Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
77. Kritis


__ADS_3

Adi memilih meninggalkan kediaman orangtuanya, Ia kembali ke rumahnya sendiri tanpa perduli teriakan yang menggema dari dalam rumah. Telinganya seolah tuli, pikirannya kacau Ia hanya ingin segera sampai di rumahnya sendiri.


"Mbak ini gimana? Suamiku sedang keluar kota survei lokasi. Kita harus segera membawa Papa Mbak tapi kita nggak kuat angkatnya", jerit Citra panik melihat Papanya pingsan.


"Tenang yah. Kakak Iparmu sudah hampir sampai, Dia udah ngabarin Mbak tadi. Kita nunggu Masmu sebentar", ucap Bela mencoba tenang, Ia khawatir jika ikut panik Mamanya akan ikut drop, akhir-akhir ini darah tingginya naik.


"Kamu siapkan keperluan Papa. Nanti biar Mbak yang bawa Papa sama Masmu, Kamu jagain Mama agar tak khawatir ya", lanjut Bela.


Tak lama kemudian, suami Bela datang dan segera membawa mertuanya ke mobil di bantu Bela mereka segera menuju ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Papa mereka.


Bela mencoba menghubungi Kakaknya, bagaimanapun Adi berhak tahu kondisi Papanya saat ini. Sayangnya justru panggilan itu Adi abaikan, Ia masih marah pada keluarganya yang justru mendukung Pita bersama Lelaki lain.


*****_________*****


Sore itu, Pita dan Ndaru tengah berada di sebuah rumah minimalis tepatnya rumah yang Ndaru sewa selama menjalankan usaha. Rumah sederhana namun nyaman untuk di tinggali. Ia hendak membeli rumah itu namun uangnya belum terkumpul lagi.


Ndaru terlanjur membeli ruko untuk warung utama penyetan sekaligus kantornya. Sementara untuk cabang semua menggunakan gerobak tenda dengan cara di sewakan.


"Rumahnya bagus ya Mas. Asri meski di tengah Ibukota", ucap Pita mengagumi hunian suaminya selama di kota.


"Iya Dekk. Makanya Mas berniat membelinya, tapi sayang uangnya keburu kepakai beli Ruko yang tadi kita kunjungi", jawab Ndaru.


"Jadi Rukonya udah milik Mas. Kirain masih nyewa", ucap Pita bangga dengan kemajuan usaha suaminya itu.

__ADS_1


"Alkhamdulillah udah Dek. Sekaligus buat kantor, tempatnya nyaman untuk menulis laporan", sahut Ndaru.


"Apa kita akan tinggal disini Mas?", tanya Pita ragu.


Melihat raut tak biasa dari wajah Istrinya, membuat Ndaru menghela nafas pelan. Ia bisa menebak jika Istrinya belum siap kembali ke kota ini, tempat yang memberinya kenangan buruk.


Kemalangan yang Wanita itu terima secara bertubi-tubi berawal dari kota ini. Di kota ini Ia lahir dan di besarkan, harus kehilangan orangtua di usia muda. Kehilangan bayi serta diceraikan setelahnya. Saat Ia mendapat pelipur rasa sedih dengan hadirnya bayi yang ditinggal Ibunya pergi untuk selama-lamanya. Ia kembali dihadapkan dengan pernikahan kontrak. Demi bayi malang itu, Ia pun memilih menjalaninya.


Bahkan Pita mencoba menutup diri dan menolaknya saat Ia meminta Pita membina rumah tangga dengannya. Jika bukan karena Bu Wati mungkin Ndaru belum bisa menjadikan Pita Istrinya hingga saat ini. Dan Ia pun tak tahu dengan cara apa Ibunya berhasil meyakinkan Pita.


Ia sebenarnya ingin kembali tinggal di kota karena usahanya ada disini, namun Ia pun tak boleh egois jika Istrinya belum bisa kembali menjalani hidup di kota yang sama tempatnya mendapat luka.


"Iya....Tapi tidak untuk saat ini, Aku tahu kamu belum siap untuk tinggal di kota ini lagi.


Kita akan tinggal lagi di desa hingga Kamu merasa siap kembali untuk tinggal disini",ucap Ndaru lembut.


Brukk....


Tiba-tiba Pita menghambur kedalam pelukan Ndaru. Pita pikir Ndaru akan mengajaknya tinggal di rumah ini, nyatanya mereka akan kembali ke desa lagi.


"Terimakasih Mas. Sudah mau mengerti", ucap Pita bahagia.


"Iya. Kamu jangan sungkan mengungkapkan isi hatimu padaku.

__ADS_1


Agar kita bisa saling mengerti, dan terhindar dari kesalahpahaman.


Kunci harmonisnya keluarga adalah saling terbuka, jujur meski itu terasa pahit.


Jika pun ada masalah kita selesaikan bersama tanpa harus menanggungnya sendiri", ucap Ndaru menasehati sembari mengusap punggung Pita.


Dering ponsel Pita berhasil membuat mereka saling melepaskan pelukan.


"........",


"Iya Mbak. Aku kesana sekarang", sahut Pita panik.


Panggilan pun terputus dan airmata Pita perlahan turun dengan sendirinya.


"Ada apa?", tanya Ndaru cemas.


"Papa Mas. Beliau kemarin kambuh sakit jantungnya dan sekarang kritis", ucap Pita disela isakannya.


Mendengar panggilan Papa, Ndaru sudah paham siapa yang Pita maksud. Ia sudah mendengar sendiri tentang mantan mertuanya itu. Dan Ia tak merasa cemburu meski Pita memanggil mantan mertuanya itu dengan sebutan Papa. Toh Pita sudah tak ada hubungannya dengan Adi, Ndaru paham Pita hanya ingin menjalin hubungan baik dengan orang yang menganggap Pita seperti anaknya itu.


"Sudah jangan nangis, lebih baik Kamu do'akan agar Beliau segera pulih. Aku akan mengantarmu, kita pergi setelah sholat Ashar dulu", ajak Ndaru yang dijawab anggukan Pita.


*****.........*****

__ADS_1


__ADS_2