Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
06. Dikejar Cowok (2)


__ADS_3

Lala masih memilih menyendiri, Ia semakin menjauh dari teman-teman sekelasnya. Ia merasa lebih baik sendiri tanpa teman daripada memiliki teman yang palsu. Banyak mahasiswa yang mendekatinya, tapi Lala tetap acuh. Ia mulai sulit percaya pada orang asing. Bersikap baik hanya dengan maksud tertentu.


Hingga ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang mendekati Lala. Ia masih memilih cuek, Ia meyakini pasti cowok itu sama seperti sebelum-sebelumnya, mereka hanya mahasiswa yang tengah taruhan dengan temannya dan Lala sebagai objek taruhannya. Jika sudah lelah Ia acuhkan, pasti akan berhenti dengan sendirinya untuk mengganggu Lala.


"Lagi ngerjain apa sih?", tanya senior Lala bernama Dewa Dinata.


"Tugas", sahut Lala cuek.


"Boleh lihat. Aku bantuin deh", tawar Dewa lembut.


"Nggak usah", ketus Lala.


"Tugas apaan sih?", tanya Dewa lagi.


"Tugas Mata kuliah", jawab Lala.


"Iya maksudnya temanya apa?", lagi-lagi Dewa bertanya.


"Nggak usah kepo", jawab Lala tetap fokus menatap layar laptopnya.

__ADS_1


Sementara Dewa tetap duduk di samping Lala, Ia dengan setia menemani Lala mengerjakan tugas. Ia ingin menarik simpati Lala, jadi meskipun Ia tak pernah di hiraukan oleh Lala, Ia akan tetap stay di samping Lala. Karena Ia punya niat tersendiri.


Begitulah hari-hari Lala, dimanapun Ia berada Dewa selalu mengekorinya. Padahal seniornya itu sudah tak ada kegiatan di kampus, karena hanya perlu menunggu wisuda saja dan akan lulus dari universitas itu.


Satu-satunya mahasiswa yang bertahan lama untuk mengejar Lala hanya Dewa saja. Hampir dua bulan Ia selalu mendekati Lala. Dan tak ada tanda-tanda untuk menyerah meski tak ditanggapi oleh Lala.


Sebenarnya sejak pertama melihat Dewa, Lala sudah jatuh hati. Baginya Dewa tak hanya tampan, Ia sopan dan tampak dewasa, dan itu termasuk kriteria cowok idaman bagi Lala. Hanya saja Ia tak mau jika nantinya Ia hanya di jadikan bahan taruhan, makanya Ia memilih mengacuhkan Dewa.


Tapi kedekatan mereka dua bulan ini berhasil menggoyahkan hati Lala. Melihat bagaimana perjuangan Dewa mendekatinya itu membuatnya luluh sedikit demi sedikit. Ia mulai yakin Dewa benar-benar tulus padanya bukan sekedar tengah taruhan untuk menjadikannya pacar.


Dan terbukti di bulan ke tiga, Dewa masih mendekatinya. Sedikit demi sedikit Lala pun mulai mencair dan tak lagi mengabaikan Dewa. Ia mulai berbincang santai dengan Dewa saat bersama. Hanya saja masih menolak ajakan Dewa.


"Nggak usah Kak. Aku bawa mobil kok", tolak Lala halus.


"oke deh. Hati-hati yah", ucap Dewa saat mengantar Lala ke mobilnya.


"Iya", jawab Lala kemudian masuk ke dalam mobilnya.


*******-------*******

__ADS_1


"Sabtu besok Jalan yuk La. Pumpung malam minggu ini nggak ada acara", ajak Dewa saat Lala saat Ia baru keluar dari perpustakaan.


"Maaf Kak. Nggak bisa, Aku udah ada janji", tolak Lala.


"Pacar yah?", tebak Dewa.


Lala hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Terus janjian sama siapa?", tanya Dewa lagi.


"Sahabatku Kak. Kebetulan Dia minggu libur kerja, jadi malam minggunya nginep di rumahku. Maaf ya Kak", ucap Lala menjelaskan.


"Ya udah deh", sahut Dewa lesu.


Lala memang sudah jatuh hati pada Dewa sedari awal bertemu, namun entah apa yang membuatnya meragu. Ia memang sudah mau menerima kehadiran Dewa di dekatnya, hanya saja Ia masih ingin tahu sebesar apa perjuangan Dewa untuk mendapatkan hatinya.


Lala memang ingin fokus pada kuliahnya, tapi menurutnya memiliki pacar justru bisa menyemangati dirinya saat berkutat dengan tugas. Setidaknya Ia tak mati bosan karena di pusingkan oleh tugas kuliah.


******.......*****

__ADS_1


__ADS_2