
Bela menatap nanar pada sosok Kakak Iparnya yang kini terbaring tak berdaya di ranjang pasien. Alat bantu pernafasan terpasang disana. Tubuh wanita muda berkulit sawo matang itu terlihat sangat kurus. Pipinya tirus, jauh dari terakhir kalinya bertemu saat masih hamil menginjak 6 bulan, saat itu terlihat chubby dan tubuhnya masih gemuk. Kulitnya terlihat kusam, hanya wajahnya yang terlihat berseri meski tengah pucat. Mungkin bawaan hamil bayi perempuan.
Sungguh pemandangan miris yang membuatnya semakin bertanya-tanya, bagaimana bisa Kakaknya yang begitu menyayangi Pita sampai menelantarkan istrinya? Ia semakin yakin semua alasan yang selama ini Kakaknya buat, hanya ingin menutupi kelakuannya itu. Ia tak ingin keluarganya tahu kondisi Pita yang sebenarnya.
Andai saja, Bela menyadari kejanggalan dalam rumahtangga Kakaknya itu, nyawa bayi tak berdosa itu pasti tertolong. Namun, semuanya sudah terlambat, Ia harus mengikhlaskan kepergian keponakannya yang baru terlahir ke dunia itu.
'Maafkan Tantemu ini Nak. Yang terlambat menyadari jika Kamu dan Ibumu menderita. Tenanglah di Surga, karena Tuhan lebih menyayangi, Nak', batin Bela.
Lala yang telah selesai ditangani Dokter, terpaksa harus memakai kursi roda saat ingin menjenguk sahabatnya itu. Kakinya sudah terbalut kain elastis, masih terasa sakit dan Ia tak mungkin memaksakan untuk berjalan, sedangkan tempatnya dengan tempat sahabatnya sedikit jauh. Mau tak mau Ia memakai kursi roda dan di antar perawat.
"Bagaimana kondisi Pita Mbak?", tanya Lala pada Bela.
"Lihatlah", pinta Bela.
Bela tak sanggup menceritakan kondisi Kakak iparnya yang tidak baik-baik saja itu. Dan yang lebih menyesakkan lagi, Pita menderita karena ulah Kakak kandungnya sendiri yang tega menelantarkan istrinya disaat hamil besar. Ia tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Pita saat ini. Sudah tak memiliki orangtua, suaminya yang acuh, harus kehilangan bayinya dan mereka sebagai keluarga yang Pita miliki saat ini tak ada saat Wanita itu menderita.
__ADS_1
"Kenapa tubuhnya begitu kurus Kak. Harusnya masih berisi kan meski sudah melahirkan?", tanya Lala begitu miris melihat kondisi sahabatnya itu.
Lala ingat betul bagaimana bahagianya Pita menceritakan tentang suaminya yang memanjakannya saat hamil. Terakhir bertemu pun sahabatnya itu terlihat bulat tubuhnya, bagaimana sekarang hanya terlihat tulang dan kulit. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu? Bagaimana bisa berubah hanya beberapa bulan saja? Ia bahkan sempat iri saat sahabatnya bahagia memiliki suami yang begitu mencintainya, sementara Ia harus memiliki suami yang masih berhubungan dengan kekasihnya itu
"Aku sendiri juga tak tahu. Kakakku selalu melarang kami saat hendak berkunjung dengan berbagai alasan. Kami tak tahu jika Pita sedang tak baik-baik saja selama ini. Ia tertutup dan menyimpan beban hidupnya sendirian.
Yang lebih membuatku syok, dari cek lab dapat di simpulkan bahwa selama ini Ia kekurangan nutrisi selama hamil. Bahkan banyak makanan tak sehat yang mungkin Dia konsumsi selama ini.
Bagaimana bisa wanita hamil itu sampai kekurangan gizi, sementara Kakakku tak kekurangan materi. Bahkan kehidupannya jauh diatas kami para adiknya. Kami saja tak pernah kekurangan makanan, tapi justru Ia membiarkan Istrinya kekurangan gizi seperti ini?", ucap Bela sedih.
Ingin rasanya Lala mencincang suami Pita itu, Lelaki yang tega menelantarkan Istrinya yang tengah hamil karena perbuatannya sendiri. Ia begitu menyayangi sahabatnya, Ia benar-benar tak terima dengan perlakuan lelaki itu pada sahabatnya.
'Awas saja. Jika nanti Aku bertemu suami Pita. Aku pukul kepalanya agar sadar dengan perbuatannya', batin Lala masih terbawa emosi.
Bela hanya menggelengkan kepala, Ia benar-benar tak tahu dimana Kakaknya itu. Semenjak Ia menikah dan tinggal berjauhan Ia tak tahu kemana Kakaknya sering bepergian. Ia sibuk mengelola kafe kecil yang kini sudah menjadi Kafe & Resto bersama suaminya. Usaha yang mereka rintis sejak masih kuliah bersama dengan status sahabat yang berakhir di pelaminan.
__ADS_1
"Entahlah. Dia tak bisa di hubungi", jawab Bela.
"Lalu bayi Pita?", tanya Lala yang belum tahu tentang meninggalnya bayi itu.
Bela lagi-lagi menggeleng dan airmata lolos dari matanya.
"Dia telah tiada. Pita sempat jatuh dari boncengan motor. Perutnya terbentur dan itu berakibat fatal pada bayi perempuannya yang hanya bisa bertahan beberapa detik saja.
Ini salah satu alasan Pita menolak bangun dari komanya. Setelah sempat mengalami kritis. Ia merasa tak ada yang perlu Ia lakukan lagi jika sadar, karena semua yang Ia sayangi telah tiada. Ia merasa begitu nyaman di alam bawah sadarnya saat ini", jelas Bela sambil terisak.
Lala yang mendengarnya hanya ikut menangis dan menutup mulutnya dengan tangan agar tak terdengar isakannya. Sungguh malang nasib sahabatnya ini. Pasti Ia benar-benar menderita selama ini, sehingga memilih tidur yang lama. Lala semakin terisak mengingat tak bergunanya dirinya saat sang sahabat tengah kesusahan. Ia tahu betul sahabatnya tak ingin membuatnya repot, sehingga menutup rapat masalah yang tengah Ia hadapi.
Lala hanya berharap sahabatnya segera sadar dan bisa melanjutkan hidupnya lagi.
*****.......*******
__ADS_1