
"Menikahlah saja dengannya jika tak ingin kehilangan bayi itu", terdengar suara yang membuat Pita dan Lala langsung menoleh ke arah sumber suara.
Rupanya itu Awan, Ia tiba-tiba ikut nimbrung obrolan Pita dan Lala setelah sedari tadi sibuk menyimak topik yang tangah Istrinya bahas dengan sahabatnya. Ia sudah datang sedari tadi untuk menjemput Lala, tapi Ia juga penasaran dengan apa yang Lala bicarakan. Ia sengaja duduk di kursi yang berada tepat di belakang Lala, posisi mereka saling membelakangi, sehingga membuat Lala tak sadar suaminya ada disana.
"Kak Awan... ", seru Lala.
"Nggak usah ikut campur deh. Bukannya Aku bilang suruh jemput 30 menit lagi. Kenapa sudah disini aja? Issssttt.... mengganggu saja", cecar Lala.
Ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Awan. Lelaki itu mulai membuatnya kesal. Jika boleh md
"Aku lagi nggak sibuk kok. Jadi berangkat jemput lebih awal",jawab Awan.
Padahal Ia sengaja mengundur jadwalnya memotret model untuk sebuah iklan snack, agar bisa menguping perbincangan sang Istri.
"Pasti sengaja mau nguping", sarkas Lala.
"Aku nggak nguping kok. Cuma nggak sengaja telingaku kedengeran", bantah Awan cengengesan.
Lala hanya berdecak sebal.
"Ku rasa memang sebaiknya Kamu menikah dengan Bapaknya Gara Ta. Agar kamu bisa bersama Gara dan bayi itu benar-benar merasa memiliki orangtua utuh.
__ADS_1
Tapi Kamu pikirkan baik-baik dulu. Mantapkan hatimu baru ambil keputusan", jawab Lala.
"Terima kasih La sudah mau mendengarkan masalahku", balas Pita, Ia sedikit lega sudah berkeluh kesah.
"Kita saudara Ta", balas Lala lalu memeluk Pita yang duduk disisinya.
Awan hanya menatap iri pada sahabat Lala, Ia yang sudah menikah selama setahun belum pernah di peluk seperti itu.
'Duh....nasib... nasib.... Punya istri tapi tiap malam masih kedinginan', lirih Awan dalam hati.
*****______*****
Bu Titin sengaja menemui sang anak dirumahnya. Ia memintanya menikahi Pita.
"Iya. Dia cucu Ibu Nak. Dan Ibu ingin Dia memiliki orangtua lengkap", jelas Bu Titin.
"Nggak. Aku nggak mau nikah lagi. Apalagi sama orang yang nggak Aku kenal", tolak Anak Bu Titin.
"Baiklah. Sekarang Kamu bisa memilih. Menikah dengan wanita itu dan semua toko akan Ibu balik namamu. Bukankah semua toko yang Kamu krlola masih atas nama Ibu. Atau jika Kamu menolak semuanya akan Ibu atas namakan Gara", ucap Bu Titin.
Tentu saja tidak semua Toko Bu Titin diberikan pada anaknya. Diam-diam Ia sudah mengalihkan hak milik beberapa toko cabang dengan nama cucunya. Beberapa tokobyang Ia serahkan pada orang kepercayaannya untuk di kelola tanpa sepengetahuan Anaknya.
__ADS_1
Bu Titin sengaja mengantisipasinya agar kelak hidup cucunya terjamin, Ia takut selamanya sang Anak akan mengabaikan cucunya itu.
Sang Anak masih terdiam, mempertimbangkan pilihan yang menurutnya sulit itu. Ia tak ingin menikah lagi, Ia masih kehilangan sang Istri dan tiba-tiba di minta menikah. Ia pun tak ingin usaha yang Ia kelola malah jatuh ke tangan bayi yang Ia anggap pembuat Istrinya meninggal.
"PRAMONO AJI.....", panggil Bu Titin dengan nama lengkapnya.
"I.....iya Bu", ucap Aji terkejut dengan panggilan Ibunya.
"Bagaimana pilihanmu? Kenapa lama sekali mikirnya", sarkas Bu Titin.
"Baiklah Bu. Aku milih opsi pertama", jawab Aji lemah.
"Sudah Ibu duga", balas Bu Titin.
"Siapkan dirimu. Secepatnya kalian akan menikah. Semua biar Ibu yang urus", lanjut Bu Titin segera berlalu pergi setelah mengucap salam.
Bu Titin sudah yakin Pita pun tak bisao menolak permintaannya. Wanita muda itu tak mungkin mau berpisah dengan cucunya.
"Semoga keputusanku menikahkan mereka adalah hal yang terbaik. Aku hanya ingin cucuku benar-benar mendapatkan Ibu yang menyayanginya dengan tulus", gumam Bu Titin.
*****........*****
__ADS_1