Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
91. Ekstra Part 8 Drama Melahirkan


__ADS_3

Tak terasa usia kehamilan Pita sudah sembilan lebih. Tak banyak ngidam yang Ia alami, hanya saja Ia harus istirahat total selama 3 bulan penuh, Ia hanya bisa tidur di ranjang dan makan buah-buahan saja.


Usai masa itu Ia justru makan dengan lahap segala jenis makanan. Bahkan setelah 3 bulan turun 3 kilo kini beratnya malah naik sampai 10kg, justru sekarang Ia diharuskan Dokter mengurangi makan yang manis karena beresiko janinnya terlalu besar.


Lain halnya Pita yang nafsu makannya meningkat pesat ada perubahan signifikan dari Ndaru, suami Pita. Sang suami memiliki hobi baru semenjak Pita hamil, lelaki yang akan memiliki dua anak itu suka berlama-lama berkumpul bersama Ibu-ibu sekitar rumahnya. Bukan sekedar ikut berkumpul, tapi Ndaru ikut bergosip ria dengan para Ibu-ibu tetangga.


Awalnya Ndaru hadir di acara arisan rutin Ibu-ibu se RT, menggantikan Pita saat Ia harus istirahat total selama 3 bulan penuh. Alhasil Ndaru justru seakan ketagihan berkumpul dengan emak-emak berdaster itu. Ia bahkan melarang Pita berangkat arisan meski Pita sudah sehat.


Tak hanya bergosip saat arisan, Ndaru pun hobi ngerumpi di kang Sayur maupun warung kelontong terdekat dan juga di pasar. Sungguh ajaib suami Pita itu, dulu Ndaru tak suka dengan para emak-emak yang suka bergosip. Bahkan sang Suami melarang Pita terlalu lama bergabung dengan mereka saat bergosip. Dan kini justru Ndaru yang hobi beli sayur hingga satu jaman untuk ikut bergosip.


Sayangnya kini suami bergosip disaat tak tepat, Ndaru berpamitan mencari orang untuk mengantarnya ke RumahSakit karena sopir yang biasa tengah mudik, Istrinya sakit. Sedangkan Ndaru tak mungkin mengendarai mobil saat panik. Pita sudah pecah ketuban, tapi Ndaru tak kunjung kembali.


Dengan tertatih, Pita menuju halaman rumahnya. Ia menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan sang Suami. Dan..... ketemu....


Ndaru nampak di antara Ibu-ibu yang tengah memilih sayur. Dan terlihat tertawa-tawa santai sementara Ia tengah kesakitan, bagaimana Pita tak geram.


"MAS DEWANDARUUUUIUUUUU.....", pekik Pita yang bisa di dengar emak-emak sekampung.


Entah kekuatan darimana Pita bisa berteriak kencang di tengah menahan sakit. Mungkin karena emosi yang sudah diubun-ubun sehingga Ia bisa berteriak sangat kencang.


"Alamak..... mati Aku", ucap Ndaru sambil menepuk keningnya.

__ADS_1


Ndaru sadar saat Pita memanggilnya Mas dan nama lengkapnya, itu artinya san Istri tengah marah. Dan karena teriakan itu, Ia pun menyadari kesalahannya.


"Gara-gara Ibu-ibu sih ngajak saya bergosip. Saya jadi lupa tujuan Saya kan", omel Ndaru.


"Lhoh kok kita yang disalahin. wong yang ngajak ngobrol duluan juga situ", bela salah satu Ibu-ibu dan di angguki rekan-rekan lainnya.


"Masssssss......ssshhhhh.....", pekik Pita dan diakhiri desisan. Tubuhnya pun luruh di depan pagar.


"Ya ampun..... "seru Ibu-ibu panik dan segera berlari mendekat, sementara Ndaru saking kagetnya malah diam mematung.


Buuughhhh......


Sebuah terong melayang ke punggung Ndaru. Dan berhasil menyadarkannya dari lamunannya.


"Dek.... ", ucap Ndaru segera berlari mendekati istrinya yang sudah di kerubuti Ibu-ibu.


"Waduh.... rambutnya udah mau brojol kayaknya", ucap Bu RT.


"Segera bawa ke Rumahsakit ini Mas", lanjut yang lainnya.


"Bu... udah di ujung ini rasanya", ucap Pita saat rasa mulas tak terasa.

__ADS_1


"Panggil Bu bidan aja. Semoga belum berangkat ke puskesmas", usul yang lain.


"Iya....iya Betul. Kita gotong dulu ke rumah",


"Kang Sayur... sini bantuin Mas Ndaru angkat Istrinya. Kita pada nggak kuat nih keberatan bemper", seru Bu RT.


"Terus yang manggil Bu Bidan siapa?", mereka tengah berembuk di teras saat Pita sudah dibawa masuk.


"Bu RT kepalanya udah kelihatan", pekik salah satu Ibu-ibu yang tadi ikut masuk.


Melihat motor matic Ndaru terparkir rapi di halaman beserta kuncinya. Bu RT langsung tancap gas menjemput Bu Bidan.


Semua pun harap-harap cemas, hanya Bu RW yang menemani Ndaru menjaga Pita di dalam kamar.


"Gimana ini Bu?", keluh Ndaru karena melihat kepala anaknya sudah nampak.


Sementara Pita ragu untuk mengejan tanpa di dampingi tenaga medis, tapi Dia juga takut anaknya akan terjepit.


"Sabar Mas. Bu RT sudah otw katanya. Banyak berdo'a saja", hibur Bu RW.


Ndaru pun hanya bisa menguatkan sang Istri agar tak khawatir seperti dirinya saat ini. Ia yakin Istrinya tak kalah paniknya dengan dirinya, karena Pita hanya diam sedari tadi.

__ADS_1


*****..........******


__ADS_2