Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
84. Extra Part 1 Trauma


__ADS_3

Hoek....hoek....


Pita mual dan muntah selama dua hari ini tanpa di temani sang suami. Ndaru tengah pergi ke kota untuk mengurus lahan yang hendak di beli untuk membuka cabang peyetan ternyata terlibat persengketaan, mau tak mau Ia harus turun tangan sendiri tidak hanya mengandalkan orang kepercayaannya. Rupanya penyelesaiannya cukup alot dan memakan banyak waktu meski pada akhirnya pihak Ndaru yang memenangkan lahan yang kini telah dibelinya itu. Hingga Ia lupa jika ponselnya lowbatt dan belum sempat menghubungi Pita sedari kemarin.


Awal kehamilan Pita tak mengalami mual dan muntah, justru di usia kehamilan yang ke enam bulan ini tiba-tiba Ia merasakannya.


Harusnya disaat seperti ini Ia mendapatkan perhatian suaminya. Tapi sang Suami yang sedang berada di Ibu kota justru tak bisa di hubungi. Dan membuat Pita berpikiran buruk.


'Apakah Mas Ndaru juga pergi meninggalkan Aku seperti Adi dulu', lirih Pita dalam hati.


Kenangan buruk kembali teringat dimana usia kandungannya kini sama dengan disaat Ia dicampakkan. Tubuhnya yang lelah karena terus-terusan muntah membuatnya lemas, bayangan masa-masa sulit yang Ia jalani saat hamil besar kembali terkenang. Seolah ada kaset yang terputar diingatannya kembali. Kekhawatiran yang berlebihan membuat fisiknya semakin melemah.


Bruggghhhhh.....


"Ya ampun Mbak Pita...", seru adik Ndaru panik.


Ia ingin mengecek kondisi Pita dikamarnya malah menyaksikan san Kakak Ipar terjatuh karena pingsan.

__ADS_1


Bapak dan Ibu Ndaru pun segera datang saat mendengar teriakan adik Bungsu Ndaru. Orang tua Ndaru pun mengangkat Pita untuk kembali ke ranjang, sementara Adik Ndaru memilih mencari mobil untuk membawa Kakak Iparnya ke Puskesmas terdekat. Ia takut Pita terbentur di lantai sangat keras dan berimbas pada kandungannya.


Akhirnya Pita segera dibawa ke Puskesmas karena tak kunjung sadar. Sepanjang perjalanan Pita terlihat terus menangis di alam bawah sadarnya. Keringat pun terus-terusan membanjiri tubuhnya. Bu Wati memilih mengirimkan pesan pada Ndaru, karena ponsel Ndaru belum bisa dihubungi hingga sekarang.


Pita segera masuk keruang UGD untuk ditangani. Karena kondisinya cukup lemah, terpaksa harus di infus.


"Bapak dan Ibu keluarga pasien?", tanya Dokter Kandungan yang beberapa waktu lalu memeriksa kandungan Pita saat USG.


Yah Dokter tersebut yang menangani Pita, karena Ia melihat Pita yang menjadi pasiennya Ia pun memilih menangani melihat Pita dalam keadaan mengandung.


Pak Iyo dan Bu wati mengikuti Dokter tersebut ke ruangannya. Sementara Adik Ndaru pulang untuk menyelesaikan pesanan yang tadi tengah Ia kerjakan.


"Dia muntah parah dan tak bisa makan maupun minum sesuatu Dok, makanya lemes.Oh ya tadi jatuh ke lantainya saat pingsan cukup keras. Apa berakibat ke kandungannya Dok?", tanya Bu Wati memastikan.


"Padahal di Trimester pertama kemarin justru tidak mual dan muntah. Namun melihat kondisinya tadi, sepertinya muntah-muntah yang dialami Ibu Pita bukan karena kehamilannya, melainkan dalam keadaan stres. Mungkin ada yang tengah dipikirkannya.


Dan untuk masalah jatuhnya tadi, tidak berpengaruh pada kandungannya. Bersyukur kandungannya sehat dan kuat sehingga tak terguncang meski Ibunya terjatuh ke lantai", jelas sang Dokter.

__ADS_1


Bu Wati menjadi kepikiran tentang menantunya, selama ini tidak ada masalah yang sekiranya serius, lantas apa yang tengah menantunya itu pikirkan. Ia malah teringat cerita Ndaru tentang masalalu Pita, Ia menduga Pita ketakutan akan kembali di tinggalkan suami disaat tengah hamil terlebih Ndaru sulit dihubungi saat di kota.


"Apakah peristiwa buruk yang telah berlalu bisa memicu stres pada Ibu hamil Dok?", tanya Bu Wati, sedangkan Pak Iyo hanya menjadi pendengar yang baik.


"Itu bisa saja terjadi Bu. Kalau boleh tahu peristiwa seperti apa agar saya dapat menyimpulkan?", tanya Dokter Dewi.


"Menantu saya pernah menikah dan di telantarkan saat hamil sehingga asupan gizinya tak terpenuhi. Saat hendak melahirkan jatuh terserempet mobil dan akhirnya bayinya meninggal.


Bahkan setelahnya suaminya datang memberikan surat cerai padanya disaat masih dirumah sakit", jelas Bu Wati.


"Rupanya itu cukup berat Bu. Saya sarankan setelah kondisinya membaik di bawa ke kota untuk diperiksakan ke psikiater untuk mengantisipasi traumanya dulu.


Jika rasa trauma masih dirasakan saat hamil akan berpengaruh pada janin yang di kandung Bu Pita", jelas Dokter Dewi.


"Peran suami disini sangat penting, Ibu hamil sangat sensitif terlebih Bu Pita mengalami hal buruk disaat hamil. Jadi saya harap disampaikan pada suaminya untuk lebih memperhatikannya untuk saat ini", Imbuh Dokter Dewi.


Rasa sedih tengah Bu Wati rasakan, Ia juga baru tahu masalalu Pita dari Ndaru beberapa waktu lalu. Jadi ini alasan Pita selalu tertutup tentang masalalunya itu. Ia tak ingin mengorek luka yang berusaha Ia kubur. Bu Wati hanya berharap anaknya segera pulang dan mendampingi Pita saat ini.

__ADS_1


*****........*****


__ADS_2