
"Apa karena abang tau kalau mama selingkuh di belakang papa?" tebak Nayla membuat Axel terkejut.
"Kamu tau darimana soal itu?"
"Nay pernah lihat mama jalan berdua sama om-om. Orangnya udah tua, Nay juga udah coba mencari tau tentang om itu dan ternyata om itu masih punya istri," jawab Nayla sambil menerawang mengingat kejadian waktu itu.
Saat itu Nayla bersama teman sekolahnya pergi ke mall. Mereka ingin menghabiskan weekend mereka dengan bermain di t*mez*ne.
Waktu itu Nayla pamit pada temannya untuk pergi ke toilet. Setelah keluar dari toilet dan hendak kembali ke tempat temannya berada, tanpa sengaja Nayla melihat Sandra sedang berjalan sambil menggelayut mesra pada seorang pria tua.
Nayla ingin menghampiri ibunya, tapi dia tak punya cukup keberanian untuk menegur sang ibu. Nayla hanya bisa memendamnya hingga tak sengaja dia mendengar pertengkaran Axel dengan Sandra. Sayup-sayup Nayla mendengar Axel mengatakan soal perselingkuhan yang di lakukan oleh Sandra. Untuk itulah saat ini dia mendatangi Axel untuk memastikan.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Abang?"
"Maaf bang, bukannya Nay nggak mau cerita. Nay cuma takut, Nay takut Abang marah dan kecewa," tutur Nayla yang hampir menangis.
"Tapi pada akhirnya Abang melihatnya dengan mata kepala Abang sendiri kan," ujar Axel dan Nayla hanya bisa mengangguk.
"Seperti yang kamu takutkan, Abang marah, Abang kecewa dan Abang sedih. Abang nggak nyangka kalo mama bisa setega itu sampai mengkhianati papa."
"Terus sekarang kita harus gimana bang? Apa yang harus kita lakukan?"
Axel tampak berpikir, sebagai anak laki-laki, Axel tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan. Axel tidak ingin terburu-buru hingga akhirnya nanti akan menyakiti ayahnya ataupun adiknya. Saat ini Axel sudah terlalu kecewa dengan Sandra sehingga dia tak lagi memikirkan bagaimana perasaan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kita pikirkan itu nanti, yang penting sekarang, kita tidak boleh mengatakan apapun pada papa. Kita harus menyembunyikan rahasia ini dari papa. Mengerti?"
Nayla pun mengangguk mengerti, " mengerti bang," ujar Nayla.
Setelah itu Axel mendekatkan kursinya pada kursi Nayla lalu memeluk adiknya itu. Axel ingin memberikan kekuatannya pada sang adik agar mereka bisa sama-sama melewati permasalahan yang sedang terjadi dalam keluarga mereka.
****************
Keesokan malamnya, Adam mendapati istrinya pulang larut malam. Ia melihat Sandra yang baru pulang dan berjalan mengendap-endap di dalam rumah. Seperti maling yang hendak mencuri dan takut ketahuan si pemilik rumah.
__ADS_1
Saat itu Adam baru keluar dari dapur, ia tidak bisa tidur dan merasa kehausan. Ketika Adam ingin kembali ke dalam kamarnya, samar-samar Adam mendengar suara pintu yang terbuka. Adam pun bersembunyi di balik lemari yang ada di ruang tamu.
Adam merasa sangat geram saat melihat jam di dinding menunjukkan angka 12 malam dan istrinya baru sampai di rumah. Dan yang membuat Adam lebih geram lagi, Sandra pulang dengan membawa banyak barang belanjaan. Padahal Adam sudah menjatah uang bulanan untuk Sandra, tapi kenapa istrinya itu masih bisa berfoya-foya. Dari mana Sandra mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau hanya dari jatah yang di berikan Adam setiap bulannya, tidak mungkin Sandra bisa membelanjakan barang sebanyak itu. Apalagi Adam tahu kalau setiap barang yang di beli Sandra pasti harganya di atas 10 juta rupiah.
Tak tahan lagi dengan kemarahannya, Adam pun muncul di hadapan Sandra secara tiba-tiba hingga membuat istrinya itu terkejut.
"Dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Dan itu, belanjaan kamu. Dapat uang dari mana kamu bisa belanja sebanyak itu?" tanya Adam menyelidiki.
"A-aku ... ini ... pake uang aku. Ya, pake uang aku yang kamu kasih," jawab Sandra terbata.
Adam menatap curiga pada istrinya, ia tahu kalau Sandra sedang berbohong.
"Kamu pikir aku bodoh? Uang yang aku kasih tidak akan cukup untuk belanja barang sebanyak itu," tunjuk Adam pada tas belanjaan yang ada di tangan Sandra.
Sandra pun melihat barang yang di bawanya, dan benar saja, belanjaannya terlalu banyak dan tidak sesuai dengan uang yang ia miliki di dalam rekeningnya.
Sandra ketakutan, dia bingung harus mencari alasan apa lagi agar kebohongannya tidak ketahuan.
"Ini ... sebagian teman aku yang bayar. Karena aku sering mentraktir mereka jadi sekarang gantian mereka yang traktir aku," jawab Sandra yang akhirnya menemukan alasan yang tepat untuk membohongi Adam.
Tak ingin memperpanjang masalah malam ini, Adam pun membiarkan istrinya dan ia kembali ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Sandra yang ikut berjalan di belakang Adam. Dalam hati Sandra tersenyum dengan penuh kemenangan karena merasa telah berhasil mengelabui suaminya. Tanpa Sandra tahu kalau sebenarnya Adam sedang mencari waktu yang tepat untuk membongkar semua kebohongannya.
Sementara itu, Axel yang memang belum tidur, mendengar suara dari lantai bawah. Meski dalam keadaan remang-remang, tapi Axel tahu kalau yang ada di lantai bawah itu adalah papa dan mama nya. Axel juga mendengar percakapan mereka. Ia mengepalkan kedua tangannya saat mendengar alasan yang di ucapkan Sandra. Pemuda itu semakin membenci Sandra karena sudah membohongi Adam.
"Suatu saat nanti, aku pasti akan membongkar semua kebusukan mama. Aku nggak mau mama terus menyakiti papa," gumam Axel lalu ia kembali ke dalam kamarnya.
****************
"Ma! Axel mau bicara."
Axel mendatangi Sandra yang sedang duduk di gazebo halaman belakang rumah mereka. Wanita itu sedang bermain ponsel sambil tersenyum-senyum. Axel yakin kalau Sandra sedang berkirim pesan dengan selingkuhannya.
"Kamu mau bicara apa sayang?" tanya Sandra sambil menyembunyikan ponselnya di balik punggung.
__ADS_1
Sebelum bicara, Axel duduk di samping Sandra. Dia memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah ibunya. Axel memandang Sandra dengan tatapan sedih dan kecewa.
"Axel boleh minta satu hal sama mama?" Axel mencoba untuk berbicara baik-baik dengan ibunya, berharap Sandra mau mengerti dan merubah sifatnya.
"Boleh dong. Memangnya kamu mau minta apa? Mobil, motor, handphone, atau apa?" ucap Sandra dengan menyebutkan barang-barang yang sekiranya diinginkan oleh anaknya.
Tapi ternyata salah, Axel menggelengkan kepala dan tak menginginkan barang-barang yang di sebutkannya tadi.
"Bukan itu yang Axel mau Ma."
"Lalu kamu mau apa? Apapun yang kamu mau pasti akan mama kabulkan." Sandra tersenyum sambil menatap Axel.
"Axel mau mama berubah seperti dulu sebelum mama kenal sama teman-teman arisan mama itu. Axel mau mama yang selalu ada di rumah, yang selalu ada buat kami dan papa. Axel juga mau mama tinggalkan pria yang waktu itu."
Sandra terdiam, dia mengalihkan pandangannya dari Axel. Sandra tak sanggup menatap mata anaknya.
"Kasihan papa, Ma. Papa sudah bekerja keras untuk keluarga kita. Axel mohon sama mama, tinggalkan laki-laki tua itu dan tetaplah setia dengan papa," bujuk Axel agar Sandra mau berubah.
"Jangan pernah larang mama untuk melakukan apapun yang mama suka. Kalau bukan karena papa kamu yang memblokir kartu mama, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Sandra sambil menatap tajam pada Axel.
"Papa melakukan itu juga demi mama, papa tidak mau mama dimanfaatkan oleh teman-teman Mama yang hanya menginginkan uang mama aja."
"Jangan sok tau kamu, Axel. Kamu itu cuma anak kecil yang tidak tau apa-apa tentang masalah orang tua. Jadi, jangan ikut campur urusan mama," sahut Sandra mulai emosi.
"Axel bukan anak kecil lagi ma, Axel udah 19 tahun. Jadi Axel berhak untuk ikut campur. Axel cuma nggak mau mama terus-terusan membohongi papa."
"Dan pria tua itu, dia masih punya istri. Axel nggak mau perselingkuhan mama sampe di ketahui sama istrinya dan akan membuat mama terkena masalah. Jadi Axel mohon sekali lagi sama mama, tinggalkan pria itu dan tetaplah setia sama papa," lanjut Axel.
"Sudahlah Axel, sebaiknya kamu urus saja urusan kamu sendiri. Masalah mama dan papa biar kami yang menyelesaikan, kamu jangan ikut campur," ujar Sandra seraya bangkit dari gazebo dan hendak meninggalkan Axel, tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan anaknya.
"Ingat Ma, Axel udah mencoba untuk mengingatkan mama. Kalau nanti sampe terjadi sesuatu sama mama, Axel nggak mau ikut campur lagi." ujar Axel yang tak dihiraukan oleh Sandra. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya lalu pergi begitu saja dan meninggalkan Axel sendiri.
Sementara Axel hanya bisa menatap nanar pada sang ibu yang semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
...****************...