Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 29


__ADS_3

Malam itu, Dirga baru saja pulang dari kantornya. Karena pekerjaannya yang banyak, mengharuskan Dirga untuk lembur. Suasana kantor sudah sepi, seluruh karyawan sudah pulang mengingat saat ini waktu menunjukkan pukul 9 malam. Hanya tinggal dirinya dan juga satpam yang berjaga di kantor.


Sebelum pulang ke rumahnya, Dirga berniat mencari tempat untuk makan terlebih dahulu. Saat di kantor tadi dia tidak sempat untuk makan malam. Kini perutnya sudah terasa melilit dan keroncongan.


Dengan melajukan mobilnya dan mencari tempat makan yang terdekat. Pilihannya jatuh pada sebuah angkringan yang menjual makanan tradisional.


Setelah di rasa kenyang, Dirga lantas membayar makanannya lalu ia pun segera pergi dari sana. Dirga kembali mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Namun, saat di jalan, Dirga tak sengaja melihat sosok yang di kenalnya keluar dari sebuah pujasera bersama seorang pria. Dirga pun tanpa sadar mengikuti mereka dari belakang.


Sepanjang jalan Dirga diliputi perasaan cemburu. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Dirga tak ingin gegabah. Dirga tahu kalau Anin sedang bersama Axel, yang katanya adalah adik dari Anin. Walau Dirga tahu kalau Axel adalah adiknya Anin, tapi entah kenapa dia tetap saja cemburu. Berbeda dengan saat melihat Anin bersama Kenan. Karena Dirga merasa tatapan pemuda itu pada Anin tampak berbeda. Bukan seperti tatapan seorang adik kepada kakaknya, melainkan tatapan terhadap wanita yang di cintainya. Hal itu lah yang membuat Dirga cemburu pada Axel.


Dirga masih terus mengikuti sampai motor Axel berhenti di sebuah taman. Di taman itu, Dirga melihat Anin dan Axel hanya berbincang biasa, membuat perasaan Dirga sedikit lebih lega. Namun, beberapa detik berikutnya perasaan Dirga mulai diliputi rasa cemburu lagi. Terlebih saat melihat kedua orang itu berpelukan dan Anin tampak tak keberatan.


Melihat itu, ingin rasanya Dirga menghampiri mereka dan menghajar Axel karena sudah berani memeluk wanita nya. Dirga mencoba untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu, dia tidak ingin kejadian tempo dulu terulang kembali dan mengakibatkan Anin membenci dirinya. Saat ini Dirga sedang berusaha untuk mendapatkan hati Anin. Untuk itu dia harus bisa mengendalikan emosinya.


Tak tahan lagi, rasanya seperti ada yang mau meledak dari dalam hatinya. Daripada Dirga membuat Anin marah lagi dengannya, lebih baik ia pergi dari sana. Dirga pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan mungkin besok dia akan menemui gadis itu dan berjuang untuk merebut hatinya.


...****************...


Pagi-pagi sekali Dirga sudah berada di rumah Anin, bahkan ia ikut sarapan bersama. Tadinya Anin sempat terkejut melihat Dirga yang sudah berada di rumahnya, tapi setelahnya gadis itu terlihat biasa saja. Sejak tadi Dirga hanya mengobrol dengan Erlangga, tentu saja obrolan mereka tak jauh-jauh dari pekerjaan.


"Jadi, gimana acara fashion week perusahaan kamu? Kapan acaranya?" tanya Erlangga.


"Acaranya minggu depan om dan semua persiapannya sudah 95 persen, tinggal pelaksanaannya saja," jawab Dirga sopan.


"Ngomong-ngomong kamu ngapain pagi-pagi sudah ada di rumahku," timpal Anin membuat semua orang melirik ke arahnya, tak terkecuali Dirga.


Dirga mengeluarkan sebuah undangan untuk acara fashion week perusahaannya dan memberikannya kepada Anin.


"Aku cuma mau ngasih undangan buat kamu, jangan lupa datang," ucapnya lalu memberikan undangan lain untuk Erlangga.


"Buat gue nggak ada bang?" sahut Kenan sambil mengunyah.


"Itu undangannya sudah sekalian untuk satu keluarga."


"Lah. Kok kak Anin di kasih undangan lagi? Kan kita udah satu keluarga," protes Kenan lagi.

__ADS_1


"Itu ... "


"Banyak protes kamu Ken, kayak yang bakalan datang aja," sela Anin cepat.


"Dih, pasti datanglah. Siapa tau di sana banyak cewek-cewek cantik, kan bisa ... "


"Sekolah dulu yang benar, baru mikirin cewek," sahut Erlangga membuat Kenan tak bisa berkutik.


"Ah, Papa nggak asyik," rajuk nya.


"Asyik'in aja lah Ken," sambung Erlangga lagi membuat semua orang tertawa.


...****************...


"Diem aja dari tadi, nggak asem tuh mulut," canda Dirga membuat Anin berdecak sebal. Dirga melirik sekilas lalu kembali fokus ke jalanan. Setelah sarapan tadi, Dirga ngotot ingin mengantarkan Anin pergi ke butiknya. Gadis itu ingin melihat sudah sejauh mana renovasi yang dilakukan oleh para pekerja.


"Mmm, Nin."


"Hmm."


"Mmm, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dirga sambil melirik Anin sekilas.


"Adik kamu yang satu lagi, siapa namanya?"


"Axel."


Tampak Dirga angguk-angguk kepala, sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan, tapi setiap di tanya jawaban Anin selalu singkat dan dingin, membuat Dirga bingung menanggapinya.


"Dia masih kuliah?" Dirga bertanya lagi, mencoba untuk mencairkan suasana.


"Hmm."


"Tuh kan, jawabannya singkat lagi. Aku harus tanya apa lagi coba, susah banget sih nakluk'in nih cewek," bisik Dirga dalam hati. Suasana saat ini benar-benar canggung. Sebenarnya Dirga bukan tipe pria yang susah untuk mencari bahan pembicaraan, tapi berbeda bila sedang dengan Anin.


Gadis itu hanya akan banyak bicara pada orang-orang tertentu saja, tapi jika bersama dengan dirinya maka Anin akan bersikap dingin dan kadang-kadang juga galak.

__ADS_1


"Kamu kenapa dingin banget sih sama aku, beda kalo sama orang lain," kata Dirga dengan suara lemah, bahkan terdengar sedih.


Anin melirik Dirga, dan menatapnya sebentar. Setelah itu, Anin kembali menatap ke depan tanpa berniat menjawab pertanyaan Axel.


Merasa tak mendapat jawaban, Dirga melirik Anin. Gadis itu tetap tenang dalam duduknya sambil terus menatap ke depan. Dirga hanya bisa membuang nafasnya kasar karena tak mendapat jawaban dari Anin. Karena di rasa percuma, Dirga pun tak lagi menanyakan apapun. Mereka hanya saling diam hingga mobil Dirga sampai di butik milik Anin.


"Terimakasih sudah mengantarku," ucap Anin seraya turun dari mobil.


Melihat Anin turun, Dirga juga ikut turun. Dia ingin melihat desain interior di dalam butik tersebut. Namun, dengan cepat Anin mencegahnya dan melarang Dirga.


"Kamu ngapain buka pintu juga?" tanya Anin yang tak jadi turun, tapi sebelah kakinya sudah menginjak tanah dan pintu terbuka sedikit.


"Aku mau ikut masuk, mau lihat ke dalam juga."


"Nggak perlu. Kamu balik aja ke kantor kamu," usir Anin secara terang-terangan.


Dirga sampai melongo tak percaya mendengar ucapan gadis di sebelahnya itu.


"Kenapa?"


"Ya nggak apa-apa."


"Ya udah kalo gitu ... "


"Nggak perlu," sahut Anin dengan cepat. "Kamu nggak perlu ikut aku masuk. Karena aku nggak mau, pekerjaan kamu terhambat gara-gara aku," lanjutnya.


"Kata siapa? Aku ... "


"Aku bilang nggak ya nggak. Ngerti nggak sih? Lagian kamu kan lagi sibuk ngurusin persiapan fashion week minggu depan, jadi ... "


"Ya udah deh, iya." Dirga hanya bisa pasrah, ia terpaksa menuruti perkataan Anin. Dirga tak mau membuat Anin marah padanya dan kembali membenci dirinya.


Mendengar jawaban Dirga, Anin pun segera turun dari mobil dan langsung menutup pintunya begitu saja tanpa berpamitan dengan Dirga.


Dirga menatap sendu pada gadis pujaannya itu, setelahnya dia pun melajukan mobilnya dan pergi dari sana. Sementara itu, Anin berbalik menatap kepergian Dirga.

__ADS_1


"Maaf'in aku Ga. Aku harap kamu bisa menunggu," gumamnya lalu masuk ke dalam butik.


...****************...


__ADS_2