
Dua hari berlalu, dan selama dua hari itu Dirga terus uring-uringan karena tak bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Dirga sampai harus mendatangi ruang kerja Anin dan bertanya pada rekan satu tim nya untuk menanyakan keberadaan wanita itu. Dirga merasa khawatir ketika mereka mengatakan kalau Anin sedang sakit. Dia ingin menjenguk Anin, tapi tidak tahu di mana alamat rumahnya, begitu juga dengan teman-teman Anin yang juga tidak mengetahui dimana Anin tinggal.
Dirga mencoba meminta data-data Anin dari HRD, dan ternyata alamat yang tertera adalah alamat rumah Anin yang lama dan dia sudah tidak tinggal di sana lagi. Dirga bingung, kemana lagi harus mencari Anin. Dia sudah sangat merindukan wanita itu.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Saat Dirga sedang memikirkan Anin, ternyata orang yang sedang dipikirkannya sekarang ada di depannya. Dirga melihat Anin baru saja turun dari bis. Dirga segera turun dari mobilnya dan berlari menghampiri Anin.
"Anin!"
Merasa namanya di panggil, Anin segera menoleh ke arah sumber suara. Anin terkejut melihat Dirga yang berlari menghampiri dirinya.
"Bapak ngapain lari-larian begitu, habis joging?" tanya Anin dengan polosnya.
"joging joging, saya habis ngejar maling," jawab Dirga asal.
"Hah! Maling? Mana malingnya, ayo kita kejar pak." Anin melihat ke kanan dan ke kiri mencari maling yang dimaksud Dirga, bahkan dia juga ingin berlari tapi langsung di cegah oleh Dirga.
"Mau kemana?"
"Ngejar maling kan."
"Ck, gak perlu di kejar. Malingnya sudah saya tangkap."
Anin mengerutkan keningnya tak mengerti, tadi Dirga mengatakan kalau dia sedang mengejar maling dan sekarang malingnya sudah tertangkap. Memangnya kapan Dirga menangkap malingnya?
"Mana malingnya pak?" Dengan polosnya Anin bertanya membuat Dirga mengulum bibirnya menahan senyum.
"Nih, di depan saya dan sekarang sedang saya pegang tangannya," ucap Dirga sambil mengangkat tangan kanan Anin yang sedang dipegang oleh Dirga.
Untuk sesaat Anin terdiam, ia sedang mencerna ucapan Dirga hingga akhirnya Anin membelalakkan matanya setelah menyadarinya.
"Jadi maksud bapak saya malingnya," tunjuk Anin pada dirinya sendiri.
"Iya lah kamu, memangnya siapa lagi. Kamu kan maling yang sudah mencuri hati saya."
Anin menganga tak percaya, bisa-bisanya atasannya itu menggombal seperti itu padanya. Anin pun menghempaskan tangannya yang masih di pegang oleh Dirga dengan kasar.
"Receh banget sih pak, gak lucu tau," ucapnya kesal lalu meninggalkan Dirga.
Tak ingin kehilangan Anin begitu saja, Dirga langsung mengejar Anin dan menarik tangannya hingga ke tempat mobilnya di parkirkan tadi.
"Masuk!" perintah Dirga setelah membukakan pintu mobilnya.
Anin menatap Dirga dengan wajah kesalnya, "Pak, letak kantor ada di depan sana dan saya tinggal jalan beberapa langkah lagi untuk sampai ke sana. Jadi untuk apa saya naik mobil bapak."
"Siapa bilang saya mau mengantar kamu ke kantor dengan mobil saya."
"Lah, terus?"
__ADS_1
"Saya mau culik kamu."
"Bapak jangan bercanda ya!"
"Saya tidak sedang bercanda, cepetan masuk atau saya masukin kamu sekarang juga," ancam Dirga membuat Anin melebarkan kedua matanya.
"Bapak jangan macam-macam sama saya ya."
"Bawel banget sih, buruan masuk sebelum saya hilang kendali dan menerkam kamu di sini," ancam Dirga lagi.
Dengan perasaan kesal, Anin pun terpaksa menurut dan masuk ke dalam mobil Dirga. Sementara Dirga tersenyum puas karena akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk bisa berduaan dengan Anin.
...****************...
Selama perjalanan, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Anin yang masih kesal dengan atasannya itu, hanya diam saja sambil menatap jalanan dari kaca samping. Tak mau sedikitpun dia menoleh pada Dirga.
"Kamu marah?" tanya Dirga sambil melirik Anin sekilas.
Tak ada jawaban dari Anin, dia masih tetap menutup rapat mulutnya dan tak mau mengeluarkan suara.
"Maaf deh, saya nggak bermaksud jahat kok sama kamu. Saya janji tidak akan macam-macam kecuali kamu yang minta," canda Dirga dan langsung mendapat tatapan tajam dari Anin.
"Hehe. Bercanda loh Nin, serius banget sih."
Anin kembali memalingkan wajahnya dan lagi-lagi tak ada suara di antara mereka hingga mobil Dirga sampai di depan sebuah rumah besar nan megah. Pagar rumah tersebut terbuka secara otomatis dan Dirga pun melajukan mobilnya memasuki halaman rumah yang luasnya seperti lapangan bola.
Anin sempat takjub melihat rumah sebesar itu, rumah yang dia tempati memang besar dan luas tapi tidak sebanding dengan rumah yang ada di hadapannya itu.
"Ini rumah siapa pak?" tanya Anin.
"Ini rumah kita sayang," jawab Dirga dengan senyum menggodanya dan Anin kembali menatap Dirga dengan tajam.
"Iya iya, saya cuma bercanda. Gitu aja marah, ini tuh rumah orang tua saya."
"Kita mau ngapain ke rumah orang tua bapak?"
"Ya mau ngenalin kamu ke orang tua saya lah," jawab Dirga seenaknya.
"Nggak! Saya nggak mau." Anin tetap diam di dalam mobil dan melipat kedua tangannya.
Dirga yang tak sabar dengan penolakan Anin pun turun dari mobilnya lalu bejalan memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Anin.
"Turun!"
"Nggak mau!"
"Turun!"
__ADS_1
"Nggak mau!"
Anin tetap bersikeras tak mau turun, tapi Dirga tak kehilangan akal. Dia menunduk lalu menggendong Anin ala bridal style. Tak peduli dengan teriakan Anin yang terus memberontak dan meminta untuk di turunkan.
"Pak, apa-apaan sih. Turunkan saya!"
"Nggak, sebelum kamu berjanji tidak akan membantah, saya tidak akan menurunkan kamu," ucap Dirga sambil terus berjalan memasuk rumah megahnya itu. Dirga terus berjalan menaiki anak tangga hingga mereka tiba di lantai dua dan berhenti di depan sebuah pintu ruangan.
"Iya iya saya janji," sahut Anin pasrah.
"Beneran?"
"Iya, asal bapak gak macam-macam sama saya ..."
"Saya tidak akan macam-macam sama kamu, memangnya saya cowok apaan."
Dirga pun menurunkan Anin tepat di depan ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Setelah menurunkan Anin, Dirga membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Anin untuk masuk.
"Silahkan!"
Anin tampak ragu, tapi Dirga meyakinkan Anin bahwa dia tidak ada niat buruk pada dirinya.
"Kalau kamu takut saya akan macam-macam, pintu ini akan saya biarkan terbuka," ucap Dirga untuk meyakinkan Anin.
Dirga pun masuk ke dalam dan diikuti Anin dari belakang.
"Kamu duduk dulu di sebelah sana," tunjuk Dirga pada sebuah sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Anin berjalan menuju sofa yang di tunjuk oleh Dirga tadi, sementara Dirga berjalan menuju meja kerjanya. Dia mengambil sebuah buku sketsa yang ada di atas meja kerjanya itu lalu kembali berjalan ke tempat Anin duduk.
"Kamu tolong saya selesaikan sketsa ini," ucapnya sambil memberikan buku tersebut.
Anin mengerutkan keningnya karena ia seperti mengenali buku tersebut, dan Anin semakin terkejut saat melihat gambar di dalamnya.
"Ini kan ..."
"Iya, itu sketsa yang kamu buat secara diam-diam di kantor."
"Dari mana bapak mendapatkan buku ini?"
Anin tidak menyangka jika Dirga bisa mendapatkan buku sketsanya. Anin pikir buku itu sudah hilang karena seminggu yang lalu buku tersebut tertinggal di laci meja kerjanya dan keesokan harinya saat Anin ingin mengambilnya kembali, buku itu sudah tak ada lagi. Anin sempat sedih dan takut kalau buku itu di ambil oleh orang lain. Tapi, siapa yang sangka jika buku tersebut justru di temukan oleh pemilik perusahaan tempat Anin bekerja.
"Itu tak penting. Yang ingin saya tau, kenapa kamu menyembunyikan desain sebagus itu dari saya. Kamu tau kan, semua desain yang kamu buat itu sangat unik dan sangat sesuai dengan tema acara fashion week yang akan di adakan bulan depan?"
Anin menunduk dan tak berani menatap Dirga, mana mungkin dia memberikan desain buatannya pada atasannya itu. Karena Anin cukup sadar diri siapa dan apa posisinya di perusahaan tersebut. Anin hanyalah seorang asisten yang baru bekerja dua bulan di sana. Bagaimana mungkin dengan percaya dirinya Anin langsung menyodorkan desain rancangannya itu.
"Pokoknya saya gak mau tau, dan saya juga sudah memutuskan untuk menggunakan semua rancangan kamu untuk acara yang akan di adakan oleh perusahaan. Dan saya mau kamu menjadi desainer utamanya di acara tersebut."
__ADS_1
Anin mendongak dan menatap Dirga tak percaya, bagaimana mungkin acara sebesar itu di percayakan pada dirinya yang masih anak baru. Apa yang akan di katakan oleh teman-temannya nanti dan bagaimana pula tanggapan Sonya selaku manajer fashion desainer sekaligus orang yang sudah di tunjuk sebagai desainer utama sebelumnya.
...****************...