Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
13. Berduka (2)


__ADS_3

"La titip Ayah ya. Aku harus mengurus Ibu, Beliau harus segera di operasi dan sekarang Aku sedang mengurus administrasinya.


Aku baru tahu Ibu ternyata pasien sakit jantung di Rumah Sakit ini. Dan kondisinya tidak baik saat ini ", bunyi pesan Pita yang Ia kirimkan pada Lala.


"Iya Ta. Jaga Ibu baik-baik. Semoga operasinya lancar dan Ibumu segera sembuh. Aamiin....", balas Lala.


"Iya La Aamiin. Makasih", tulis Pita.


'Maafkan Aku Ta. Aku belum bisa memberikan kabar tentang Ayahmu. Aku takut kamu nggak tenang saat mengurus Ibumu dan Beliau pun akan semakin syok mendengar berita duka ini', batin Lala sendu.


Tak terasa airmata menetes di pelupuk matanya, Ia tak menyangka akan tertimpa musibah seperti ini. Ia kehilangan supir sekaligus Ayah dari sahabatnya. Orang tuanya tengah berjuang hidup dan mati. Dan sekarang Ia mendengar kabar Ibu sahabatnya akan dioperasi.


Ya Tuhan.....


Mengapa cobaan datang bertubi-tubi, begitulah yang ingin Lala ucapkan. Namun itu hanya terbesit dalam hatinya. Ia tak mau berburuk sangka pada Tuhan, Ia hanyalah hamba dan tak memiliki hak untuk protes. Ia hanya perlu menerima semua takdir Tuhan. Karena Tuhan mengujinya berarti Tuhan tahu bahwa Ia mampu melewati ini semua.


Sepi.....


Kemana Om dan Tantenya.....?


Itu yang tengah Lala rasakan, bukankah kata polisi tadi sudah menghubungi Omnya untuk segera datang.


Apakah Omnya terlalu sibuk sehingga tak bergegas menuju Rumah sakit untuk menengok saudara satu-satunya. Dan entah mengapa perasaan Lala tiba-tiba menjadi tak tenang. Seakan sesuatu buruk akan menimpanya. Ia pun hanya bisa berdo'a dan semakin memasrahkan dirinya pada Tuhan. Semoga hanya perasaannya saja.


******--------******


Disisi lain Pita sudah menyelesaikan administrasinya dan sekarang Ia tengah menemani Ibunya menantikan detik-detik sebelum operasi. Tubuhnya terasa lelah dan tak sengaja Ia tertidur di sisi ranjang Ibunya.


Pita terbangun dari tidurnya saat merasakan kepalanya dibelai dengan lembut. Ia pun mendongakkan kepalanya. Nampak Ayah dan Ibu tengah tersenyum padanya, dan entah mengapa raut wajah mereka nampak berseri.


"Nak yang kuat Ya. Tugas Kami untuk menjagamu sudah selesai. Sekarang berjuanglah untuk melanjutkan hidupmu tanpa Kami", ucap Ayah tersenyum sambil membelai rambutnya.


"Maksud Ayah Apa?", tanya Pita bingung.

__ADS_1


Ayah hanya tersenyum.....


"Ayah dan Ibu yakin kamu adalah Putri Ibu yang paling kuat. Sekeras apapun cobaan yang datang, Ingatlah selalu ada Tuhan yang menjagamu. Kami menyayangimu Nak. Meski Kami tak bisa lagi bersamamu", lanjut Ibu Pita dengan suara lembutnya.


Kedua orangtuanya pun segera memeluk Pita erat. Sementara Pita hanya bisa melongo karena belum paham dengan situasi yang terjadi.


"Kami Pamit.....", ucap Ayah dan Ibu.


Pita hanya terpaku melihat kedua orang tuanya melepas pelukan itu dan langsung pergi meninggalkannya.


Tiiiiiiiiiiiitttttttt..........


Pita segera terbangun dari tidurnya. Ia bingung ruangan Ibunya sudah ada beberapa perawat dan Dokter disana.


Kemana Ayah dan Ibunya, bukankah baru saja bersamanya.


Ataukah.....


Tadi Ia hanya mimpi....


Tak berapa lama kemudian Dokter keluar dengan wajah sendu. Ia menatap ragu ke arah Pita yang tengah menatapnya seolah meminta penjelasan.


Dokter hanya menggelengkan kepalanya dan berkata "Maaf, Beliau tak bisa bertahan", ucapnya singkat.


Pita langsung luruh kelantai bersamaan dengan kedatangan suaminya, Adi. Laki-laki itu segera memapahnya duduk di ruang tunggu. Sementara para perawat masih sibuk mengurus raga Ibunya untuk di bawa ke ruang jenazah.


Ibunya telah tiada, hati Pita begitu hancur. Ia kehilangan orang yang paling Ia sayangi.


Apakah artinya mimpi tadi itu nyata, Ibunya berpamitan padanya.


Tunggu......


Bukankah yang datang tak hanya Ibunya...

__ADS_1


Ada Ayah yang bersama Ibu. Mereka pamitan bersama.


Apakah.....


Perasan Pita semakin tak tenang, Ia harus memastikannya terlebih dahulu.


Tidakkkkk.....


Ia takut kehilangan Ayahnya juga.


Dan entah tenaga darimana, Ia tak lagi lemas dan segera bangkit serta berlari menuju ruang UGD. Ia bahkan mengabaikan panggilan suaminya. Di kejauhan Ia melihat Lala tertunduk lesu.


Kebetulan ada perawat yang lewat dan nampak dari ruang UGD. Pita berinisiatif bertanya sebelum menemui Lala.


"Maaf sus. Saya mau tanya kondisi korban kecelakaan tadi. Keluarga Pramono dan Saya keluarganya kebetulan baru bisa datang", tanya Pita hati-hati.


"Oh iya Mbak. Mohon maaf sebelumnya Untuk pasangan Bapak dan Ibu Pramono dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan intensif di UGD. Sementara untuk sang Sopir, Beliau tiada saat masih di tempat kejadian. Permisi", pamit sang perawat.


Pita semakin syok dan nyaris jatuh jika Suaminya tak datang tepat waktu.


Pikirannya melayang mengingat saat orangtuanya tadi mendatanginya. Mereka pamit hanya lewat mimpi dan Ia sekarang menjadi yatim piatu dalam sekejap. Pita terdiam tak bisa berkata apa-apa, Ia sedih dan merasa kacau.


"Tidaaaaakkkk", terdengar jeritan melengking dari depan pintu UGD.


Hal tersebut berhasil menyadarkan Pita yang memang sudah duduk tak jauh dari Lala. Ia bisa melihat dan mendengar perbincangan Lala dengan seorang Dokter.


"Dokter pasti salah. Orangtua saya pasti bisa selamat, mereka kuat", teriak Lala.


"Maaf Dik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pendarahan keduanya pun berhasil kami hentikan. Tapi Tuhan berkehendak lain", jawab Dokter itu.


Innalillahi wa ina ilaihi roji'un.....


Kedua orangtua Lala tak selamat, begitupun orangtua Pita. Mereka sungguh down, kedua sahabat itu berduka bersamaan. Mereka sama-sama kehilangan orangtua di hari yang sama.

__ADS_1


*****........******


__ADS_2