
Pita siang ini sudah tiba di sebuah desa terpencil di pelosok kota Yogyakarta, lebih tepatnya Kabupaten Gungungkidul. Daerah yang jauh dari kota tempat tinggalnya sekarang. Ia sampai di tempat ini berkat Lala, ya....Dia adalah sahabat yang bisa di andalkan.
Sebelumnya Pita memang memintanya untuk merekomendasikan tempat yang bisa menenangkan pikiran sekaligus menghindari orang-orang yang perlu Ia hindari di kota ini. Ia pun menyarankan Pita untuk ikut teman-temannya di klub pecinta alam. Tahun ini mereka akan menjadi relawan di sebuah desa akibat bencana alam tanah longsor. Ia tak bisa ikut sebab sibuk mengurus tugas akhir kuliahnya.
Ternyata pilihannya ikut dengan teman-teman Lala adalah pilihan tepat. Disana tak ada listrik dan signal ponsel. Dengan begitu Ia benar-benar bisa tenang untuk sementara waktu. Fokusnya sekarang ingin menjadi relawan bagi para pengungsi dan mencoba melupakan masalahnya sejenak.
Disini Ia bisa menjauh dari jangkauan Adi, lelaki yang menyebabkan banyak luka di hatinya. Mencoba tega pada Gara, jika Ia tetap di kota yang sama tak mungkin bisa Ia meninggalkannya saat melihat tangisan bocah itu. Ia pun akan takut bertemu dengan Bu Titin, Ia pasti kecewa padanya karena meninggalkan Gara begitu saja.
"Mbak Pita sudah selesai belum masakannya?", tanya teman Pita dari klub pecinta alam.
"Oh.... sudah Mbah Tina. Tinggal di taruh di baskom", jawab Pita yang sedari melamun, untung tidak gosong masakannya.
"Ya sudah. Saya bantu menuangkannya. Nanti sudah ada yang membawanya ke balai desa.
Kamp pengungsian berada di Balai Desa setempat, di sampingnya ada lapangan desa yang menjadi tempat pendirian tenda. Sementara untuk makan dan bebersih badan mereka lakukan di balai desa. Lokasi yang agak jauh dari dusun yang mengalami tanah longsor, sehingga aman jika ada longsor susulan.
__ADS_1
Tak terasa sudah satu minggu Pita dan rekannya disana. Rekan-rekannya sudah harus kembali ke kota asal mereka, sementara Pita memilih lebih lama lagi di desa itu. Meski tak ada listrik dan signal tak membuat Pita enggan tinggal lebih lama. Justru Ia menikmatinya.
Perbaikan Listrik dan tower sekitar memakan waktu cukup lama, karena akses jalan banyak yang tertumbun longsor. Bahkan untuk penyaluran bantuan pun kesulitan akses. Rekan pecinta alamnya pun pulang dengan pendampingan warga setempat hingga batas desa. Mengantisipasi ada longsoran di jalan yang di lalui.
"Yakin nggak mau ikut pulang Mbak?", tanya perempuan bernama Tina itu.
"Nggak Mbak Tina. Dan tolong sampaikan pada Lala. Saya akan lebih lama disini, dan saya baik-baik saja", jawab Pita.
"Baiklah. Aku pamit ya", ucap Tina, Ia yang lumayan dekat dengan Pita.
Longsor sudah reda karena beberapa hari ini tak turun hujan. Listrik kembali menyala dan sinyal ponsel pun mulai ada. Tapi para warga belum diizinkan menengok lokasi bencana. Pita pun ikut tinggal di pengungsian lebih lama, meski relawan lainnya sudah kembali ke daerah masing-masing.
"Mbak Pita nggak ikut kembali seperti yang lainnya?", tanya wanita paruh baya yang merupakan Istri kepala Desa.
"Tidak Bu. Dan sepertinya saya tertarik menetap tinggal disini", jawab Pita.
__ADS_1
"Lhoh... keluarga Mbak memang mengijinkan?", tanya Bu Lurah mulai kepo, jiwa mak-mak ghibahnya muncul.
Pita menggeleng sambil tersenyum.
"Saya sudah tak memiliki keluarga Bu. Yatim piatu, Saya sebatang kara", jawab Pita.
"Ya ampun. Maaf ya Mbak Pita sudah membuat sedih. Nanti coba saya bicarakan masalah keinginan Mbak Pita pada suami Saya", ucap Bu Lurah antusias, rupanya Ia menyukai sosok Pita.
"Iya Bu. Terimakasih banyak", ucap Pita senang.
Ia akan memulai awal yang baru di desa itu. Tempat yang jauh dari tempat tinggalnya dulu. Semoga Ia bisa melupakan semua rasa sakit akan luka. Ia berharap Gara bisa tumbuh bahagia meski tanpa kehadirannya.
Sekarang Ia hanya perlu mengurus berkas-berkas kepindahannya di kota yang berbeda dengan kota asalnya.
*****......*****
__ADS_1