
Di sebuah rumah mewah tampak seorang lelaki dewasa tengah termenung sambil menatap foto pernikahan yang terpasang di ruang tamu. Foto yang diambil sekitar 3 tahun yang lalu. Senyum bahagia nampak diwajahnya saat menikahi gadis incarannya itu.
Menyesal kini Ia rasakan, hanya karena sang Istri mengandung anak perempuan membuatnya mengabaikan orang yang Ia cintai. Karena syarat warisan 50 persen adalah memiliki keturunan laki-laki. Ambisi telah membutakan matanya.
Dengan tega Ia mengabaikan wanita hamil besar itu berjuang sendiri hingga melahirkan, bahkan yang Ia dengar wanita yang sudah yatim piatu itu koma pasca melahirkan. Dan tanpa perasaan Ia menceraikannya disaat Ia berduka karena putri Kami meninggal.
Mungkin karmanya karena berbuat keji pada wanita baik hati itu sehingga usaha yang Aku kelola tiba-tiba merugi banyak. Sepertinya Pita memang keberuntungannya, semenjak menikah usahanya mendapatkan untung besar tiap bulannya. Dan dalam sehari setelah Ia menceraikannya usahanya diambang kehancuran karena rekan bisnisnya ada yang berbuat curang.
Tak ada waktu baginya untuk menemui Pita walau sekedar meminta maaf. Ia mati-matian mempertahankan usaha yang dibangun Papanya sedari nol.
Tok....tok....tok....
__ADS_1
Ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan. Ia pun bergegas membukakan pintu. Rumah besar itu kini Ia tinggali sendirian. Ia menggunakan jasa ART yang tidak menginap disana. Rumah yang niatnya Ia berikan pada Pita beserta uang jaminan hidup di tolaknya mentah-mentah.
Ia semakin menyesal menceraikan wanita yang begitu sempurna seperti Pita. Ia berpisah tanpa menuntut apapun darinya.
Lelaki itu adalah Adi, yang sekarang hidup diliputi rasa penyesalan. Di tambah terakhir Ia bertemu Pita yang terlihat membencinya. Segera Ia buka pintu rumahnya itu.
"Kak.... Ini ada masakan dari Mama katanya harus dimakan. Oh ya Bela buru-buru lagi ada banyak orderan", ucap Bela adik Adi yang segera berlalu setelah menyerahkan tempat makan padanya.
Adi hanya bisa mengingat awal-awal Pita hamil Ia begitu antusias dan memanjakannya. Sayangnya semua hanya sebatas kenangan yang terus-terusan teringat dalam memori otaknya.
Ia hanya bisa menitikkan airmata dikala mengingat putri kecilnya yang telah tiada.
__ADS_1
"Maafkan Ayah Mika, kamu harus tiada karena keegoisan Ayah yang membuat Ibumu terluka dan membenci Ayah", ucap Adi.
*****.....*****
Di tempat lain, Seorang laki-laki nampak sendu. Ia teringat saat pulang dari toko selalu mendapati Pita yang tengah berada di taman belakang bersama Gara. Anaknya yang selalu Ia abaikan itu. Entak bermain, mendongengkan atau pun menyuapi bocah itu. Dan semua itu hanya Ia lihat dari kamarnya di lantai atas.
Biasanya tawa Pita dan anaknya akan terdengar hangat di telinganya. Sekarang semua terasa berbeda setelah kepergian Pita. Bahkan Gara pun ikut pergi saat tahu Pita tak lagi mau tinggal disana. Dan lebih memilih tinggal bersama neneknya.
Saat Aji mencoba mendekati Gara, tatapan dingin dan penuh kebencian tampak diwajah mungilnya. Rupanya sikap acuhnya membuat pribadi Gara yang dingin muncul dengan sendirinya. Anak itu memilih pergi saat melihat Aji datang ke rumah Bu Titin. Sementara Bu Titin memilih banyak diam, keegoisannya untuk memberikan Ibu bagi Gara rupanya membuat dua orang terluka. Gara yang harus kehilangan sosok Ibu dan Pita yang hanya di nikaho kontrak oleh putranya. Dan Ia tak menyalahkan Pita akan kepergiannya.
'Maafkan Ayah Nak. Ayah gagal menjadi Ayah yang baik. Harusnya sedari awal Ayah selalu ada agar Kamu mau memeluk Ayah', lirih Aji dalam hati.
__ADS_1
*****.....*****