Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
18. Harus Apa?


__ADS_3

Lala rasanya sudah muak akan drama yang Ia hadapi saat ini. Ia sudah tak tahan untuk menangis, tapi sengaja Ia tahan hingga Tante dan sepupunya itu pergi. Ia tak ingin terlihat memprihatinkan di hadapan mereka.


"La. Ini Tante punya sedikit uang", ucap Tantenya.


Lala menolehnya dengan ragu, Ia takut Mereka hanya memanfaatkannya setelah Ia menerima uang mereka.


Seakan tahu keraguan keponakan dari pihak suaminya itu, Ia pun kembali membuka suara.


"Ini rekening yang Tante buat sendiri tanpa sepengetahuan Om kamu Dan untuk ATM pinnya tanggal lahir Lita", lanjut Tantenya itu.


"Tolong terima.Setidaknya ini mengurangi rasa bersalah Tante, meski tak seberapa. Tapi ini bisa kamu gunakan untuk kedepannya Sayang", ucap Tante Rani sambil menyodorkan buku rekening beserta ATM nya.


Tanpa sepatah kata pun Lala menerima barang tersebut, dan wajahnya nampak datar tanpa ekspresi apapun.


Lita pun akhirnya ingin berbicara, Ia sungguh menyesal dengan mudahnya terpikat oleh pesona Dewa tanpa mencari tahu siapa lelaki itu terlebih dahulu. Ia yang telah di butakan oleh bujuk rayu Dewa, hingga dengan suka rela mau menyerahkan diri saat di ajak tidur bersama.


Dan kini setelah Ia terlanjur hamil, Ia baru tahu kekasihnya itu adalah kekasih Kakak sepupunya. Sungguh Ia tak ingin dalam posisi pelakor di hubungan Kakak sepupu yang begitu menyayanginya itu.

__ADS_1


Tapi......


Saat ini Lita pun membutuhkan Dewa untuk menikahinya, agar anaknya kelak memiliki orangtua lengkap saat terlahir ke dunia.


"Maafin Lita Kak. Aku benar-benar tak tahu jika Mas Dewa sudah bersama Kakak sebelum mengenalku. Dia pun mengatakan tak punya pacar dan Aku dengan bodohnya percaya begitu saja", lirih Lita di sela isak tangisnya.


Lita pun mengambil sesuatu dari tas ranselnya. Sebuah benda berbentuk kucing, ya... itu adalah sebuah celengan.


"Kak.... tolong ambil ini. Aku nabung dari SMP untuk masuk kuliah di universitas terbaik. Tapi sekarang impian itu sudah kandas. Aku akan menjadi seorang Ibu bahkan sebelum lulus SMA. Dan terpaksa putus sekolah.


Tabunganku ini untuk Kakak. Meski ini tak mampu menyembuhkan rasa kecewa Kakak padaku.


Tapi.....


Lala pun kembali menerimanya tanpa berucap. Ia tak mau mengedepankan gengsinya. Ia berpikir realistis saja, saat ini Ia butuh uang untuk bertahan hidup. Hanya mobil satu-satunya harta yang Ia miliki, dan Ia tak mungkin menjualnya karena itu satu-satunya alat yang Ia gunakan untuk bepergian.


Lala menyesal dulu tak pernah mau dibelikan perhiasan. Seandainya dulu Ia tak pernah menolak, setidaknya ada yang bisa Ia jual sekarang. Ia bukan tipe pemburu barang-barang branded meski dari keluarga berada, tak heran Ia tak memiliki barang-barang mewah.

__ADS_1


Ada barang branded yang Ia punya, yaitu jam tangan limited edition hadiah ulangtahunnya beberapa bulan yang lalu. Tapi, bagi Lala itu adalah benda yang sangat berharga, karena itu adalah pemberian terakhir dari orangtuanya sebelum mereka meninggal dunia.


"La... Tante dan Lita pamit ya. Kami takut ketahuan Om Kamu karena sudah kesini", pamit Tante Rani setelah mendapat pesan singkat dari suaminya.


Tante memeluk Lala erat, Ia sedih melihat keponakannya saat ini. Tapi Ia pun tak bisa berbuat apapun karena hidupnya hanya bergantung pada suaminya.


"Tante yakin kamu bisa menghadapi semuanya. Sabar ya Sayang, Tante akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Dan semoga Tuhan melindungimu dimanapun ku berada", ucap Tante Rani tulus


Lala lagi-lagi hanya terdiam saat Tante dan adiknya itu berpamitan. Ia hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Sepeninggal kedua orang itu, Lala memilih masuk ke kamarnya.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Ia pun mendudukkan tubuhnya di belakang pintu. Airmata yang sedari tadi tak keluar kini mengalir dengan derasnya.


Ia ingin mengadu.... Tapi pada siapa? Pita satu-satunya sahabat terbaiknya tengah mengalami morning sickness parah. Ia hanya tidur seharian, apakah tega Ia ingin berkeluh kesah.


Satu-satunya harapan yang Ia punya untuk memiliki rumah ini adalah menikah. Dan lagi-lagi harapan itu pun hanya tinggal harapan. Ia tak mungkin menikah dengan Dewa yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya tanpa alasan. Dan ternyata alasannya adalah karena menghamili adik sepupunya sendiri.


Sungguh miris nasibnya saat ini, tak memiliki orang tua, harta benda, kekasih dan apakah harus kehilangan rumah.

__ADS_1


Sekarang Ia harus apa?????.......


******.........******


__ADS_2