu belum tidur?"


"Tadinya aku mau tidur, tapi pas lihat bibir merah kamu, aku malah jadi khilaf dan sekarang ada yang bangun dari tubuhku."


Elfira membuka lebar matanya mendengar ucapan Erlangga, secara spontan ia melirik bagian bawah Erlangga. Dan benar saja, ada sesuatu yang membesar dari balik celana tidur suaminya itu.


Erlangga yang paham arah tatapan sang istri pun hanya bisa menyeringai, sepertinya mereka akan menghabiskan malam pertama ini sampai pagi.


...****************...

__ADS_1


Begitu mendapat persetujuan dari sang istri, tanpa ragu Erlangga langsung membuka hijab yang masih di pakai oleh Elfira dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian Erlangga langsung mencium bibir Elfira, melanjutkan ciumannya yang tadi sempat tertunda.


Elfira pun tak tinggal diam, ia ikut membalas setiap ciuman yang diberikan Erlangga, bahkan tangannya sudah berada di leher sang suami. Erlangga melepaskan ciuman mereka untuk mengambil nafas sejenak.


Dipandanginya wajah cantik itu, ternyata Elfira memiliki rambut yang panjang dan berwarna hitam. Ini pertama kalinya Erlangga melihat Elfira tanpa hijab.


"Ternyata istri ku secantik ini, kenapa baru sekarang aku bertemu dengan kamu?"


"Karena takdir yang baru mempertemukan kita sekarang."


Untuk sesaat mereka saling pandang dan saling tersenyum.


Cup


Erlangga mencium kening sang istri lalu berbisik, "I love you my wife."


"Love you too my husband."


Erlangga kembali mencium bibir istrinya dan m*lum*t nya semakin dalam. Tangannya tak berhenti menjelajahi setiap lekuk tubuh Elfira. Di sela-sela ciuman mereka, tangan Erlangga membuka satu persatu kancing piyama sang istri hingga terlepas semua dari lubangnya. Ia pun segera menyingkirkan pakaian tersebut hingga tubuh bagian atas Elfira tak tertutup apapun. Karena memang wanita itu tak terbiasa mengenakan pakaian dalam saat tidur.


Ciuman Erlangga kini turun ke leher sang istri, memberikan tanda kepemilikan di sana. Tangan kanannya sedang asik bermain di dua bukit kembar milik Elfira. Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka.


Suara ******* mereka yang saling bersahutan mengisi seluruh ruangan kamar pengantin itu. Setelah puas bermain di leher sang istri, kini ciuman Erlangga turun hingga ke puncak bukit yang sudah berdiri tegak seolah menantang Erlangga untuk segera melahapnya.


Elfira melenguh saat merasakan sesuatu yang basah dan hangat di puncak dadanya. Erlangga dengan rakus melahap keduanya seperti seorang bayi yang sedang kehausan. Setelah puas, Erlangga kembali turun sambil menciumi perut rata sang istri membuat wanita itu merasa geli dan nikmat sekaligus.


Erlangga terus memberikan rangsangan pada tubuh Elfira hingga membuat istrinya itu melenguh panjang karena telah mencapai puncaknya. Erlangga bangkit dan langsung memposisikan tubuhnya di atas Elfira. Dia pun langsung menancapkan senjatanya di bagian inti sang istri hingga membuat Elfira harus menahan nafas merasakan miliknya yang terasa penuh.


Erlangga terus mengguncang tubuh Elfira, keduanya sama-sama merasakan kenikmatan. Peluh bercucuran dan menjadi satu, suara-suara merdu yang saling bersahutan dan hanya bisa di dengar oleh mereka berdua. Lenguhan panjang terdengar dari keduanya saat mereka sama-sama mencapai *******. Nafas keduanya pun terengah, dengan tubuh yang masih saling menempel.


Elfira pikir, ia akan bisa beristirahat setelah ini. Tapi ternyata, suaminya itu terlalu kuat dan bersemangat hingga dia tak membiarkannya tidur malam ini. Mereka terus melakukannya entah berapa kali sampai pukul empat pagi. Erlangga baru melepaskannya setelah Elfira mengatakan kalau dirinya sudah sangat lelah.


Melihat itu, Erlangga pun tak tega. Ia pun membiarkan istrinya untuk istirahat. Namun sebelum itu, mereka membersihkan diri terlebih dahulu karena waktu subuh hampir tiba. Setelah melaksanakan sholat subuh, barulah mereka melanjutkan tidurnya dan beristirahat untuk mengembalikan tenaga mereka yang sudah terkuras habis akibat olahraga malam yang baru saja selesai mereka lakukan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2