Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 22


__ADS_3

"Jadi sekarang kamu buka usaha katering?" tanya Erlangga.


Saat ini Erlangga sedang bersama Elfira, duduk di teras rumah Halimah. Anin sudah tertidur di dalam kamar tamu karena kelelahan bermain. Halimah sendiri sedang bertelepon di dalam rumahnya.


"Iya, Er. Lumayan lah untuk tambah-tambah uang belanja." jawab Elfira tanpa sadar.


Erlangga mengernyit merasa heran dengan ucapan Elfira, "memangnya suami kamu gak ngasih kamu uang belanja?" tanya Erlangga.


Elfira tersadar kalau dia sudah keceplosan, ia hanya bisa tersenyum.


"Kamu ada masalah sama suami kamu?" tanya Erlangga penasaran.


Elfira tampak salah tingkah, namun sebisa mungkin ia mencoba untuk bersikap tenang.


"Maaf Er, kayaknya aku harus pulang sekarang."


Elfira ingin pergi dari rumah Halimah, namun langkahnya harus terhenti ketika ia melihat Adam yang berdiri di depan pagar sambil menatapnya tajam.


Adam mempercepat langkahnya hingga berada di depan Elfira, tanpa mengatakan apapun, Adam langsung menarik tangan Elfira dan menyeretnya keluar dari sana.


"Lepas mas, sakit." mohon Elfira sambil meronta-ronta.


Namun Adam seolah menulikan telinganya, dia tak menghiraukan permohonan Elfira.


"Mas. Lepas." Elfira terus saja memberontak berharap bisa terlepas, tapi tenaganya tak sebanding dengan Adam. Pergelangan tangannya terasa sakit akibat di cekal oleh Adam.


Saat langkah mereka hampir sampai di depan pagar, tiba-tiba saja ada yang menarik tangan Elfira sehingga Adam harus menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


Tatapan Adam semakin tajam saat tau siapa yang menahan langkahnya.


"Lepaskan tangan istri saya." ucap Adam tajam.


"Tidak, sebelum kamu melepaskan tangannya lebih dulu." balas Erlangga tak mau kalah.


Karena tidak ada yang mau mengalah, alhasil keduanya saling tarik-tarikan, membuat Elfira kesakitan.


"LEPAS." Teriak Elfira sambil menepis tangan kedua pria yang saling tarik menarik itu.


"Bisa gak sih, kalian gak usah tarik-tarik tangan saya."

__ADS_1


"Maaf, Fir. Aku cuma mau menolong kamu, maaf kalo jadinya malah menyakiti kamu." ucap Erlangga merasa bersalah.


"Bagus kalo sadar." celetuk Adam, tak peduli jika itu adalah atasannya sendiri.


"Mas, bisa gak sih kamu menghargai orang lain sedikit saja. Gak perlu kamu berkata ketus seperti itu." bentak Elfira, kesal dengan sikap Adam.


Cih.


Adam berdecih karena Elfira lebih membela Erlangga.


"Mau apa kamu kemari." tanya Elfira.


"Ya jelas mau menjemput kamu lah, aku datang ke rumah tapi kamu nya gak ada, eh tau nya malah enak-enakan berduaan sama lelaki. Istri macam apa kamu."


"Jaga bicara anda ya." geram Erlangga sambil menunjuk-nunjuk Adam.


"Apa. Anda tidak terima, apa hak anda" tantangnya membuat Erlangga terdiam. Nafasnya naik turun menahan emosi yang sejak tadi sudah bergejolak.


Erlangga paling tidak suka dengan kekerasan, apalagi jika ada lelaki yang suka bertindak kasar dengan perempuan, Erlangga sangat membenci itu.


"Saya memang tidak punya hak untuk ikut campur, tapi saya paling tidak suka jika ada laki-laki yang bertindak kasar pada wanita, apalagi itu terjadi di depan mata saya." balas Erlangga menjawab tantangan Adam.


"Heleh, bilang saja kalau anda menyukai istri saya kan. Dasar pebinor."


Refleks Elfira menampar wajah Adam, ucapannya sudah sangat keterlaluan menurut Elfira.


Adam yang mendapat tamparan dari Elfira, seketika menjadi berang. Dia emosi, dan tidak terima atas perlakuan istrinya itu. Bagi Adam, tak ada satu orang pun yang boleh berbuat kasar padanya, meskipun itu istrinya sendiri.


"Kamu..." geram Adam.


Emosi yang menguasainya membuat Adam hilang akal, dia mengangkat tangannya dan bersiap membalas tamparan Elfira.


Namun, tangannya langsung di cekal oleh Erlangga sebelum sempat mendarat di wajah Elfira. Dengan kasar Erlangga langsung menepis tangan Adam.


"Jangan pernah sekali-kali main tangan dengan perempuan. Laki-laki sejati tidak akan pernah berbuat kasar pada lawan jenisnya, kecuali jika kamu seorang b*nci."


Buuugh


"Erlangga." pekik Elfira sambil melangkahkan kakinya mendekati Erlangga yang tersungkur ke tanah.

__ADS_1


Adam meninju wajah Erlangga, ia tak terima di katakan b*nci oleh atasannya itu.


"Keterlaluan kamu mas" bentak Elfira sambil membantu Erlangga untuk berdiri.


"Kamu gak apa-apa kan, Er." tanya Elfira memastikan kondisi lelaki itu.


"Aku gak apa-apa, makasih sudah membantu" balas Erlangga.


"Owh, romantis sekali ya kalian. Jadi ini, alasan kamu ngotot minta cerai dari aku, supaya kamu bisa berduaan dengan lelaki ini." tuduh Adam sambil menunjuk tepat di wajah Erlangga.


Elfira yang mendengar hinaan dari Adam, seketika langsung emosi, dia sudah benar-benar jijik dengan suaminya itu. Menuduh orang tanpa alasan dan tak sadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Kamu gak salah ngomong kayak gitu sama aku mas. Kamu sadar gak, apa yang sudah kamu lakukan selama ini sama aku," "kamu yang sudah berselingkuh di belakang aku, kamu menikah lagi dan mempunyai anak dari wanita lain." ungkap Elfira membeberkan kesalahan suaminya. Tak peduli meskipun ada Erlangga yang akan mengetahui masalah rumah tangganya.


"Dan bahkan, kamu sudah menodai seorang gadis sampai membuatnya frustasi hingga melakukan bunuh diri. Untungnya gadis itu selamat, tapi sayang, kondisinya masih kritis. Dan itu semua gara-gara perbuatan bejat kamu mas."


Adam kaget, bagaimana Elfira bisa tau semua perbuatan bejatnya. Memang benar dia pernah melecehkan seorang gadis, tapi Adam tidak menyangka jika Elfira bisa sampai mengetahuinya.


"Kamu jangan asal nuduh ya, jangan hanya karena aku menuduh kamu berselingkuh dengan lelaki ini, lantas kamu mau menuduhku yang tidak-tidak." elak Adam yang berusaha menampik kebenaran yang di ucapkan Elfira.


Elfira tertawa sinis, tak habis pikir dengan kelakuan laki-laki yang menjadi suaminya itu. Elfira bingung, kenapa dulu dia bisa mencintai dan menikahi lelaki brengsek seperti Adam ini.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini mas, dan jangan buat keributan di rumah orang." usir Elfira, dia sudah malas meladeni sikap Adam yang seperti ini.


"Kalo aku gak mau." tantang Adam.


"Maka saya yang akan laporkan kamu ke polisi." seru Halimah yang baru selesai bertelepon. Dari dalam rumahnya ia mendengar ada suara keributan, dan ternyata keributan itu berasal dari Adam yang sedang marah-marah.


"Sebaiknya anda jangan ikut campur wanita tua."


"Jaga bicara kamu, Adam!" Bentak Erlangga, tak terima jika Tante nya di hina.


"Gak apa-apa, Lang." jawab Halimah santai, wanita itu hanya tersenyum menanggapi hinaan dari Adam.


"Kalau kamu tidak mau pergi, maka saya terpaksa melaporkan kamu ke polisi karena sudah membuat keributan di rumah saya dan melakukan kekerasan pada keponakan saya. Semua bukti ada di ponsel saya dan saya sudah merekam semuanya tadi." ancam Halimah membuat Adam sedikit takut.


Adam paling malas berurusan dengan polisi, jika Halimah benar melaporkannya, maka habis lah sudah nasibnya. Semua kejahatannya akan terkuak. Dengan berat hati dan menahan emosi, Adam pun pergi dari rumah Halimah sambil mengacungkan jari tengahnya pada Erlangga. Ia tak takut jika sampai harus di pecat.


Namun berbeda dengan Erlangga, meskipun Adam sudah bersikap tidak sopan padanya. Tapi dia tidak akan memecat Adam dari kantornya, karena Erlangga tidak pernah mau mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.

__ADS_1


...****************...


bersambung.....


__ADS_2