
Satu minggu lagi acara resepsi Pita dan Adi akan di gelar. Semua persiapan sudah mendekati 100%. Acara yang megah akan menambah kebahagiaan kedua mempelai. Awalnya Pita hanya ingin acara sederhana saja, tapi Adi bersikeras ingin memberikan hal yang istimewa untuk orang yang paling spesial untuknya. Pita pun hanya pasrah tak bisa lagi protes.
Demi bisa menghadiri acara penting Pita, orang tua Lala sibuk mengurus pekerjaan di luar kota agar selesai sebelum hari H. Tentu saja Ayah Pita pun harus turut serta mengantar sang majikan kemanapun perginya. Dan hari ini pekerjaan mereka sudah selesai dan dalam perjalanan pulang.
Hari ini Pita menginap di rumah orangtuanya, suaminya sedang lembur menyelesaikan beberapa pekerjaan yang akan Ia tinggalkan beberapa hari kedepan. Pita tengah membantu Ibunya menyiapkan makan siang untuk menyambut Ayahnya yang akan pulang.
Tak hanya Pita disana, Lala pun turut menginap disana. Ia pun ikut membantu memasak dan akan Ia bawa pulang nantinya. Orangtuanya sangat menyukai masakan Ibu Pita, jadi Lala pun belajar memasak pada Beliau. Agar bisa membuatkan masakan lezat dengan tangannya sendiri.
Semuanya sudah siap, mereka pun duduk bersantai sembari menunggu waktu makan siang tiba.
"Pasti Papa Mama Kamu bangga La sama Kamu. Kemajuanmu memasak meningkat pesat", puji Pita.
"Iya dong. Siapa dulu yang ajarin? Ibu kan juaranya memasak", jawab Lala cengengesan.
"Itu karena Kamu yang semangat belajarnya", ucap Ibu Pita.
"Ah... Ibu selalu gitu deh", ucap Lala.
Ketiganya pun mulai berbincang ngalor ngidul. Lala dan Pita banyak bercerita yang terkadang diselingi senda gurau. Keduanya tertawa bersama tanpa beban. Tak ada batasan antara anak majikan dan anak supir diantara keduanya.
"Ibu senang kalian rukun. Ibu harap kalian seperti ini selamanya. Saling menguatkan satu sama lain. Hiduplah layaknya saudara kedepannya.
__ADS_1
Jangan meninggalkannya, jika salah satu dari kalian sedang terjatuh. Saling bahu membahulah kalian. Hidup kalian berdua masih panjang dan banyak hal yang akan kalian lalui.
Jadi tetaplah berdiri kokoh pada kaki kalian, meski banyak angin yang akan menerpa tubuh kalian.
Nak Lala, titip Pita ya. Dia itu cerewet tapi hatinya rapuh", ucap Ibu Pita menasehati.
Deggggg.....
Entah mengapa hati Lala dan Pita tiba-tiba merasa gelisah setelah mendengar tutur kata dari Ibu Pita. Dan wejangan-wejangan juga Ayah Pita berikan saat tadi pagi menelfonnya untuk mengabari bahwa akan pulang saat ba'da dhuhur.
"Ibu ngomong apaan sih. Tumben nasehatinnya aneh-aneh", ucap Pita sedikit bergetar, entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
"Iya Ibu nih. Ngomongnya kaya Mama dan Papa pas mau berangkat ke luar kota. Masa nitipin Lala ke Pita, Lala kan udah gede masa masih dititipin", lanjut Lala, hatinya tiba-tiba dilanda gelisah.
Drrttttt.......dddrrrrrrtttt...
Ponsel Lala pun berdering di iringi suara getaran, Ia fikir Mamanya tapi hanya nomor tak dikenal. Ia pun enggan menjawabnya. Mungkin hanya orang iseng yang ingin mengganggunya. Ia memilih mengabaikannya.
Drrrrrrttttt......drrrrrrttttt....
"La angkat aja dulu. Siapa tahu penting? Kalo nggak penting tinggal blok aja nomornya", saran Pita.
__ADS_1
Dengan malas Lala pun mengangkatnya.
"Ya halo.....", ucap Lala kemudian mendengarkan ucapan di seberang.
"Apa?????", seru Lala terkejut.
Ia pun masih menyimak ucapan lawan bicaranya.
"Baik Saya segera disana", lanjut Lala sambil berlinangan airmata.
Pita dan Ibunya pun hanya bingung, namun melihat airmata Lala yang turun, menandakan bahwa itu bukan berita bagus.
"Kita harus ke Rumah Sakit sekarang", ucap Lala sambil menyelempangkan tasnya dan segera berjalan menuju luar.
Tanpa menjelaskan apapun Ia menghubungi sopir rumahnya untuk menyemputnya di rumah Pita.
Mereka pun sudah perjalanan menuju Rumah Sakit.
"Ibu. Pita. Orangtuaku dan Ayah Pita kecelakaan", ucap Lala saat mulai menguasai dirinya.
"Apa????", seru kedua Ibu dan Anak itu.
__ADS_1
Ibu Pita pun memegang dadanya erat. Ada rasa sesak di sana, jadi ini jawaban atas kerisauannya.
******........******