
"Pita, Kamu sayang kan sama Papa. Papa sedang sakit dan menginginkan kita kembali bersama lagi.
Apa kamu tak ingin membuat Papa bahagia di sisa hidupnya. Dia begitu menyayangimu dan ingin melihatmu bahagia.
Tolong kembalilah bersamaku, agar Papa sembuh. Tidakkah Kamu takut ini permintaan terakhir Papa, melihat kita bersama lagi.
Papa pasti bahagia jika Kamu rawat", bujuk Adi.
'Sembarangan saja orang ini berkata jika itu permintaan terakhir Papa.
Apa Dia mendoakan hal buruk pada Papa, sehingga berkata bahwa Papa sedang sakit.
Padahal jelas-jelas baru saja Aku melakukan panggilan video dengan Kak Bela, bisa kulihat Papa sehat dan sudah stabil kondisinya serta jarang kambuh sakit jantungnya.
Apa Dia pikir selama ini Aku tak lagi berkomunikasi dengan Papa sekeluarga. Bahkan Papa dan Mama adalah orang pertama yang Aku beritahu , jika Aku akan menikah minggu depan. Mereka bahkan sangat bahagia saat akhirnya Aku menemukan kebahagiaan setelah sempat terjerat nikah kontrak.
Dan dari mana mereka tahu pun Aku tak perduli. Yang pasti Aku hanya menjalin hubungan baik saja dengan mereka yang berlaku baik padaku.
Hanya saja mereka tak pernah menyinggung soal Adi, jadi Aku tak tahu apapun tentangnya.
Ia pikir dengan menggadaikan nama Papa akan membuatku iba dan mau bersamanya.
*Mimpi sajalah.'
Luka yang Kamu buat tak kan bisa hilang hanya dengan kembali bersama.
Hatiku sudah mati untukmu*, ucap Pita dalam hati.
"Yang punya Bapak kan situ, ngapain minta Pita merawatnya.
Bapak Kamu kan itu, yang berkewajiban merawat itu bukan 'Mantan menantu' tapi anaknya sendiri", sinis Bu Wati.
__ADS_1
Ia tak memberi kesempatan untuk Pita menjawab, Ia takut Pita luluh dan membatalkan pernikahan.
Sementara memilih bungkam, Ia pun malas menanggapinya. Biarlah Bu Wati menjadi jubirnya untuk saat ini.
"Pita benar kata Ibu ini, merawat Orangtua itu kewajiban anak.
Sedangkan merawat anak adalah kewajiban orangtua. Perkembangan anak yang baik adalah berada di dalam keluarga yang lengkap.
Maka dari itu kembalilah denganku dan memberi kebahagiaan untuk Gara bersama-sama. Menjadi orangtua yang lengkap untuk Gara. Ia butuh Ibunya Pita.
Dia terus-terusan menangis mencarimu", bujuk Aji tak mau kalah.
'Cihhh..... kebahagiaan apanya. Selama ini memegang putranya saja tak pernah dan apa sekarang Ia bilang merawat.
Kasih sayang yang tak membutuhkan materi saja Ia enggan memberikan pada putranya.
Dan sekarang sok-sokan ingin membahagiakan**nya.
Mendengar lelaki ini menyinggung soal anak membuat Bu Wati semakin was-was apakah Pita sudah punya anak dengannya. Jika benar akan semakin sulit untuk melanjutkan rencana pernikahan.
"Sedari awal, kontrak pernikahan hanya mengatakan Aku sebagai Ibu Susu untuk Gara", tegas Pita.
Ia tak suka lelaki ini kembali mempermainkan ikatan pernikahan. Janji suci sakral dihadapan Tuhan harus dinodai dengan kontrak pernikahan.
Bu Wati bernafas lega, rupanya Gara bukan Anak Pita. Dan Ia hanya Ibu susu anak itu. Tapi jika Pita menjadi Ibu susu, berarti Pita sudah punya anak. Lantas dimana anak Pita itu.
"Sudah nikahnya cuma kontrak masih berani ngajak rujuk.
Memangnya Kamu tak tahu menjadi Ibu susu hanya selama masa menyusui.
Setelah anak berusia 2 tahun, artinya tugas selesai", ucap Bu Wati geram.
__ADS_1
Aji pun memilih tak mengabaikan ucapan Bu Wati.
"Apa Kamu tak kasihan pada Gara. Ia menangis terus, merengek mencarimu.
Ayolah jika Kamu belum memaafkanku, setidaknya bersamaku demi Gara", bujuk Aji.
Pita semakin muak saja mendengarnya, Aji memanfaatkan rasa sayangnya pada Gara untuk mengajaknya rujuk. Dan bisa-bisanya Aji mengatakan Gara merengek untuk mencarinya. Padahal Gara tak mau tinggal bersama sang Ayah setelah kepergiannya.
Satu hal yang tak Aji tahu, Pita masih sering bertukar kabar dengan Mbak Siti yang mengasuh Gara. Bahkan Gara tak rewel meski berjauhan dengan Pita, Balita itu selalu menurut dengan perkataan Pita meski hanya melalui panggilan video.
Berbagai rayuan baik dari Adi maupun Aji pun mereka keluarkan dengan harapan sama, yaitu berharap Pita mau menerima ajakan rujuk.
Bu Wati semakin ketar-ketir karena Pita hanya menggantung kedua pria itu dan menyuruh mereka kembali.
Setelah dua mantan suami Pita pergi dengan kecewa, Bu Wati pun pamit untuk pulang.
Tak lama kemudian ponsel Pita berbunyi singkat, menandakan ada pesan masuk. Rupanya dari Ndaru, rasa bahagia muncul saat tahu calon suaminya mengirim pesan. Tapi rona bahagianya berubah sendu setelah membaca isi pesan itu.
'Jika Kamu ingin kembali pada salah satu dari mereka.
Aku Ikhlas....
Aku hanya ingin melihatmu bahagia.....
Jika bahagiamu bukan denganku, maka Aku akan rela melepaskanmu.
Bukan ku tak mau berjuang.....
Karena bahagiamu adalah kebahagiaanku'.
*****........*****
__ADS_1