
"Udah sampe sini aja Mbak. Aku bisa kok naik atas sendiri", tolak Lala saat Bela hendak mengantarkannya ke apartemen milik suaminya.
"Nggak. Pokoknya kamu harus mau Aku antar sampai pintu apartemen. Aku yang udah buat Kamu kayak gini, jadi Aku harus pastiin Kamu langsung istirahat setelah sampai", ucap Bela tak ingin di bantah.
Mau tak mau Lala pun menurut, Bela benar-benar mengantarnya sampai Pintu apartemen dan memapahnya pelan-pelan. Padahal Lala bisa jalan sendiri dengan bantuan tongkat, tapi entah kenapa justru Bela kekeh memapahnya.
Bela membantu membuka pintu apartemen setelah Lala menekan angka passwordnya.
"Kamu tinggal sama siapa disini?", tanya Bela sambil membantu Lala hingga ke kamar.
"Sama suamiku Mbak", jujur Lala.
"Berdua aja", lanjut Bela.
"Iya Mbak", jawab Lala.
"Kamu ngurus apartemen Kamu sendirian?", tanya Bela lagi.
Dan Lala hanya mengangguk saja, karena merasakan kakinya tiba-tiba ngilu saat berbaring di ranjang.
"Kamu kenapa?", tanya Bela cemas melihat raut wajah Lala yang berubah.
"Ngilu Mbak", jujur Lala sambil meringis.
"Ya udah Kamu tiduran aja. Ini obatnya Aku simpan di nakas ya. Terus nanti karyawan Mbak akan ngirim makanan buat Kamu.
Kamu harus istirahat total sampai benar-benar sembuh. Dan selama Kamu sakit, jangan banyak bergerak. Aku akan kirim makanan untukmu setiap hari", perintah Bela tegas.
"Nggak usah Mbak. Masalah makanan gampang. Mbak nggak usah repot-repot ngirim makanan kesini", tolak Lala halus.
Lala sudah bersyukur Bela mau bertanggung jawab membiayai pengobatannya dan mengantarkannya hingga apartemen, bahkan membawa motornya ke bengkel dan melunasi biaya perbaikannya. Ia tak ingin membebani Bela, karena Ia tahu Wanita itu pun tak sengaja menyenggol motornya hingga oleng.
"Udah jangan protes. Pokoknya Aku bakal tetap kirim makanan kesini. Kamar kamu deket ruang tamu, jadi Aku rasa hanya kamu nggak akan kesusahan mengambilnya nanti. Lagian ada suami kamu juga kan, pasti Dia nggak akan biarkan kamu jalan. Biar Dia aja yang ngambil nanti", ucap Bela tegas, Ia memang orang yang tak suka di tolak.
__ADS_1
'Andai Kamu tahu Mbak. Mana peduli suamiku itu sama Aku. Dia aja sibuk sama pacarnya. Kita itu hanya sebatas orang asing yang tinggal dibawah atap yang sama dengan status pernikahan', batin Lala.
*****......*****
Awan pulang keapartemen usai Magrib, Ia bergegas mandi dan menunaikan Ibadah. Ingin rasanya Ia melaksanakan Ibadah berjama'ah dengan istrinya yang telah Ia nikahi lebih dari setengah tahun.
Namun karena egonya yang tinggi membuatnya enggan mengajak istrinya sholat bersama. Ia masih begitu membenci Lala karena memiliki kekasih sebelum mereka menikah. Padahal bukan salah Lala, toh mereka tak saling mengenal dan Awan pun tak pernah menyatakan cintanya. Lagipula Awan juga memiliki kekasih, bahkan hingga sekarang setelah menikah.
Awan heran kenapa apartemennya begitu sepi. Biasanya Lala sudah standby di depan TV menonton drama korea kesukaannya yang di tayangkan tiap hari. Kemana Dia? Ada yang kurang saat Ia tak bisa curi-curi pandang menatap wajah cantik istrinya itu.
Apa Dia sakit?......
Tiba-tiba Awan merasa cemas sendiri. Ia takut hal buruk terjadi pada Istri yang pura-pura Ia acuhkan itu.
Ting....tong...
Terdengar suara bel apartemennya berbunyi. Membuat Awan penasaran siapa yang datang.
Awan hanya mengernyitkan dahi saat ada seorang karyawan Resto mengirimkan makanan. Padahal Ia tak merasa memesannya, Ia pun tahu Istrinya selalu memasak tak mungkinkan Ia pesan makanan.
Karyawan tadi pun segera pergi tanpa menunggu sang pemilik Apartemen mengucapkan sepatah kata. Begitulah pesan Bosnya. Serahkan makanan, sampaikan pesan darinya kemudian segera pergi agar tak di kembalikan makanannya.
Awan hanya mematung, Ia sibuk mencerna ucapan karyaaan Resto yang sudah menghilang di balik pintu Lift.
Siapa Ibu Bela?
Kenapa mengirim makanan untk Lala?
Jangan lupa minum obat....
Memangnya obat apa?
Apakah Lala sakit?
__ADS_1
Daripada Ia penasaran Ia pun mengetuk pintu kamar Lala dan segera masuk setelah di persilahkan. Ia pun meletakkan makanan tadi di nakas samping tempat tidur Lala. Disana Ia melihat ada kantung bertuliskan nama sebuah Rumah sakit.
"Ada apa?", tanya Lala, tak biasanya Awan masuk ke kamarnya.
"Ehm, ini ada kiriman makanan dari Bu Bela katanya", ucap Awan canggung.
"Oh Ok. Terimakasih sudah repot-repot mengantarnya kesini. Nanti Aku makan", jawab Lala.
"Ehm.... ada pesan katanya kamu jangan lupa minum obat. Dan kalau makanannya kurang suka suruh kirim pesan biar nanti di ganti", ucap Awan masih canggung, baru kali ini masuk kamar Lala dan sedikit berbincang dengannya.
"Iya", jawab Lala singkat Ia malas berbincang dengan Awan.
Awan pun merasa sangat canggung dan hendak keluar tapi Ia terkejut saat Lala membuka selimut hendak turun ranjang dan Ia melihat salah satu kakinya di balut kain elastis.
Melihat ekspresi Awan yang seolah berkata 'Kenapa kakinya?', membuat Lala langsung menjawabnya.
"Kakiku terkilir, tadi keserempet mobil. Mbak bela orang yang nyenggol Aku tadi", jelas Lala.
"Diam disitu. Aku ambilkan makanannya", perintah Awan.
Dan segera membuka paperbag dan membuka kotak bekal makan susun dua dan membukanya salah satu. Kemudian menyodorkan satu suapan untuk Lala, hal itu berhasil membuatnya melongo.
"Udah tinggal mangap aja apa susahnya sih", ucap Awan karena Lala tak kunjung menerima suapannya.
Lala pun akhirnya menerima suapan itu.
"Siniin makanannya. Tanganku masih bisa untuk makan, yang sakit cuma kaki", ucap Lala sambil berusaha meraih sendok dari Awan.
"Udah diam saja. Jarang-jarang Aku baik", jawab Awan.
Lala memilih menurut, tubuhnya terasa sakit mungkin efek jatuh membuatnya lemas dan malas berdebat.
'Kesambet apaan Dia? tiba-tiba perhatian padaku', ucap Lala dalam hati.
__ADS_1
*****..........*****