Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
25. Melahirkan


__ADS_3

Satu Jam yang lalu


Pita tiba di rumah sakit dengan di antarkan seorang wanita paruh baya yang tengah bepergian dengan diantar supirnya. Wanita itu kebetulan melintas di saat Pak Sukri mencoba menghentikan taksi yang lewat untuk mengantar Pita ke Rumah sakit. Sayangnya semua taksi yang lewat penuh. Sementara Pita terus mengaduh kesakitan.


Wanita itu tak sengaja melihat Pita yang terlihat duduk selonjoran di trotoar sembari meringis sambil mengelus perut buncitnya. Ia yang hendak Ke Rumahsakit itu pun teringat menantunya yang kini tengah berjuang untuk melahirkan. Ia membayangkan menantunya berada di posisi Pita.


"Ini kenapa Pak", tanya wanita paruh baya itu pada Pak Sukri saat melihat kening Pita berdarah.


"Mbaknya tadi jatuh Buk, saat hendak turun dari motor ada yang nabrak motor saya. Bukannya nolong malah kabur orangnya. Padahal mau lahiran ini Mbaknya. Saya dari tadi nyegat taksi tapi penuh semua", keluh Pak Sukri.


"Boleh Saya antar Pak. Kebetulan Saya mau ke Rumah Sakit", tawar Wanita itu.


"Gimana Mbak?", tanya Pak Sukri pada Pita.


Pita yang sudah tak kuat pun memilih mengiyakannya dengan menganggukkan kepala. Rasa sakit di perutnya sudah semakin sering. Di tambah benturan keras di perutnya tadi semakin terasa ngilu. Ia yang tadi masih bisa menahan sakit, kini benar-benar tak sanggup lagi menahannya. Bahkan Ia tak menyadari keningnya terus-terusan mengeluarkan darah dan membasahi wajah pucatnya itu.


Dengan di bantu Pak Sukri dan supir wanita tadi, Pita akhirnya diangkat kedalam mobil itu untuk dibawa menuju Rumah Sakit.


Setiba di RS, wanita tadi segera membawa Pita ke ruang UGD, ingin rasanya Ia menemani Pita. Entah mengapa Ia begitu peduli dengan gadis muda itu. Tapi, Ia pun harus segera keruangan menantunya yang juga hendak melahirkan. Terpaksa Ia meninggalkan Pita sendirian meski ada rasa tak tega.


"Maafkan Ibu ya Nak tak bisa menungguimu. Menantu Ibu juga hendak melahirkan, Ibu harus segera kesana. Ibu hanya bisa berdo'a semoga semuanya berjalan lancar", ucap Wanita itu sambil mengelus kepala Pita saat hendak masuk UGD.


Pita pun merasa hangat dengan sentuhan wanita itu. Ia ingin di temani Ibu itu, meski baru pertama kali bertemu tapi Ia merasa nyaman. Sayangnya Pita tak boleh egois, wanita itu kesini bukan untuknya melainkan untuk menantunya. Ia pun hanya tersenyum sambil mengangguk tanda mengiyakan ucapan wanita itu.


Pembukaan jalan lahir Pita rupanya sudah sempurna. Setelah mendapat penanganan pada luka-lukanya, keningnya tergores cukup dalam dan perlu dijahit. Ia pun kemudian dialihkan ke ruang bersalin karena akan melahirkan.

__ADS_1


Para Dokter dan perawat telah siap menangani Pita, karena wanita paruh baya tadi sudah mengurus administrasi Pita agar segera di tangani. Ia pun sudah menghubungi suami Pita, namun tak aktif Ia pun hendak menghubungi nomor lain di ponsel itu. Sayangnya ponsel Pita mati kehabisan batrai. Ia pun berinisiatif meminta pihak rumah sakit menghubungi nomor yang tertera di sebuah kartu nama yang berada di dompet Pita. Di dalam tas Pita juga ada Kartu keluarga sehingga Ia bisa melengkapi data-data pasien itu.


Barang-barang Pita pun Ia titipkan pada bagian administrasi tersebut karena Ia terburu-buru hendak keruangan menantunya itu.


Rasa sakit terasa begitu menyiksa Pita. Di usianya yang menginjak 20 Tahun Ia sudah harus melahirkan.Tak ada orangtua bahkan suami yang menemaninya untuk menguatkannya disaat seperti itu. Ia benar-benar merasa sendirian. Ia berjuang untuk memberikan kehidupan bagi buah hatinya itu. Hingga suatu yang besar terasa mendorong jalan lahirnya dan..... bayinya berhasil keluar setelah Ia berjuang mengejan tadi.


Terdengar Dokter dan para perawat menghela nafas lega.


Tapi.....


Ada yang salah....


Di sela deru nafasnya yang masih ngos-ngosan, Pita menyadari sesuatu yang janggal.....


Bayinya....


Pikiran buruk pun menggelayuti pikiran Pita. Dengan lirih Ia memilih bertanya pada Dokter yang menanganinya.


"Dok, kenapa bayi saya tak menangis", lirih Pita.


"Maaf Ibu. Putri Anda hanya berhasil bernafas beberapa detik saja. Kami sudah berusaha, namun benturan yang terjadi di perut Ibu berakhir fatal", ucap sang Dokter itu.


Tesssss.....


Air mata lolos di mata Pita, yang Ia nantikan tak bisa tertolong..

__ADS_1


Bayinya telah tiada untuk selamanya.....


"Boleh saya melihatnya", pinta Pita.


Perawat pun membawa bayi itu kesisinya. Meletakkan bayi itu di sampingnya. Pelan-pelan Pita mengusap pipi bayi mungil itu dan menahan isakannya. Diciuminya bayi itu dengan sayang.


"Tolong beri nama dia 'Mikayla', ya Dokter", pinta Pita yang di angguki Dokter itu.


Suasana haru menyelumuti ruang persalinan tersebut.


'Semoga Kamu bisa membawa Ibu ke surga kelak. Tenanglah di Surga, Tuhan lebih menyayangimu Nak', batin Pita.


Dan....


Pita pingsan, lelah fisik, lelah mental, kini harus kembali kehilangan orang yang Ia sayangi di saat Ia rapuh dan sendiri. Fisik yang lemah serta beban hidup yang Ia tanggung sendiri membuatnya tak sanggup menerima kenyataan bayinya tiada.


Dokter menyatakan Pita koma, alam bawah sadarnya membuatnya enggan bangun.


******------******


Dan karena Ibu paruh baya tadilah Bela dihubungi pihak Rumah sakit. Bela dengan sigap memanggil perawat untuk membawa kursi roda dan membawa Lala agar segera ditangani Dokter setibanya mereka di Rumah Sakit. Sementara Bela segera menuju IGD untuk memastikan kondisi Pita. Lala pun bisa memakluminya.


Selama ini Bela memang tak pernah memiliki nomor ponsel Pita, tapi Ia pernah memberi Pita sebuah Kartu namanya. Mungkin kartu itu masih disimpan sehingga saat Kakaknya tak bisa dihubungi, maka pihak RS memilih menghubunginya.


Satu pertanyaan besar ada di benak Bela. Kemana Kak Adi saat istrinya hamil besar dan tak di sampingnya? Bahkan tak bisa di hubungi, ponselnya mati Suaminya dulu saja sampai memilih libur kerja 2 minggu sebelum HPL karena takut Ia melahirkan sewaktu-waktu dan suaminya tak ada untuk mendampinginya.

__ADS_1


Dan sekarang Kakaknya tak ada disamping Istrinya, perempuan yang begitu Kak Adi sayangi dan manjakan selama kehamilan. ada apa sebenarnya.


*****......******


__ADS_2