Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
58. Menikmati Hidup


__ADS_3

Jika di kota lain, dua orang pria dewasa tengah merindukan wanita muda yang sama. Sedangkan di sebuah desa terpencil, Orang yang tengah di rindukan oleh kedua orang pria itu kini justru sibuk berada di bawah terik matahari. Ia tengah berpanas-panasan di kebun sayur.


Ia membantu para Ibu paruh baya memanen hasil sayur dari kelompok tani wanita, yang anggotanya para Ibu-Ibu rumah tangga. Kegiatan itu bertujuan memudahkan para Ibu memenuhi kebutuhan sayur keluarga tanpa jauh-jauh belanja ke Pasar. Hasil panen di beli oleh anggotanya dan masuk sebagai uang kas. Jika masih maka akan di jual kepada Ibu-ibu di luar kelompok. Nantinya ada yang bertugas sebagai pedagang keliling, berjualan di sekitar kampung itu saja.


Pita merasa betah tinggal di kampung itu, orang-orangnya ramah dan menerimanya dengan baik disana. Ia memilih menyewa sebuah rumah kosong yang di tinggal pemiliknya untuk merantau di kota. Sebuah rumah kecil, sederhana dan asri. Rumah itu bulan lalu di huni para mahasiswa yang melakukan KKN disana, tak heran rumah itu terlihat bersih dan nyaman dihuni.


"Sudah Mbak Pita nanti lagi, yuk istirahat dulu sembari mengikat sayur", ajak Bu Lurah.


Beliau pun ikut aktif mengikuti kegiatan di kampung setempat.


"Baik Bu",jawab Pita.


Para Ibu pun beristirahat di sebuah gazebo kecil di dekat kebun. Meningkati segelas es teh manis yang melegakan tenggorokan, serta beberapa camilan kecil. Usai istirahat mereka mulai mengumpulkan berbagai jenis sayuran dan mengikatnya dengan tali rafia yang telah di potong kecil-kecil.


Pita mulai akrab dengan para Ibu-Ibu disana, Ia telah kembali menjadi Pita yang dulu. Pita yang ramah, murah senyum serta cerewet.


Semua sayur sudah selesai di ikat dan diberi harga. Ibu-ibu mulai memilih sayur yang akan dibeli. Pita hari ini bertugas sebagai penjual bersama tetangga rumahnya, Bu Wati. Wanita paruhbaya yang gencar menjodohkannya dengan putranya yang menjadi perjaka tua.


Sayuran yang tersisa di tata kedalam gerobak. Nanti sore Pita akan berkeliling kampung bersama Bu Wati.

__ADS_1


"Ayo Nduk, kita bawa pulang. Kelilingnya sorean habis ashar aja. Ibu mau masak dulu buat Bapak. Nanti nggak usah masak, sekalian saja sama Ibu", ajak Bu Wati.


"Nggak usah Bu. Ngerepotin, Pita pagi sudah masak kok", tolak Pita.


"Halah.... cuma masak nasi to. Ibu tadi bagi lihat Kamu beli pecel sama gorengan tempat e Mbok Darmi kan", ucap Bu Wati yang membuat Pita nyengir.


"Wis manut (Udah nurut) sama Ibu. Nggak usah masak", lanjut Bu Wati sebelum Pita membantah.


Pita pun pasrah saja, Ia sedang menikmati masa-masa menjadi warga baru. Hidupnya bahagia tinggal di kampung, tetangganya silih berganti memberinya makanan cuma-cuma.


*****_______*****


Terdengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi membuat Lala cemas. Pasalnya seharian ini suaminya bolak-balik ke kamar mandi untuk menguras isi perut. Ia pun terpaksa tak jadi berangkat kuliah menemui dosen pembimbing. Tak tega melihat suaminya itu.


Ceklek.....


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah pucat Awan.


"Periksa ke Dokter yuk Kak. Kakak pucat banget, dari pagi nggak makan", bujuk Lala.

__ADS_1


"Nggak usah Yank. Cuma masuk angin ini, kerokin dong", jawab Awan.


Panggilan Awan pada istrinya sekarang berubah menjadi 'Yank' semenjak mendapatkan haknya dari Lala. Ia bertekad membuat Lala terbiasa dan lama-lama jatuh cinta padanya.


"Oh ya Yank. Tolong bilang sama Mbak suruh beliin Bakso terus minumnya Es Jeruk ya. Es jeruknya harus dari warung baksonya ya", perintah Awan.


"Iya. Sekalian mau ambil minyak sama koin", pamit Lala.


Kerokan sudah, makan bakso dan Es jeruk sudah. Awan sudah terlihat membaik. Kini Awan sibuk ngekepin Lala, setelah meminta jatahnya berkali-kali selepas dzuhur tadi. Kalau tak mendengar suara adzan pun Lala enggan bangun.


"Awas ish.... Aku mau mandi udah adzan tuh", rengek Lala mencoba melepas pelukan Awan di perutnya.


"Iya... Iya... Tapi nanti malam lagi yah. Masih pingin", ucap Awan sambil mengecup Pipi Lala.


'Astaga suamiku mesum banget. Nggak ingat apa sedari pagi lemes banget gara-gara muntah. Eh siangnya minta jatah berkali-kali dan malam masih pengin', batin Lala segera beranjak ke kamar mandi.


Awan menikmati nikmatnya memiliki Istri, Ia tak akan bosan-bosannya meminta jatah yang selalu membuatnya semangat itu. Ia hanya berharap semoga lekas ada bibitnya yang menjadi calon buah hati mereka.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2