
Pita merasakan perutnya tak nyaman, semenjak tak memeriksakan kandungannya Ia sering merasakan sakit di perutnya. Ia tak tahu itu bawaan hamil besar atau hal lain. Terlebih pola makan serta asupan gizi selama Ia hamil besar tak pernah ada yang memperhatikannya.
Pita yang hamil besar tampak kurus dan pucat. Berat badannya tak terlihat bertambah malah terlihat semakin berkurang. Wajahnya terlihat kusam karena tak pernah tersentuh make up. Bajunya pun sudah lusuh dan terasa sesak karena sudah kekecilab. Pikirannya semakin tak tenang, hari persalinan semakin dekat dan tak ada yang bisa Ia tanyai tentang masalah persalinan.
Rasa khawatir begitu menderanya, siapa yang mengantar ataupun menemaninya dalam berjuang saat melahirkan. Tak ada orang tua tak ada sanak saudara, apalagi suami yang tak bisa Ia harapkan lagi.
Sedih......
Kecewa....
Marah.....
Takut.....
Semua rasa campur menjadi satu membuat beban pikiran Pita semakin berat. Harusnya Ia bahagia karena sebentar lagi buah hatinya akan lahir. Tapi, banyaknya pikiran membuatnya stres dan lupa akan rasa bahagia.
Bagaimana bisa bahagia dalam penantian ini, jika Ayah si jabang bayi tak menghiraukan mereka lagi.
"Sayang, yang sabar ya. Kamu masih punya Ibu meski Ayahmu tak menginginkanmu lagi hanya karena perempuan", lirih Pita.
Setidaknya Ia harus bersyukur masih memiliki sedikit uang untuk bersalinnya nanti dari hasil rumah orangtuanya yang Ia kontrakkan. Ya....Setelah orangtuanya meninggal, ada tetangganya yang berniat mengontrak rumah itu. Pita pun langsung mengiyakannya, rumah itu pasti akan terawat jika di tinggali begitu pikir Pita. Dan Ia selalu menyimpan uang sewanya itu, karena sebelumnya Ia mendapatkan segalanya dari Adi. Ternyata uang yang tak seberapa itu sangat berguna baginya sekarang.
__ADS_1
Lagi-lagi Pita bersyukur karena mertuanya mengiriminya beberapa perlengkapan, sehingga Ia tak perlu membelinya disaat tak memiliki uang. Memang tidak banyak, tetapi setidaknya lengkap.
Perut Pita semakin tak nyaman dan rasanya semakin sering mulas. Ia pun berpikir mungkin ini saatnya Ia akan melahirkan. Dengan berjalan hati-hati, Pita mengambil tas berisi perlengkapan bayi dan dirinya, serta tas kecil berisi ponsel serta dompet tempatnya menyimpan uang hasil sewa rumah.
"Ya Allah.... kuatkan hatiku.... kuatkan ragaku untuk menghadapi semua ini", lirih Pita sambil berjalan perlahan ke pos satpam komplek.
Pita cukup mengenal satpam komplek di perumahan itu, dan Ia berharap Bapak satpam itu bersedia mengantarkannya ke jalan besar untuk mencari taksi yang membawanya ke rumah sakit.
Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Pita tiba di pos tersebut. Bapak Satpam pun terkejut melihat wanita hamil itu bercucuran keringat saat tiba di depan pos tempatnya berjaga sambil menenteng sebuah tas.
"Mbak Pita minum dulu", ucap Bapak satpam sambil menyodorkan botol air mineral yang masih bersegel.
"Terimakasih Pak", ucap Pita sambil tersenyum.
"Pak bisa minta tolong", lanjut Pita.
"Bisa Mbak. Kebetulan shift Saya habis, itu temen saya sudah darang", tunjuk Pak Satpam pada temannya yang tengah memarkirkan motor.
"Bisa antar ke depan nyari taksi, saya mau melahirkan", ucap Pita penuh harap.
"Apa melahirkan? Ya Ampun Mbak, kenapa nggak minta diantar suaminya to. Malah jalan sampai sini?", tanya Pak Satpam.
__ADS_1
"Pak Adi sudah di hubungi Mbak?", tanya Pak Satpam lagi.
"Nggak bisa Pak. Mungkin sibuk, makanya Saya minta di antar Bapak sekarang", jawab Pita dengan tetap tersenyum meski sambil menahan sakit di perutnya.
"Ya udah.... Ayo... ayo Mbak saya antar", ajak Pak Satpam bergegas menuju motornya dan berpamitan pada rekannya itu.
Pita pun diantar Pak Satpam bernama Sukri itu hingga di jalan utama, dengan hati-hati Pita turun. Dan baru saja kakinya hendak menginjakkan tanah.
Tiba-tiba......
Brakkkkkk...... krosak........
Sebuah motor entah darimana datangnya menabrak Motor Pak Sukri, untuk motor itu masih bisa Pak Sukri tahan hingga tak roboh. Namun, Pita yang terkejut pun jatuh tersungkur. Perutnya menghantam sisi trotoar.
"Arrrghhhhh......", pekik Pita bersamaan darah mengalir di pahanya.
"Ya... Allah Mbak Pita.... ", seru Pak Sukri yang baru menyadari penumpangnya terjatuh.
Dengan segera Pak Sukri menyandarkan motornya, dan menolong Pita yang kesakitan. Sementara yang menabrak tadi segera pergi dengan motornya meski sempat terjatuh juga.
******......******
__ADS_1