Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
65. Suami yang Mana


__ADS_3

Kini Ndaru dan Pita tengah duduk di taman kecamatan, disana banyak warung tenda lesehan yang berjualan. Banyak pasangan serta keluarga kecil yang tengah menikmati waktu bersama.


Pita dan Ndaru memilih menikmati wedang ronde untuk mengusir hawa dingin yang mulai menusuk kulit. Setelah menikmati ayam penyet sepiring berdua dengan rasa canggung, mereka memilih singgah sebentar disana sebelum pulang. Niat hati ingin berbincang di warung penyet, nyatanya tendanya sudah harus ditutup karena penjualnya hendak pulang. Dan disinilah akhirnya mereka berbincang di sebuah bangku taman, duduk bersisian.


"Ingat nggak pertama kali kita bertemu saat di kota", ucap Ndaru.


"Ingat dong. Makan sepiring berdua kayak tadi kan....", jawab Pita sambil tersenyum.


Keduanya kembali teringat kejadian dimasa lalu yang hampir sama dengan kejadian yang baru saja mereka alami.


Flashback......


Hari itu Pita tengah pulang dari PKL (Praktik Kerja Lapangan) karena Pita sekolah di SMK. Ia bersama temannya hendak membeli makanan di warung tenda sayangnya selera mereka berbeda, sehingga masuk di tenda yang berbeda.


"Ayam penyet yang sayap 1... es jeruknya satu Bu", ucap Pita yang kebetulan berbarengan dengan seorang lelaki yang pesanannya sama dengannya.


Si Ibu penjual menyuruh mereka duduk dulu, kebetulan mejanya sudah banyak yang penuh. Alhasil mereka duduk dimeja yang sama.


Si Ibu penjual penyet pun datang membawa nampan berisi dua gelas es jeruk dan sepiring nasi dan ayam penyet satu.


"Lhoh kok cuma satu Bu makannya?", tanya lelaki dihadapan Pita itu.


"Ayamnya habis Mas. Tinggal 1 tok yang terakhir. Wis nggak papa Mas sepiring berdua biar mesra. Nasi dan sambalnya sudah tak banyakin dijamin kenyang buat berdua.


Saya Do'ain langgeng sampai pelaminan. Silahkan di nikmati", pamit si Ibu tadi.


Keduanya hanya saling pandang tanpa mulai meraih piring. Lelaki itu melihat raut wajah ragu dari Pita yang ada di hadapannya itu pun memilih mengalah.


"Udah buat kamu aja. Aku nanti gampang lah", ucap Lelaki itu sambil menyodorkan piring mendekat kearah Pita.

__ADS_1


"Nggak usah. Buat Mas aja", tolak Pita kembali menyodorkan piring ke arah Lelaki itu.


Tapi......


Kruuuuukkkk.....kruyuk....


Pita malu sekali, perutnya harus berbunyi. Ia pun tersenyum kikuk, dan lelaki itu pun ikut tersenyum.


"Tuh... perutnya protes. Udah buat kamu aja", ucap Lelaki itu pelan.


Pita hanya mengangguk karena masih malu. Dengan canggung Pita makan pelan-pelan. Tak lama kemudian....


Kriiiiuuuuuuuuukkkkk.....


Si lelaki gantian tersenyum kikuk, Pita pun ikut tersenyum mendengar bunyi perut si Lelaki.


"Ayo makan bareng Mas. Pita nggak penyakitan kok", ucap Pita sambil menyodorkan piring yang masih berisi banyak itu.


"Iya. Pita namaku. Mas namanya siapa?", tanya Pita di sela makannya.


"Panggil aja Ndaru", sahut lelaki bernama Ndaru itu.


"Wah bagus namanya. Oke.... Mas Ndaru mari kita eksekusi makanan ini sampai habis", ajak Pita semangat.


Ndaru yang mendengarnya hanya tersenyum sambil mulai makan dengan orang asing yang baru Ia temui. Gadis kecil yang menurutnya lucu, tidak tinggi kulit eksotis dan pipinya chubby. Dan.... dadanya terlihat berisi. Astaga.... otak Ndaru tiba-tiba traveling kemana-mana.


Meski baru kenal ternyata mereka nyambung dalam berbincang. Hingga berbicara ngalor-ngidul membuat semua orang mereka adalah pasangan kekasih. Pita merasa nyaman bersama orang yang baru di kenalnya itu.


"Nama lengkapnya siapa Mas?", tanya Pita sudah mulai mode cerewetnya.

__ADS_1


"Dewandaru, tapi Bapak Ibuku lebih suka memanggilku Ndaru. Kalau Dewa katanya nggak pantas karena Aku orang kampung.


Aku kadang heran, kalau tahu nggak pantas untuk nama seorang anak kampung. Kenapa juga dikasih nama Dewa", sahut Ndaru.


"Ya namanya nama kan Do'a Mas. Orang tua pasti ingin yang terbaik", sahut Pita.


"Kalau namamu?", tanya Ndaru balik.


"Gempita Malam. Bagus kan", puji Pita pada namanya.


"Pasti lahirnya pas malam", sahut Ndaru.


"Yap... Betul...",


Flash Off....


"Lucu juga ya, setelah sekian tahun dihadapkan pada situasi yang sama", ucap Pita.


"Iya. Sudah takdirnya kali. Ehhmmm....... Kamu apa kabar?", tanya Ndaru basa-basi.


"Kabar Aku saat ini Baik Mas", jawab Pita.


"Suami Kamu dimana? Kenapa tinggal disini? Apa kalian sedang marahan?", berondong Ndaru.


Pita hanya tersenyum kecut mendengar rentetan pertanyaan Ndaru untuknya. Luka lama seolah dikorek lagi.


"Suami yang mana...?", tanya Pita balik.


"Hah....????", Ndaru hanya bisa melongo mendengar ucapan Pita yang menurutnya ambigu.

__ADS_1


*****.......******


__ADS_2