
Waktu bergulir begitu cepat, usia pernikahan Pita dan suaminya sudah satu tahun. Kini usia Gara sudah menginjak Satu setengah tahun. Bayi tampan itu sudah pandai berjalan dan mulai banyak bicara meski terkadang belum jelas apa yang Ia ucapkan.
Bahagia tengah Pita rasakan melihat tumbuh kembang anak susunya. Bayi merah yang Ia timang itu terlihat sehat, pintar dan menggemaskan. Sayangnya kebersamaan mereka tinggal 6 bulan lagi. Rasa sedih jelas sudah menghantuinya. Sehingga Ia ingin membuat banyak kenangan di waktu-waktu terakhirnya.
Pita sudah menandatangani surat perceraian yang Aji berikan keesokan hari setelah Ia menandatangani perjanjian kontrak. Didalam surat perceraian itu sudah tertera tanda tangan suaminya. Sehingga tak akan bisa membuat Pita lebih lama lagi bersama Gara, karena Ia dan suaminya sudah bukan lagi suami Istri. Hanya tinggal suaminya mengurus akta perceraiannya keluar.
Hari ini Ia mengajak Gara untuk piknik di sebuah taman, bersama Mbak Siti babysitter Gara. Pita juga janjian dengan Lala untuk bertemu disana, karena suami Lala makin posesif dan sulit memberi Lala ijin untuk bepergian.
Gara sibuk berlarian di rerumputan mengejar kupu-kupu yang terus beterbangan. Ia pun hendak mengikutinya.
"Mbak tolong fotoin Kami ya", pinta Pita pada Babysitter Gara.
Pita ingin mengabadikan momen kebersamaannya dengan Gara di ponselnya. Mungkin Ia akan mencetaknya satu dan memasukkan ke album foto milik Gara yang Ia buat. Ia pun sudah mencetak foto selfinya dengan Gara, Ia hanya ingin Gara tahu keberadaannya dan tak melupakan Pita saat mereka berpisah nanti.
"Hai...hai.... keponakan Tante yang ganteng", ucap Lala sambil menoel-noel pipi bulat Gara.
Lala yang datang segera menggoda bocah imut itu. Dan seperti biasanya Ia akan mengibaskan tangan Lala yang menyentuhnya.
Gara tumbuh menjadi bocah yang tak suka di sentuh orang asing, mungkin ini akibat Ia yang selalu di abaikan oleh Ayah kandungnya sendiri. Di saat Ia haus sentuhan sosok Ayah, justru sosok itu mengacuhkan.Bukankah secara tak langsung karakter itu terbangun akan pengabaian si Ayah. Bocah itu cuek dan tak perduli dengan sekitarnya, ekspresinya akan datar saat berinteraksi dengan orang lain.
__ADS_1
Pita sengaja membawa Gara di taman agar mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sayangnya itu sepertinya sia-sia, meski melihat banyak anak-anak seusianya bermain. Gara lebih memilih memainkan mainannya sendiri.
"Ta, Aku kesana dulu ya. Pengen beli Harum Manis", pamit Lala segera berlalu tanpa menunggu jawaban Pita.
"Gara Sayang. Kamu sama Mbak Siti dulu ya. Ibu duduk di bangku itu. Deket kok, kalo Gara bosan main disini bisa nyusul Ibu di antar Mbak Siti", ucap Pita pada Gara.
"Iya... Bu...bu...", sahut Gara sambil tersenyum lucu.
Pita pasti merindukan senyum bocah itu, senyum yang Ia tujukan hanya pada orang terdekatnya. Ia pun duduk sambil memainkan ponselnya, Ia membuka galeri dan memilah-milah foto yang hendak Ia cetak. Tanpa Ia sadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Dan hal itu di ketahui Gara, penglihatan Bocah itu sangat tajam.
Saat orang tadi hendak mendekati Pita, Gara segera berjalan kearah Pita tanpa sepengetahuan Mbak Siti yang sibuk membereskan mainan serta peralatan piknik. Ia baru saja mendapat kabar jika supir majikannya sudah menjemput.
Dan....
Greb....
Tangan kiri Pita di cekal seseorang, membuat langkah Pita terhenti dan langsung menoleh kearah orang tersebut.
Tangan Gara terkepal keduanya, Ia tak suka orang asing berani memegang Ibunya. Jika Ayahnya sendiri tak akan Ia biarkan menyakiti sang Ibu apalagi orang asing itu. Pengabaian sang Ayah membuatnya ingin melindungi Ibunya dari siapun.
__ADS_1
"Pita", panggil orang itu.
Senyum Pita yang Ia tujukan pada Gara memudar saat tahu siapa yang memegang tangannya. Orang yang ingin Ia lupakan justru hadir di hadapannya setelah lama menghilang. Rasa sakit dan kecewa kembali Ia rasakan saat mengingat kepergian putrinya dan itu berawal dari pria yang memang tak menginginkan kehadiran putrinya sedari dalam kandungan.a
"Lepaskan", sentak Pita sambil menarik lengannya agar terlepas dari cekalan pria itu.
Melihat Ibunya berontak membuat bocah itu marah, saat tiba di hadapan Ibunya Ia segera menggigit lengan lelaki yang mencengkeram pergelangan tangan Pita.
"Akhhhh.... ", pekik lelaki itu dan berhasil membuat cekalannya pada Pita terlepas.
Dengan segera bocah itu berdiri di hadapan Pita dan memunggunginya, bahkan bocah lelaki itu merentangkan tangannya sebagai perlindungan untuk Ibunya.
"Jangan dandu (ganggu. Kan belum jelas ya readers cara ngomongnya si Gara ini, baru umur 1 setengah tahun) Bubu (Ibu)... Gala (Gara)", ucap Gara.
Pita tak memarahi Gara, Ia tahu bocah itu tak suka ada yang mengganggunya. Ia hanya ingin melindungi Pita. Mungkin Ia hanya perlu menasehatinya pelan-pelan nanti saat di rumah.
"Maafkan anak saya Pak. Dan permisi saya buru-buru", pamit Pita sambil berlalu dengan Gara dalam gendongannya.
Sementara lelaki itu hanya terdiam mencerna ucapan Pita. Ia bahkan tak menyadari mantan Istrinya sudah pergi. Ya Dia adalah Adi, mantan suami Pita yang lama tak menunjukkan batang hidungnya.
__ADS_1
***** .........*****