Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
47. Suami Istri


__ADS_3

Pita sudah di rias oleh Lala, dengan riasan sederhana itu membuatnya terlihat cantik, terlebih saat tersenyum lesung pipitnya akan membuatnya semakin manis. Meski senyum yang Ia perlihatkan hanyalah senyum kepalsuan di hadapan Bu Titin, calon mertuanya.


"Sebentar lagi Kamu jadi menantu Ibu Nak. Ibu senang Gara memiliki Ibu lagi seperti Kamu", ucap Bu Titin yang di balas senyuman oleh Pita.


Sayup-sayup terdengar kata 'Sah' di serukan. Itu artinya, Pita dan lelaki yang baru Ia ketahui bernama Pramono Aji resmi menjadi sepasang suami Istri. Dan mereka adalah suami Istri yang aneh karena keduanya sama-sama belum pernah bertemu.


Dengan di antar oleh Bu Titin dan di dampingi Lala, Pita berjalan menuju mempelai lelaki. Ia di antar untuk duduk di samping Aji, suaminya untuk menandatangani buku nikah dan saling memakaikan cincin.


Prosesi nikah telah usai, Pita enggan melihat wajah suaminya itu. Hanya dengan duduk di sampingnya membuat Pita takut. Mungkin pria ini tengah menatapnya tajam. Pita hanya melihat wajah sang suami dalam foto yang berada di buku nikah. Setidaknya Ia tahu seperti apa rupa suaminya itu.


"Selamat Ya Ta.... Semoga ini menjadi yang terakhir. Dan Aku sekalian pamit, Kak Awan udah menuju kesini buat jemput", pamit Lala.


"Iya La. Makasih. Hati-hati di jalan", jawab Pita.


Ada keraguan di hatinya saat Lala berharap ini yang terakhir. Dan entah ini firasat buruk atau hanya ketakutannya saja akan pernikahan.


*****_____*****

__ADS_1


Usai akad Pita langsung di boyong ke rumah Aji bersama Gara sekaligus Babysitternya. Selama perjalanan tak ada perbincangan terdengar di dalam mobil yang Aji kendarai sendiri.


Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah yang berada di komplek perumahan.


"Masuklah. Ada Bibik yang akan menunjukkan kamarmu", ucap Aji tanpa menoleh pada Pita sementara Ia melenggang masuk lebih dulu.


Tak berapa lama kemudian ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri Pita dan Gara yang masih bersama Babysitter.


Mereka di antar menuju kamar yang telah di disiapkan. Kamar Pita dan Gara ada pintu penghubungnya. Sementara untuk babysitter kamarnya ada di sebelahnya.


Melihat kamarnya kosong, Pita sudah bisa menebak hubungan pernikahannya akan seperti apa. Ya... mereka baru saja menikah dan harus tidur terpisah. Pernikahan macam apa yang seperti ini. Tapi... bukankah ini lebih baik, Ia tak perlu makan hati karena hubungan yang manis di awal.


Terdengar suara pintu di ketuk saat Pita merapikan pakaiannya di almari yang di sediakan.


"Masuk saja. Tidak di kunci", sahut Pota dari dalam.


Nampak Bibik yang mengantarkannya tadi masuk Kamar Pita.

__ADS_1


"Maaf Mbak. Kalau sudah selesai Mbak di minta menemui Bapak di ruang kerja. Nanti saya antar", ucapnya pada Pita.


"Iya Bik. Sekarang saja. Ini sudah selesai kok", sahut Pita segera menghampiri Bibik yang masih berdiri di depan pintu.


Pita mengikuti Bibik menuju lantai atas dan berhenti di depan sebuah ruangan. Setelah Ia mengetuk pintu dan diminta masuk, Pita segera masuk kesana dan Bibik pamit undur diri.


"Duduklah. Dan baca yang ada di dalam map itu. Jika ada poin yang ingin kamu tambahkan katakan", perintah Aji.


Pita langsung duduk tanpa menjawab ucapan Aji. Belum sempat Pita meraih map yang ada di meja. Suara Aji kembali terdengar.


"Kita memang menikah, tapi jangan harap bisa menjadi seperti suami Istri pada umumnya. Kamu tak perlu mengurusku, cukup urus saja bayi itu. Aku menikahimu hanya permintaan Ibuku. Ingat baik-baik itu. Jangan berharap lebih dariku", tegas Aji.


Ucapan lelaki yang seumuran dengan Adi mantan suami Pita itu, membuatnya semakin membentengi hatinya untuk tak pernah membuka celah sedikitpun pada lelaki berstatus suaminya itu. Ternyata lelaki itu sama saja, jika dulu Adi pernah memberinya rasa manis meski berujung pahit dan kini Aji langsung memberinya rasa pahit tanpa basa-basi.


Terjawab sudah firasat tak baik yang sempat Ia rasakan. Mereka menikah bukan untuk menjadi suami Istri tapi hanya untuk tinggal di bawah atap yang sama. Memberi status orangtua lengkap pada bayi yang tak di hiraukan oleh Ayah kandungnya sendiri.


Jika bukan rasa iba pada Gara, Pita tak mungkin ingin menjalani status suami istri dengan lelaki yang using terpaut 10 tahun darinya itu.

__ADS_1


*****......*****


__ADS_2