
Pita telah pulang ke rumahnya usai sarapan, sementara Ndaru memilih kembali ke kamar setelah Bapaknya berangkat ke Sawah. Ndaru sibuk mengeluarkan isi ranselnya, bahkan Ia tak menyadari kehadiran Ibunya yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Gimana Le? ( Le \= panggilan untuk anak lelaki dalam bahasa jawa)", tanya Bu Wati yang sedikit mengejutkan Ndaru.
Ndaru menoleh sekilas pada Ibunya, Ia sebenarnya paham kemana tujuan pembicaraan Ibunya itu. Dan Dia hanya berpura-pura tak tahu.
"Gimana apanya Bu!", jawab Ndaru.
"Pilihan Ibu", ucap Bu Wati.
"Entahlah Bu. Setahuku Dia sudah menikah", jawab Ndaru ragu.
Ada rasa penasaran yang mengusik hatinya, bagaimana bisa Pita tinggal di desanya yang termasuk terpencil itu?. Semenjak tahu Pita menikah, Ia tak pernah sekalipun mencari tahu tentang kehidupannya. Ia ingin segera move on dari gadis itu. Namun nyatanya hingga detik ini Ia belum bisa melupakannya. Bahkan tadi saat kembali bertemu, rasa yang Ia simpan rapat-rapat itu seolah bersemi kembali dengan suburnya.
"Tapi kalo sudah menikah nggak mungkin kan Dia memilih pindah di desa ini. Mungkin udah cerai Le, kalau memang suka pepet saja", kompor Bu Wati.
"Haaaaahhhhhh......", Ndaru menghembuskan nafas kasar.
"Dia adalah alasanku masih melajang beberapa tahun ini Bu. Aku jatuh cinta padanya, namun sebelum sempat Aku mengutarakannya Ia di pinang Bosku tempat bekerja dulu.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka menikah dan Aku memilih keluar dari perusahaan itu. Aku ingin mencoba melupakannya, namun tak bisa.
Apa Ibu tahu? awalnya Aku jualan penyetan karena teringat pertama kali kami bertemu di warung tenda penyetan. Dan Aku berharap Dia mampir ke warungku.
Bodohnya Aku yang masih berharap bertemu dengan Istri orang.
Memangnya jika Dia udah cerai Ibu bolehin Aku sama Janda?", ucap Ndaru.
"O walah jadi karena patah hati to Kamu nggak nikah-nikah.
Ya kalau Bapak sama Ibu nggak masalah mau dapat janda tanpa anak maupun tanpa anak. Toh umur Kamu udah 30 tahun, nggak usah terlalu pemilih. Umur segitu udah waktunya nikah.
Nikah ketuaan juga nggak enak, nanti udah tua masih harus kerja buat biaya sekolah. Belum lagi kalau punya anakny lama. Udah dikira Kakeknya bukan lagi Bapaknya", cerocos Bu Wati.
"Ya makanya kamu coba tanya baik-baik. Soalnya Dia itu enggan ditanya yang berbau pribadi. Bu Lurah yang tahu banyak tentang Pita, tapi nggak mau ngasih tahu Ibu", suruh Ibunya.
"Gimana nanyanya Bu. Ga enak lah kalau kerumahnya terus tiba-tiba nanya macem-macem", tolak Ndaru.
"Ajak keluar aja, terus ngobrol-ngobrol. Temu kangen lah istilahnya", saran Ibunya.
__ADS_1
"Gimana ngajaknya Bu?", tanya Ndaru lagi.
"Owalah... Le...Le. Daritadi kok nanya Ibu gimana-gimana terus. Mbok ya yang kreatif gitu jadi anak muda", nyinyir Bu Wati.
"Ya... maaf Bu. Kan nggak ngerti, lebih baik nanya to daripada salah jalan", sahut Ndaru nyengir.
"Wes itu urusan Ibu pokoknya.
Bukannya kalian ketemunya di warung penyet kan. Itu deket kantor kecamatan ada yang jualan penyetan, kamu ajak aja sana. Siapa tahu bisa jatuh cinta sama Kamu?", usul Ibunya lagi.
"Tapi kalau Dia masih Istri orang gimana Bu", tanya Ndaru lagi.
"Namanya juga usaha to Le. Ya kalau untung ya syukur kalau rugi ya di terima.
Ya kalau sudah bukan Istri orang berarti rezeki Kamu. Tapi kalau masih Istri orang, ya kamu harus ikhlas dan cari yang lain lagi.
Yang penting Kamu sudah usaha to Le, cari tahu status Pita. Kalo bersuami ya lupakan, kalo sendiri yo kejar.
Gitu aja kok nanya Ibumu terus. Wes Ibu mau nyusul Bapakmu kesawah", jelas Bu Wati.
__ADS_1
Ndaru hanya mengangguk patuh, Ia mencerna ucapan Ibunya itu. Ia memang tak boleh banyak berharap. Jika memang berjodoh pasti ada jalan untuk bersama Pita. Namun jika tidak, Ia harus benar-benar ikhlas dan merelakannya meski berat.
*****......*****