Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 34


__ADS_3

Di depan sebuah minimarket, tampak Wulan sedang berdiri dengan menenteng beberapa kantong plastik belanjaan sehingga membuatnya kesulitan membawanya. Elfira yang saat itu bersama Anin merasa tak tega melihatnya.


"Bunda, kasihan sekali nenek itu. Sepertinya nenek itu kesulitan membawa belanjaannya deh, Anin boleh membantu nenek itu gak?" tanya Anin dengan tatapan polosnya.


Elfira tersenyum mendengar perkataan sang anak meskipun usianya baru menginjak 5 tahun, tapi rasa pedulinya terhadap orang yang sedang kesulitan sangat tinggi.


"Boleh sayang," ucap Elfira.


Begitu mendapat ijin dari bundanya, Anin langsung berlari ke arah Wulan. Elfira sampai harus geleng-geleng kepala melihat bagaimana antusiasnya anak itu. Dari belakang Elfira berjalan mengikuti Anin mendekati wanita tersebut.


"Nenek," panggil Anin dengan lembut sambil menarik pelan gaun Wulan.


Wulan menundukkan kepalanya untuk melihat siap yang memanggilnya. Senyum manis terbit di bibir tua Wulan saat melihat Anin di sebelahnya. Ia pun langsung berjongkok demi menyamakan tinggi badan Anin.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Wulan sambil menatap Anin.


"Tadi Anin lihat dari sana," tunjuknya ke arah tempat dia tadi berada, "nenek seperti kesulitan membawa belanjaannya, Anin boleh bantuin nenek tidak?" tanya Anin sambil mengedipkan ke dua matanya.


Wulan sangat gemas melihat tatapan Anin, dia pun mencubit pelan ujung hidung Anin sambil berkata, "kamu lucu banget sih, siapa nama kamu?"


"Anindya nek," jawab Anin.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Wulan lagi.


"Sama bunda, tuh bunda nya," tunjuk Anin pada Elfira yang baru saja tiba.


Elfira menundukkan kepalanya seraya tersenyum kepada Wulan, begitu juga dengan Wulan yang membalas senyuman Elfira.


"Maaf ya Bu kalau Anin sudah mengganggu ibu," ucap Elfira segan.


"Gak apa-apa, anak kamu lucu sekali dan rasa peduli nya juga sangat tinggi," puji Wulan terhadap Anin.


"Terimakasih Bu, Anin memang seperti itu anaknya. Oh iya, ibu mau kemana? Mau saya antar pulang tidak, saya lihat belanjaan ibu banyak sekali."


"Sebenarnya saya memang mau pulang, sejak tadi saya menunggu taksi di sini tapi tidak ada yang lewat," ujar Wulan.


"Kalau begitu saya antar saja sampai rumah, kebetulan saya bawa mobil kok."


"Apa gak merepotkan kamu nantinya?" tanya Wulan tak enak hati.


"Gak merepotkan sama sekali kok Bu," jawab Elfira lalu mengambil beberapa plastik belanjaan Wulan. "Saya bantu bawa ya Bu," ucapnya kemudian.


"Anin juga mau bantu bunda," celetuk Anin yang juga ingin ikut membantu Wulan.

__ADS_1


Elfira dan Wulan tertawa kecil melihat tingkah imut Anin yang merengek ingin membantu.


"Anin bawa bungkusan yang kecil saja ya," ucap Elfira kepada anaknya.


"Oke bunda."


Elfira, Wulan dan Anin berjalan menuju mobil Elfira yang di parkirkan tak jauh dari tempat mereka berada tadi. Mereka bertiga berjalan sambil bercerita dan tertawa bersama seperti sudah lama saling kenal.


...****************...


"Di depan sana itu nanti kamu belok kanan ya," ucap Wulan seraya menunjukkan jalan menuju ke rumahnya.


Mobil Elfira memasuki sebuah komplek perumahan elit dimana terdapat rumah-rumah besar bak istana kerajaan.


"Yang mana rumahnya Bu?" tanya Elfira sambil melihat kanan kiri.


"Itu di depan sana yang pagar warna putih," jawab Wulan.


Mobil Elfira berhenti tepat di depan rumah besar dengan cat warna cream dan berpagar putih.


"Ini rumah nenek?" tanya Anin sambil mengagumi rumah besar itu dari dalam mobil.


"Iya sayang, ini rumah nenek. Yuk turun," ajak Wulan. Anin pun turun dari dalam mobil dengan semangat 45.


"Eh, nyonya. Saya pikir tadi mobilnya siapa," ujar Sapto sembari membuka pagar.


"To, kamu tolong keluarkan belanjaan saya dari mobil itu ya. Terus nanti kamu serahkan ke Marni biar di susunnya di dapur," perintah Wulan yang langsung di laksanakan oleh Sapto.


"Masuk dulu yuk, sekalian minum teh," ajak Wulan.


"Ada cookies gak nek?" tanya Anin yang kini sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan wanita paruh baya itu.


"Anin!" tegur Elfira karena merasa tak enak hati dengan Wulan.


"Gak apa-apa Fir, namanya juga anak-anak," ucap Wulan memaklumi.


Elfira hanya bisa tersenyum canggung kepada Wulan. Kini mereka bertiga berjalan bersama memasuki rumah besar tersebut. Wulan mengajak mereka ke taman belakang, di taman tersebut banyak di tumbuhi berbagai jenis bunga. Tak hanya tanaman saja, kolam renang bahkan kolam ikan juga ada. Anindya begitu antusias saat mengetahui bahwa di taman tersebut ada kolam ikan.


"Bunda, Anin mau lihat ikan boleh?" ucapnya meminta ijin.


"Boleh, tapi hati-hati ya. Jangan terlalu dekat," ucap Elfira mengingatkan.


Bocah lima tahun itu pun segera berlari menuju kolam ikan tersebut. Ia sampai berteriak kesenangan ketika melihat banyaknya ikan di dalam kolam itu.

__ADS_1


"Kita duduk di situ yuk," ajak Wulan sambil menunjuk sebuah gazebo.


Letak gazebo itu tak jauh dari kolam ikan sehingga Elfira masih bisa mengobrol sambil mengawasi anaknya. Wulan dan Elfira saling mengobrol dan menceritakan tentang banyak hal. Beberapa saat kemudian, Marni ART di rumah Wulan datang dengan membawakan minuman dan beberapa cemilan untuk mereka.


...****************...


Malam hari Erlangga baru saja sampai di rumahnya, mobilnya memasuki halaman rumah memarkirkannya ke dalam garasi. Erlangga turun dari mobilnya lalu melangkah ke dalam rumah.


"Ma," sapa Erlangga ketika melihat Wulan sedang berada di ruang tamu.


"Kamu sudah pulang," balas Wulan seraya memeluk sang anak yang datang menghampirinya.


"Mama ngapain duduk di sini?" tanya Erlangga ingin tahu.


"Mama lagi nungguin teman mama, katanya mau datang bersama anaknya," jawab Wulan membuat Erlangga merubah raut wajahnya menjadi cemberut.


"Mama pasti mau menjodohkan Erlangga sama anak teman mama itu ya," tebaknya sok tahu.


"Sok tau kamu, orang teman mama yang mau datang sendiri ke sini. Mama tuh gak ada maksud untuk menjodohkan anaknya dengan kamu, kecuali kalo kamu yang langsung jatuh cinta saat melihat anaknya nanti, hihi ... "


"Tuh kan mama, aku gak suka ya main jodoh-jodohkan begitu. Erlang sudah punya pilihan sendiri ma."


"Ah kamu, dari dulu bilangnya juga begitu. Tapi mana buktinya, sampe sekarang kamu gak ada tuh ngenalin calon istri kamu ke mama," gerutu Wulan.


"Ya sabar dong ma, Erlang kan juga lagi proses pendekatan. Nanti kalo dia sudah mau menerima Erlang, pasti akan aku kenali kok sama mama."


Begitulah setiap harinya, ibu dan anak itu akan selalu berdebat jika sudah membahas tentang calon istri untuk Erlangga. Wulan yang sudah tidak sabar ingin memiliki menantu dan Erlangga yang sedang dalam proses pendekatan dengan Elfira.


Perdebatan mereka harus terhenti karena kedatangan Anita, teman arisan Wulan yang sudah di tunggu sejak tadi. Dengan antusias Wulan menyambut kedatangan temannya itu. Anita tak datang sendirian, ia mengajak putrinya yang bernama Jessica.


"Maaf ya jeng Wulan, aku kemalaman datangnya. Habisnya ini si Jessica lama banget dandannya," ucap Anita.


"Mama ih," protes Jessica.


"Ini anak kamu?" tanya Wulan sambil mengamati penampilan Jessica dari atas sampai ke bawah.


Malam ini Jessica mengenakan dress model Sabrina yang menampakkan belahan dada nya yang besar dan menyembul keluar. Panjang dress hanya sebatas paha, membuat Wulan seketika menjadi ilfil melihat penampilan Jessica.


Perempuan seperti ini bukanlah kriteria calon menantu idaman buat Wulan. Perempuan yang suka menunjukkan auratnya tanpa rasa malu bukanlah pilihan tepat menjadi pendamping untuk anaknya. Jika sekarang saja dia berani menunjukkan bentuk tubuhnya di depan umum, bagaimana nanti jika sudah menikah. Wulan tidak mau mempunyai menantu yang tubuhnya bisa di nikmati oleh banyak lelaki. Sebagai perempuan seharusnya Jessica bisa menjaga dirinya dengan baik, salah satunya adalah dengan menggunakan pakaian yang sopan dan tertutup. Apalagi saat bertamu ke rumah orang lain.


'Haaah'


Tiba-tiba saja Wulan teringat dengan Elfira, selain cantik wanita itu juga sopan dan santun terhadap orang lain. Wanita seperti Elfira lah yang ingin di jadikannya menantu. Tapi sayang, Elfira sudah menikah. Setidaknya itu lah yang ada dalam pikiran Wulan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2