Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
79. Penyesalan


__ADS_3

"Aku baru saja di tipu La, Aku menginvestasikan semua uangku ternyata perusahaan fiktif dan uangku terlanjur dibawa kabur semua.


Aku tak punya apa-apa sekarang La. Tolong kasihani Aku.


Maafkan Aku yang berbuat salah padamu dulu. Maaf akan kekhilafanku dulu", ucap Dewa masih memohon.


Awan yang berniat menjemput istrinya itu menjadi geram saat melihat kehadiran Dewa yang tengah berlutut di hadapan Lala, Istrinya.


Sungguh Awan merasa membencinya meski Ia tak mengenal laki-laki itu. Bagaimana tidak, demi harta Ia memacari Lala. Dan setelah tahu Perusahaan sempat diambil oleh Om Heri paman sekaligus Ayah Lita, sepupu Lala. Ia mencampakkan Lala begitu saja.


Bahkan dengan tega merusak Lita yang masih kelas 2 SMA hingga hamil dan terpaksa putus sekolah. Dan lagi-lagi Lelaki bernama Dewa itu menceraikan perempuan belia diwaktu hamil muda setelah mengubah hak milik perusahaan menjadi namanya.


Sayangnya Dewa bodoh, Ia tak bisa bekerja kantoran apalagi mengelola perusahaan dan justru memilih mempercayakan perusahaan itu pada orang yang salah.


Perusahaan milik Lala berakhir diambang kebangkrutan karena orang kepercayaan Dewa. Uang perusahaan di korupsi dan uang gaji karyawanpun selalu dipotong tiap bulannya dengan berbagai alasan.


Dan sekarang orang yang bertanggung jawab akan luka yang di derita Lala datang memohon-mohon untuk di kasihani. Sungguh tak tahu malu, dulu saja tak mencoba meminta maaf, giliran menderita baru mengemis kata maaf.


Awan bisa tahu semuanya karena Ia selalu mengawasi orang yang berada di sekeliling Lala, termasuk Dewa. Dan akhir-akhir ini Ia membantu sang Istri menyelidiki tentang perusahaan. Kebetulan teman SMAnya dulu ada yang bekerja disana. Sehingga mudahlah Ia mencari para tikus perusahaan.

__ADS_1


"Pergi dari sini Kamu. Harusnya Kamu bersyukur tidak Lala masukkan ke penjara bersama orang-orangmu itu.


Jadi jika ingin aman, berhenti muncul dari hadapan Kami terutama Istriku.


Sekali lagi berani menampakkan diri, jeruji besi menantimu", ancam Awan.


Dewa hanya berdecak sebal, rencananya mendekati Lala terganggu dengan kedatangan Awan.


Dengan langkah gontai Dewa memilih pergi dari rumah Lala itu. Dan Awan memilih membawa Lala dalam dekapannya. Ia tahu Istrinya tengah menahan emosi, terlihat dari nafasnya yang tak beraturan.


Bulan kemarin tekanan darah Lala naik dan harus mengontrol emosinya, tapi kedatangan Dewa seolah pemicu emosi Lala semakin tinggi. Jika tak di hentikan maka tekanan darahnya akan kembali naik dan itu tak bagus untuk kehamilan Lala. Untung saja Awan datang tepat waktu.


Para pelayat membludak di kediaman Orangtua Adi, Mamanya terpaksa duduk di kursi roda karena kondisinya yang lemah. Hingga waktunya dimakamkan, Adi tak kunjung hadir.


Terpaksa Jenazah segera dikebumikan tanpa menunggu kedatangan Adi. Papanya Adi di makamkan di pemakaman yang sama dengan orangtua Pita, karena itu permintaan Beliau. Agar dekat dengan besan dan cucunya.


Semua pulang setelah jenazah selesai dimakamkan, dan Pita memilih berkunjung kemakam kedua orangtuanya dan sang Putri, tentu di temani suaminya. Ia harus kembali ke Desa, Ia tak bisa ikut tahlilan karena tak ingin bertemu Adi lagi.


"Bapak....Ibu.... Mika.... Papa telah berpulang. Dan Beliau meminta dimakamkan disini di dekat kalian.

__ADS_1


Pita pamit, mungkin akan lama lagi untuk berkunjung. Pita harus kembali lagi ke Desa", ucap Pita dihadapan makam orangtuanya baru kemudian pulang ke rumah sewa milik Ndaru untuk bersiap-siap pulang.


Adi merasa hancur saat melihat karangan bunga Turut Berduka Cita berdatangan di kantornya. Ia tak menyangka kepulangannya kerumah orangtuanya adalah pertemuan terakhir dengan sang Papa. Dan Ia mengamuk disana melupakan penyakit yang Papa derita.


Bahkan di detik-detik terakhir Ia tak mendampingi Papanya saat sakit hingga di makamkan.


Adi merasa sangat menyesal dan merasa tak berguna. Ia baru pulang dari luar kota dan sengaja menonaktifkan ponsel. Ia juga meminta asistennya mengabaikan keluarganya yang menghubunginya melalui perusahaan.


Kini dihadapan pusara Papanya Adi hanya bisa menangis pilu. Meratapi banyaknya kesalahan yang Ia buat. Ia hanya bisa merasakan penyesalan yang teramat dalam.


"Pa.... Maafkan Aku. Adi anak yang tak berguna. Adi tak ada disisi Papa bahkan saat Papa dimakamkan.


Maafkan Adi yang sempat marah dan mengamuk pada Papa. Andai hari itu Adi tak datang, Papa pasti masih sehat sekarang", ucap Adi disela tangisnya.


Penyesalan terbesar seorang anak adalah disaat tak bisa melihat kepergian orangtuanya, tak mamandikannya seperti Ia yang pernah di mandikan diwaktu kecil, bahkan tak mengangkatnya menuju tempat peristirahatan yang terakhir.


Adi sudah tak punya muka lagi dihadapan Mama serta Adik-adiknya. Mungkin mereka akan membencinya.


*****......*****

__ADS_1


__ADS_2