Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
27. Tangis Bayi


__ADS_3

"La, Aku antar kamu pulang sekarang ya. Sebentar lagi Adik dan orangtuaku akan datang untuk mengurus kepulangan anak Kakakku, kami harus segera memakamkannya", ucap Bela pada Lala.


"Baik Mbak. Tapi apa boleh Aku melihat jenazahnya sebentar?", Pinta Lala.


"Boleh. Ayo Aku antarkan", jawab Bela.


Mereka pun menuju ruangan tempat jenazah bayi itu diletakkan. Nampak bayi mungil yang cantik dengan lesung pipit di salah satu pipinya. Bayi itu terlihat seakan tengah tersenyum dalam tidurnya.


'Pita... anakmu cantik sekali. Ia bahkan hanya seperti sedang tidur. Kasihan sekali Kamu sayang, Ayahmu tega membiarkanmu tak sempat melihat dunia.


Tenanglah disana. Dan semoga Ibumu segera sadar serta kuat melanjutkan hidup meski kamu tinggalkan', ucap Lala dalam hati sambil mengelus pipi bayi itu dengan sayang.


Keduanya pun terdiam sejenak dengan pemikiran masing-masing. Hingga Lala tak sengaja melihat sebuah nama di box tempat jenazah Bayi itu diletakkan.


"Kenapa ada namanya Mbak?", tanya Lala.


"Kata Dokter itu nama yang Pita beri untuk anaknya sebelum jatuh pingsan", jawab Bela.


"Bahkan Kamu sudah memberinya nama Ta. Aku harap kamu segera bangun, ada Aku bersamamu. Aku tetap Lala sahabatmu meski kita sama-sama sudah menikah.

__ADS_1


Jangan simpan masalahmu sendiri lagi, bagilah denganku meski sedikit saja", lirih Lala.


Lala dan Bela akhirnya meninggalkan Rumah Sakit itu. Karena kaki Lala yang terkilir harus segera di istirahatkan, tak boleh banyak berjalan untuk sementara.


*****--------*****


Kondisi Pita yang tak kunjung sadar membuatnya harus di pindahkan keruang ICU, tentu dengan persetujuan Mertua Pita. Mereka begitu menyayangi menantunya yang telah sebatang kara itu. Mereka pun tak habis pikir bagaimana anak lelaki mereka bisa tega menelantarkan istrinya yang tengah hamil besar, hingga mereka harus kehilangan cucu yang baru saja di lahirkan.


Tak hanya Pita yang mengalami koma setelah melahirkan. Di sebelah ruangan Pita di rawatpun ada seorang wanita yang tengah mengalami nasib yang sama. Hanya saja Ia ditemani suami serta Ibu mertuanya, dan bayinya selamat.


Wanita di sebelah ruangan Pita adalah menantu dari wanita paruh baya yang baik hati mengantarkan Pita ke Rumah Sakit. Wanita itu bernama Ibu Titin, Ia sedih melihat menantunya kini terbaring koma setelah mengalami pendarahan paska melahirkan. Untungnya pendarahan itu segera terhenti, hanya saja justru menantunya yang kini tak kunjung sadar.


Bu Titin sedih tak hanya karena melihat kondisi menantunya sekarang, anaknya pun kini terlihat kacau karena merasa gagal melindungi istrinya. Dokter sudah menyarankan untuk persalinan secara cesar, tapi menantunya itu kekeh ingin melahirkan secara normal. Dan inilah hasilnya.


Bu Titin berinisiatif membawa cucunya mendekat ke ruangan Menantunya dirawat, tentunya sudah dengan ijin Dokter membawa bayi itu kesana. Ia berharap setelah mendengar suara bayi itu, menantunya segera sadar.


Namun, belum sempat mendekat ke ruangan itu, Bu Titin melihat Dokter berlarian menuju ruangan menantunya dan anak lelakinya mondar-mandir di depan ruangan itu. Rasa khawatir menderanya, Ia terhenti sejenak tepat di depan ruangan Pita.


Tiba-tiba......

__ADS_1


"Oek....oek....ooeekkk....", tangis bayi itu terdengar keras.


Bu Titin semakin tak tenang, entah mengapa Ia yakin bayi lebih peka. Dan tangisannya tadi bukan pertanda baik.


Sementara itu di ruangan Pita, Ia terlihat masih setia tidur di alam bawah sadarnya. Tapi.... tangisan bayi di luar ruangannya rupanya mengusik tidur nyenyaknya itu. Jarinya bergerak dan matanya sedikit berkedut, bertepatan saat seorang perawat mengeceknya ke ruangan. Ia pun segera menghubungi Dokter yang menangani Pita setelah melihat sedikit gerakan kecil yang menunjukka respon baik dari Pita tadi.


"Oek....oek....oeeeekkkk....", tangisan kembali terdengar dan membuat Pita kembali menggerakkan jarinya saat Dokter tengah memeriksa perjembangannya.


Melihat cucunya menangis, Bu Titin hendak membawanya kembali ke ruangan bayi, namun langkahnya dihentikan seorang perawat.


"Ibu, tolong bayinya jangan di bawa pergi dulu. Menurut Dokter pasien di dalam kondisinya mengalami perkembangan baik setelah mendengar tangisan cucu Ibu.


Kami mohon biarkan tetap disini sejenak cucu Ibu. Tangisannya merangsang pasien di dalam untuk sadar dari komanya. Mohon bantuannya Bu", pinta perawat itu menjelaskan.


Bu Titin hanya mengangguk sambil menggendong cucunya yang masih merah itu.


Dan benar saja, Pita benar-benar membuka matanya saat mendengar tangisan bayi itu kembali.


Perawat pun kembali meminta Bu Titin membawa cucunya ke ruang bayi karena sudah terlalu lama di luar ruangan.

__ADS_1


Ada rasa syukur bagi Bu Titin karena cucunya berhasil membuat orang lain tersadar dari komanya. Sementara menantunya justru belum ada kabar setelah Dokter tadi masuk ruangan.


*****.......*****


__ADS_2