Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
45. Makam


__ADS_3

Pita tak tahu jika pernikahannya dengan anak Bu Titin akan di langsungkan dalam waktu dekat. Hanya berselang satu minggu setelah Ia menerima permintaan Bu Titin. Ya.... Pita sebelumnya memang memilih menikah dengan anak Bu Titin tanpa cinta. Ia hanya ingin tetap bersama baby Gara, menyusui dan merawatnya hingga besar.


Pagi ini Pita meminta izin Bu Titin untuk ke Makam orangtuanya, sebelum besok akan melaksanakan akad. Awalnya Ia janjian dengan Lala untuk naik motor, namun Awan tak mengizinkannya naik motor dan akan mengantarkannya. Pita pun juga di antar oleh supir Bu Titin. Dan mereka bertemu di pintu masuk makam.


Saat Lala tiba, Pita sudah berada disana terlebih dulu. Awan pun mengantarnya hingga di hadapan Pita.


"Maaf Aku nggak bisa menemanimu, Aku harus kerja dulu. Jika selesai cepat hubungi, nanti Aku jemput", pamit Awan.


"Iya Kak. Ehm.... boleh nggak Aku mampir ke tempat lain sama Pita setelah dari sini", pinta Lala ragu.


"Kemana?", selidik Awan.


Awan lebih menunjukkan rasa posesifnya pada Lala. Dan tentu itu berbanding terbalik dengan Awan yang dulu, cuek dan dingin padanya.


"Hanya ke taman dekat sini. Sudah lama nggak ngobrok", bujuk Lala meminta izin.


Awan menimang jawabannya sebentar, pekerjaannya hari ini sedikit banyak di waktu pagi. Ia akan bolak-balik jika menjemput Lala disini, dan sepertinya mengizinkan Lala pergi tak ada salahnya. Pekerjaannya teratasi dan tentunya sang Istri akan senang di izinkan pergi bersama Pita.


"Hem... Baiklah. Tapi jika akan pulang hubungi Aku. Jangan pulang sebelum Aku jemput", putus Awan.


Senyum sumringah terbit di bibir Lala, dan tentu saja membuat jantung Awan semakin berdebar-debar. Rasa cintanya semakin berlipat-lipat pada sang Istri hanya karena sebuah senyum manis Lala.

__ADS_1


"Tolong titip Istri saya", ucap Awan.


"Iya Kak", sahut Pita, Ia bingung harus memanggil apa pada suami Lala dan hanya mengikuti Lala.


Lala segera meraih tangan Awan dan menciumnya.Ya....itu kebiasaan baru yang di wajibkan oleh Awan. Dan sebagai Istri yang patuh, tentu Ia menurutinya. Kalau kemarin Ia cuek karena Awan pun acuh padanya.


Jika pun Ia diminta melakukan hubungan suami istri, Ia akan melaksanakannya. Karena itu sudah menjadi tugas seorang istri terlepas ada atau tidaknya rasa cinta. Dan selama ini Awan pun tak meminta haknya pada Lala.


Bila nantinya mereka berakhir terpisah setelah Ia melaksanakan kewajibannya. Lala tak ambil pusing, toh statusnya jika berpisah adalah janda. Meski saat berpisah Ia masih gadis, apa ada yang percaya seorang janda masih gadis.


Pernah dikhianati satu kali membuat Lala memilih mengikuti alur takdirnya. Jika seumur hidup harus bersama Awan akan Ia terima, jikapun harus berpisah Ia tak kan menolaknya dan tak akan menikah lagi jika Ia diceraikan.


Rasa sakit akan pengkhianatan membuatnya mati rasa dan membuat hatinya terkunci rapat.


"Apasih GaJe banget", sahut Lala ketus.


"Bagus kalau hubungan Kamu mulai membaik La. Aku do'akan semoga kedepannya pernikahan Kamu berjalan dengan baik dan normal seperti pasangan lain", ucap Pita tulus, terselip do'a untuk sahabatnya itu.


"Entahlah Ta. Kamu tahu sendiri Aku menikah tak pakai hati. Biarlah air mengalir seperti arusnya", jawab Lala.


"Cie... cie.... yang mau nikah sama Bapaknya Gara besok", goda Lala balik.

__ADS_1


"Apa sih La", giliran Pita yang cemberut.


Mereka pun menghentikan obrolannya dan segera memasuki area makam.


Pita dan Lala memilih berpisah menuju makam orangtua masing-masing. Pita membersihkan rumput-rumput liar pada tiga buah batu nisan di hadapannya. Lebih dari satu bulan Ia tak berkunjung kesana.


"Ayah....Ibu.... Pita besok mau menikah lagi. Bukan karena kami saling mencintai, tapi karena seorang bayi yang di tinggal pergi untuk selamanya oleh sang Ibu. Pita ingin memberinya kehidupan serta kasih sayang pada bayi itu", ucap Pita seolah sedang berbicara pada orangtuanya.


"Mika sayang.... maafin Ibu ya. Bukan Ibu tak sayang dan melupakan Mika. Ibu menikah dengan Ayah Gara agar Ia bisa merasakan memiliki orangtua yang utuh.


Selamanya Ibu akan mengingat Mika dan selalu mendo'akan Mika", ucap Pita sambil mengusap nisan kecil itu.


Tak jauh dari tempat Pita duduk ada seorang lelaki yang juga tengah duduk di hadapan sebuah nisan yang bertuliskan nama mantan istrinya.


"Maafkan Aku sayang. Aku meminta izin menikahi Ibu susu bayi itu. Ini kemauan Ibuku, Beliau memberiku pilihan sulit. Dan Aku memilih tak membiarkan semua usaha milik Ibu di atasnamakan bayi yang membuatmu meninggal. Aku tak rela kerja kerasku mengelola toko menjadi haknya.


Meski syaratnya Aku menikah dengan wanita itu", ucap lelaki yang tak lain adalah Aji, anak Bu Titin.


Baik Pita maupun Aji tak tahu jika mereka tengah berada di kawasan makam yang sama. Keduanya pun sama-sama belum pernah saling bertemu padahal mereka menikah besok pagi.


Sungguh aneh dan memang itulah kejadiannya. Semua di atur Bu Titin, mereka hanya perlu menghadiri acara akad besok.Tanpa saling bertemu maupun di kenalkan oleh Bu Titin secara langsung.

__ADS_1


*****......*****


__ADS_2