Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
16. Pelangi Usai Badai


__ADS_3

"Maafkan Om La. Om juga nggak tahu bisa seperti ini. Kapan dan dimana Papamu menandatanganinya Om tidak tahu. Yang jelas tanda tangan Papamu asli dan surat itu sah di mata hukum tiada cacat sekalipun.Sepertinya ada salah satu tim Om yang berkhianat.


Tapi setidaknya mobil dan rumah ini sudah atas namamu. Jadi tak bisa di ambil oleh Heri. Hanya saja untuk rumah ini belum sepenuhnya menjadi milik kamu. Karena syaratnya kamu harus menikah terlebih dulu, baru rumah ini bisa menjadi milikmu sepenugnya", jelas Om Edi, pengacara Almarhum Papa Lala.


Deg......


Lala cukup terkejut saat Pengacara Papanya itu datang ke rumah dan mengatakan ada hal penting.


'Sudah jatuh, tertimpa tangga' mungkin itu pepatah yang tepat untuk keadaan Lala saat ini. Baru saja kehilangan orang tua sekarang harus kehilangan harta benda milik orangtuanya.


Ia masih dalam suasana duka setelah di tinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kedua orangtuanya. Dan kini Ia harus kembali mendapatkan kenyataan pahit bahwa seluruh aset perusahaan yang orangtuanya bangun dari nol di ambil paksa dan sudah menjadi hak milik Om Heri, adik kandung Papanya.


Terjawab sudah alasan Omnya tak hadir saat orangtuanya di kebumikan. Rupanya Ia tengah sibuk mengurus harta orangtuanya untuk di ambil alih.


Dan ada kemungkinan kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya memang sudah di rencanakan. Ia tahu betul Ayah Pita selalu rajin menservis mobil, tak mungkin ada kerusakan pada mobil seperti yang polisi sampaikan. Terlebih kata polisi sang supir dalam kondisi mengantuk, tapi Ia tahu Ayah Pita memilih istirahat terlebih dulu jika mengantuk. Atau terkadang Papanya menggantikan menyetir saat Ayah Pita lelah.


Dan kecurigaan Lala semakin besar saat Dokter mengatakan hasil otopsi sang sopir terdapat obat tidur dalam dosis tinggi. Jelas hal yang tak masuk akal bukan, bagaimana Ayah Pita mengonsumsi obat tidur saat tahu akan menyetir mobil.

__ADS_1


Sayangnya Ia tak memiliki apapun sekarang, Ia tak bisa mengusut kematian orangtuanya jika tak memiliki uang. Terlebih Omnya sengaja meminta polisi untuk tak mengusutnya, dengan alasan keluarga sudah menerima kepergian mereka. Lala pun harus mengikhlaskannya, dan hanya bisa mendo'akan mereka. Mungkin ini memang takdirnya.


"Menikah Om?", tanya Lala ragu.


"Iya. Itu sesuai yang di sebutkan oleh Almarhum Papamu. Jika kamu tak menikah dalam waktu dekat, bisa jadi Heri yang serakah itu akan merebutnya dengan cara apapun", tegas Om Edi.


"Baik Om. Akan saya sampaikan pada kekasih Saya", jawab Lala pada akhirnya.


Om Edi pun segera pamit dari kediaman keluarga Pramono.


Harapan Lala satu-satunya hanya pada Dewa, Kekasihnya yang mengatakan tengah sibuk di luar kota itu. Ia berharap sang Pacar sudah bisa dihubungi setelah beberapa hari yang lalu mengatakan lokasinya bekerja susah signal.


Baru saja Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Dewa. Terdapat panggilan masuk.


Nama 'Pita' tertera disana, senyum nampak di bibir Lala saat sang sahabat menghubunginya.


Terdengar salam dari seberang, dan segera Lala balas. Namun setelahnya justru isak tangis yang terdengar disana.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ta?", tanya Lala panik.


"Aku hamil La", jawab Pita.


"Hamil??", beo Lala, Ia sempat tertegun sejenak.


"Lhoh.... itu bagus dong, kok malah nangis", tanya Lala heran.


"Aku nggak tahu harus sedih atau seneng La. Dia hadir saat calon Kakek dan Neneknya sudah pergi. Harusnya Ayah dan Ibu lihat Aku hamil calon cucu mereka. Tapi mereka udah pergi La", ucap Pita sedih dan kembali terisak.


"Sssstttttt..... udah jangan nangis. Kasian baby kamu. Ibu hamil nggak boleh nangis dan sedih-sedihan, kamu harus selalu bahagia. Mungkin ini cara Tuhan untuk membuatmu tak larut dalam kesedihan. Ada nyawa yang harus kamu sayangi meski baru saja ditinggal orang yang kamu sayangi.


Akan ada pelangi setelah hujan, jadi kita harus selalu berbaik sangka pada Tuhan. Rencana Tuhan pasti yang terbaik", nasehat Lala.


Setelah Pita tenang perbincangan melalui ponsel antara dua sahabat pun usai. Lala tak menyangka Ia dan sahabatnya menjadi yatim piatu di waktu bersamaan, dan sahabatnya itu sudah akan menjadi Ibu. Dan Ia pun tak sabar memberitahukan rencana pernikahannya pada Dewa.


Sungguh rencana Tuhan tak bisa di tebak. Dibalik kesedihan karena musibah kematian ini ada kebahagiaan bagi Pita karena akan menjadi seorang Ibu muda. Sementara bagi Lala, meski harus kehilangan orang tua dan harta benda setidaknya Ia tak kehilangan orang yang di cintainya. Ia akan segera bersatu dengan Dewa dalam ikatan pernikahan.

__ADS_1


Sungguh akan ada pelangi seusai badai menerjang. Ada kebahagiaan di setiap akhir dari musibah.


******........******


__ADS_2