
Lala segera pulang ke apartemen suaminya setelah hari menginjak petang. Ia tidak tahu jika suaminya sudah pulang sore itu. Karena biasanya sang suami akan pulang usai pukul 19.00 WIB.
Ia pun pulang dengan langkah santai, dan tanpa Ia sadari Ia telah membangunkan singa tidur. Suaminya sudah melarangnya untuk berangkat kuliah, tapi Ia mengabaikannya. Bahkan Lala sudah mengendarai motornya sendiri. Bagi Lala, motor matic tak memerlukan kakinya untuk mengoperasikan mesin. Jadi tidak masalah jika Ia tetap naik motor, dan Ia pun tetap membawa alat penyangga untuk menopangnya berjalan agar tak jatuh.
Lala tak berfikir jika aksinya nekat berangkat kuliah telah memancing amarah Awan. Lelaki itu begitu mengkhawatirkan Istrinya, Ia bahkan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari waktu seharusnya agar bisa melihat perkembangan Lala. Sayangnya orang yang dikhawatirkan justru pergi ke kampus dan belum juga pulang menjelang magrib.
Dengan sengaja Awan menunggu kepulangan Lala dengan mondar-mandir di depan pintu. Hingga......
Ceklek.....
Awan sengaja tak mengunci pintu dan menyuruh si Mbak belanja ke swalayan. Agar tak melihatnya saat memarahi Lala.
"Darimana Kamu?", tanya Awan keras.
"Astaga....", seru Lala terkejut.
Dubrakkkkk.....
Alat bantu jalannya terlepas dan Lala pun terjatuh. Reflek Awan segera membantunya bangun dan segera memapah Lala ke sofa ruang tamu.
"Lihatlah hasilnya jika Kamu keras kepala. Jatuh kan. Sakit tidak. Kamu itu belum sembuh, dan masih nekat pergi.
Kalau Kamu nggak sembuh-sembuh siapa yang bakalan repot? Aku juga kan ujung-ujungnya. Atau Kamu sengaja agar Aku repot karenamu hahhhhh.....", seru Awan yang sudah emosi.
Ia begitu mengkhawatirkan Istrinya, dan Ia pun merasa bersalah karena tanpa sengaja telah membuat Istrinya terjatuh. Ingin minta maaf tapi ego mengalahkan keinginannya itu.
__ADS_1
"Bisa nggak sih nggk marah-marah. Kalau mau marah tuh nanti kalo orangnya udah masuk. Jangan langsung nongol depan pintu.
Bikin kaget aja Untung Aku nggak ada riwayat sakit jantung. Bisa Amsyong kan jadinya", jawab Lala sambil mengelus kakinya yang kembali terasa ngilu.
Awan hendak mengucapkan sesuatu namun Ia urungkan saat melihat Lala meringis menahan ngilu di kakinya.
"Apakah sakit?", tanya Awan khawatir emosinya tadi tiba-tiba menguap.
"Ya sakitlah. Masih nanya. Tau sendiri kalo jatuh itu sakit. Apalagi habis terkilir. Ibaratnya tuh udah jatuh tertimpa penyangga", jawab Lala jengah.
"Mbak.... bantuin Lala masuk kamar", seru Lala pada si Mbak ART.
"Si Mbak nggak ada. Lagi belanja. Udah sini Aku bantu", ucap Awan segera membantu Lala bangun dari duduknya dan memapah Lala hingga ke kamar.
Lala pun hanya pasrah menerima perlakuan Awan. Kakinya sudah ngilu dan Ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya. Rasa lelah seharian mengikuti mata kuliah bercampur ngilu di kaki membuatnya hanya ingin istirahat sejenak sembari menunggu waktu magrib.
"Kalau butuh apa-apa panggil Aku. Selama si Mbak belum pulang", ucap Awan tegas namun tak lagi emosi.
"Iya", jawab Lala singkat.
"Kamu makan belum?", tanya Awan.
Belum sempat Lala menjawab, Awan sudah kembali berucap.
"Pasti belum kan. Ya udah Kamu diam saja di situ. Aku ambilkan makan habis itu minum obat. Si Mbak pasti sudah masak kan jam segini", ucap Awan kemudian berlalu keluar kamar.
__ADS_1
"Aneh tuh orang. Nanya-nanya sendiri, di jawab sendiri pula. Kesambet apaan tiba-tiba baik tanpa ngomel.
Bukannya tadi marah-marah gara-gara Aku ke kampus. Kok langsung di pending marahnya. Apa karena Aku jatuh tadi ya?
Wah.....
Kalo iya, akting kesakitan aja biar nggak di sambung lagi marahnya. Cerdas juga Kamu La.
Aku lagi lelah males dengerin suami galak ngoceh", ucap Lala bermonolog.
Sebenarnya kakinya tak begitu sakit hanya tiba-tiba ngilu saat di gerakkan.
******_________*******
Pita telah selesai merapikan barang-barang pribadinya yang tak seberapa sedari siang. Tetapi Ia tadi mendapatkan banyak pakaian, tas serta sepatu lama dari Lala. Jadi Ia harus menatanya kembali. Ia sebenarnya tak enak, hanya saja Ia memang membutuhkan pakaian ganti.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Pita saat hendak duduk berselonjor di ranjang.
Rupanya panggilan dari Bu Titin, Nenek Baby Gara. Ia menghubungi Pita menyampaikan kalau Gara tak mau menyusu dengan Dot. Ia pun dengan berat hati meminta Pita datang ke rumahnya untuk menyusu. Tentu saja akan ada supir yang menjemput Pita.
"Ya Ampun.... Kamu kenapa Nak? Apakah Kamu sudah merindukan Ibu", lirih Pita.
"Ibu akan datang Nak. Ibu akan menjadi Ibu Susu yang baik untukmu", ucap Pita sambil membayangkan wajah Baby Gara yang baginya sangat tampan itu.
Ada rasa sedih sekaligus bahagia saat mengingat sekarang Ia telah menjadi seorang Ibu meski sekedar Ibu Susu. Ingin rasanya menyusui buah hatinya sendiri. Namun rupanya Tuhan lebih mrnginginkan Ia menjadi seorang Ibu Susu sekarang. Pita sedih saat menyusui bayi, Ia akan kembali teringat bayinya yang tiada. Tapi Ia pun bahagia bayi yang Ia susui terlihat lahap menyusu.
__ADS_1
*****.....*****