Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
24. Terserempet Pick Up


__ADS_3

Lala telah menjual mobilnya, Ia memilih membeli sebuah motor matic bekas dan menyimpan sisa uangnya sebagai tabungan. Ia sekarang memakai motor sebagai alat transportasinya kuliah.


Sementara uang pemberian Tante Rani dan Lita, telah Ia gunakan untuk membayar gaji terakhir serta pesangon semua pekerja di rumahnya. Kemudian memberhentikan semuanya, hanya saja ART senior yang merawatnya sedari kecil memilih tetap tinggal disana bersama suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun. Mereka rela tanpa digaji asal tetap di izinkan tinggal disana. Mereka tak punya anak dan sudah tak punya sanak saudara, jadi tak ada tempat untuk pulang.


Lala pulang kuliah mengendarai motornya seperti biasanya dengan kecepatan sedang, karena Ia masih belum terbiasa mengendarai motor. Ia yang terbiasa mengendarai mobil harus beradaptasi dengan motor.


Jalanan cukup lenggang, namun tiba-tiba mobil pick up melaju cukup kencang dan......


Braaaaakkkkkk........


"Aaaaaa......", pekik Lala saat merasa tubuhnya melayang.


Bayangan kecelakaan yang menimpa orangtuanya beberapa bulan yang lalu membuatnya takut.


'Apakah Aku akan ikut Papa dan Mama', batin Lala.


Bruuuggghhhh.....


Lala pun akhirnya sadar dari rasa terkejutnya saat tubuhnya jatuh menghantam trotoar.


"Uggghhhh..... sakit. Masih hidup berarti Aku kalo masih terasa sakit", ucap Lala.


Ciiiiiiiittttttt......


Suara decitan ban bergesekan dengan aspal pun terdengar.

__ADS_1


Mobil Pick up itu pun berhenti mendadak, si pengendara tampak syok karena telah menyerempet sebuah motor hingga pengendaranya terjatuh.


"Ya... Ampun..... Aku nabrak orang", pekik pengendara pick up tersebut.


Setelah pulih dari syoknya, Ia buru-buru turun menghampiri orang yang Ia serempet tadi.


"Maaf.... saya nggak sengaja. Saya buru-buru tadi", ucap wanita muda yang baru turun dari mobil pick up tersebut.


Lala yang masih merasa terkejut pun tak menanggapi ucapan wanita tersebut. Ia memilih melepas helm yang tiba-tiba terasa membuatnya gerah.


Melihat Lala membuka helm wanita tadi pun tahu korbannya adalah seorang perempuan.


"Mbak sebelah mana yang luka", ucap wanita itu panik.


Wanita tadi pun memeriksa kaki Lala yang dikeluhkan sakit.


"Wah sepertinya terkilir ini Mbak. Ayo saya antar kerumah sakit. Kebetulan tujuan saya juga kesana", ucap si penabrak tadi.


Kebetulan beberapa pengendara yang melintas menghentikan kendaraan mereka dan memastikan kondisi Lala yang terlihat terkapar di trotoar.


Mereka pun membantu Lala naik ke mobil pick up itu dan mengangkat motor Lala di bak mobil itu.


Kini mereka menuju ke arah Rumah sakit. Dalam perjalanan mereka saling berkenalan, si penabrak menjelaskan alasannya terburu-buru karena mendapat panggilan dari Rumah sakit yang menyatakan kondisi Kakak iparnya tengah kritis.


"Mbak kayaknya kita pernah ketemu deh", ucap Lala saat merasa familiar dengan wanita bernama Bela itu.

__ADS_1


"Apa iya? Tapi sepertinya sih iya, muka kamu terasa nggak asing", jawab wanita bernama Bela itu.


"Aku ingat Mbak. Kamu adiknya Pak Adi kan. Kita ketemu di nikahan Pak Adi dengan Pita, sahabat Saya", seru Lala saat mengingatnya.


"Oh jadi kamu sahabatnya Kakak Ipar", jawab Bela kemudian.


"Kalo Kakak Ipar Mbak yang kritis. Artinya itu Pita Mbak", tanya Lala memastikan.


Ada rasa tak tenang tiba-tiba menyerangnya, Ia takut sahabat baiknya kenapa-napa. Ia tak sanggup hal buruk akan menimpa satu-satunya orang yang Ia sayangi.


'Semoga Kamu baik-baik saja Ta', lirih Lala dalam hati.


"Iya. Maaf tadi Aku panik saat mendapatkan panggilan dari Rumah sakit, terlebih Kakakku tak bisa dihubungi. Jadi yang ada difikiranku hanya cepat sampai di Rumah sakit. Gara-gara keteledoranku kamu jadi terkilir", ucap Bela merasa bersalah.


"Nggak papa Mbak. Jika Aku di posisi Mbak pun akan sama paniknya. Tapi setidaknya dengan kejadian ini Aku tahu keadaan sahabatku. Jadi Mbak jangan merasa bersalah. Mungkin ini takdirnya untuk mengantarkanku bertemu Pita. Sudah beberapa bulan ini Kami sulit bertemu", jawab Lala.


"Jangankan Kamu, kami keluarganya sulit bertemu dengan Kakak Ipar. Bahkan Aku merasa ada sesuatu yang sengaja Kakakku tutupi dari Kami keluarganya. Rasanya janggal sekali, saat kami hendak berkunjung ada saja alasan Kakakku, seolah tak ingin kami bertemu Kakak ipar", keluh Bela.


Mendengar keluhan adik ipar Pita membuat Lala semakin berpikir yang tidak-tidak pada sahabatnya itu.


'Semoga saja yang Aku takutkan tidak benar Ta. Tapi hati kecilku tetap curiga ada yang Kamu sembunyikan dariku', batin Lala.


Ia hanya bisa berdo'a semoga sahabatnya lepas dari masa kritisnya saat ini.


******.......*****

__ADS_1


__ADS_2